Memelihara Zero Konflik di Sumsel

Dr Ismail Sukardi MAg
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah

Dalam berbagai kesempatan sering disampaikan penyataan bahwa Sumatera Selatan (Sumsel) adalah salah satu wilayah zero konflik di Indonesia, meskipun provinsi ini didiami oleh masyarakat multietnik dan multireligius. Itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa Sumatera Selatan sering dipilih menjadi tempat penyelenggaraan berbagi event penting baik yang berskala nasional maupun internasional, di samping alasan-alasan lain misalnya dari segi kesiapan infrastruktur dan sarana-prasarana. Fakta ini tentu merupakan sebuah keberkahan bagi provinsi ini dan oleh karena itu perlu terus dipelihara dan dipertahankan.

Signifikansi Zero Konflik
Wilayah zero konflik sangat penting. Alasannya antara lain: pertama, dari aspek ekonomi zero konflik tentu menguntungkan karena akan mengundang para investor untuk berinvestasi ke Provinsi Sumatera Selatan. Selain potensi alam dan sumber daya ekonomi serta regulasi, keamanan sebuah wilayah tentu menjadi pertimbangan penting para pebisnis sebelum mereka menanamkan investasinya di suatu wilayah.Para investor tentu tidak mau mengambil risiko mempertaruhkan nasib bisnis mereka di sebuah wilayah yang rawan konflik meskipun kondisi wilayah itu secara ekonomi menjanjikan.
Kedua, wilayah zero konflik juga merupakan atempat (venue) yang sangat ideal untuk mengadakan berbagai kegiatan baik dalam skala nasional maupun internasional. Faktanya Sumsel sering dijadikan venue untuk berbagai kegiatan nasional dan internasional dalam berbagai bidang (pendidikan, kesehatan, ekonomi, seni-budaya, olahraga, dansebagainya). Sumsel saat ini telah menjadi kota event. Dalam bidang olahraga, misalnya, setelah sukses menyelenggarakan Sea games dan Islamic Solidarity Games, Sumsel akan menjadi venue kedua (selain Jakarta) untuk perhelatan olahraga bergengsi Asian Games. Inisebuahprestasiluarbiasa.
Ketiga, wilayah zero konflk juga merupakan destinasi wisata atau traveling yang ideal bagi para pelancong. Selain keindahan alam atau pesona-pesona yang lainnya (budaya, sejarah, dansebagainya), jaminan keamanan di suatu daerah tujuan wisata menjadi pertimbangan penting. Dalam tiga tahun terakhir Sumsel dikunjungi lebih dari 1000 wisatawan mancanegara setiap tahun.
Keempat, wilayah zero konflik akan sangat kondusif bagi penyelenggaraan atau proses pembangunan berbagai aspek di suatu daerah. Bagaimana mungkin pemerintah daerah dapat menyelenggarakan dengan baik pembangunan dalam berbagai bidang (politik, ekonomi sosial, dan pendidikan, dan sebagainya) jika daerah itu tidak stabil dan terus-menerus dilanda konfik baik horizontal maupun vertikal.Dari aspek pembangunan fisik, tigatahun terakhir Sumsel terus menggenjot pembangunan infrastruktur. Mulai dari perluasan bandara, jalan tol, jembatan Musi, stadion olahraga, sampai dengan lintasan LRT. Semua ini tidak mungkin terlaksana jika kondisi keamanan Sumsel tidak kondusif.

Baca Juga :  Investor Sumsel Wait and See

MemahamiAkar Konflik
Mempertimbangkan berbagai aspek keuntungan di atas maka sangat wajar jika kondisi zero konflik harus terus kita jaga dan pelihara. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengkalkulasi resiko danpotensi konflik di Sumatera Selatan dengan memahami akar-akar atau penyebab yang akan memicu suatu konflik. Berkaca kepada realitas konflik di berbagai wilayah di Indonesia dan dunia pada umumnya konflik dapat terjadi secara vertikal maupun horizontal. Konflik vertikal yaitu konflik antara masyarakatatau komunitas dengan pemerintah atau rezim yang berkuasa. Hal ini terutamadisebabkan berbagai kebijakan yang tidak mengakomodir kepentingan rakyat banyak atau bahkan dinilai tidak adil.Kebijakan dimaksud dapat bersifat ekonomis, politis, dan sebagainya. Maraknya demo yang berujung pada kekerasan di beberapa tempat karena soal regulasi (misalnya soal upah buruh, taksi online,kenaikan BBM danhargakebutuhanpokok,penggusuran, dan lain-lain) adalah sedikit contoh yang dapat disebutkan. Adapaun konflik horizontal adalah konflik yang terjadi di antara warga masyarakat. Akar masalahnya dapat berupa kesalahpahamandankesenjanganperbedaanantar suku, agama maupun ras. Konflikantarsuku di beberapawilayah di Indonesia pernahterjadi.Konflik horizontal maupun vertikal juga dapat terjadi karena kesenjangan ekonomi maupun sosial.

Memelihara ZeroKonflik
Ada berbagai strategi yang dapat ditempuh untuk mempertahankan zero konflik di Sumatera Selatan. Pertama, menjaga agar berbagai kebijakan pemerintah daerah sejalan dengan aspirasi warga masyarakat. Apapun kebijakan yang diproduksi oleh pemerintah dan legislatif perlu memperhatikan kebutuhan warga masyarakatnya. Maka pelibatan masyarakat dalam produksi kebijakan sangat penting.
Kedua, memperkecil kesenjangan, khususnya ekonomi. Kesenjangan dapat lahir dari kebijakan yang tidak berpihak pada rasa keadilan maupun karena disparitas pendapatan di tengah masyarakat. Dari aspek ini tampaknya pemerintah provinsi maupun kabupaten kota sudah berupaya optimal mensejahterakan masyarakatnya melalui berbagai program pembangunan di bidang ekonomi, pangan, perkebunan, dan pendidikan. Akan tetapi di beberapa tempat masih perlu di waspadai potensi konflik yang diakibatkan sengketa kepemilikan tanah antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat.
Ketiga, meningkatkan kesadaran akan kemajemukan pada diri masyarakat Sumsel. Masyarakat perlu terus diedukasi bahwa secara kodrati mereka diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan segala macam karakteristik yang berbeda. Karena itu diperlukan kesadaran dan sikap saling menghargai satu sama lain.
Keempat, meningkatkan kerukunan antar umat beragama yang berbeda.Kerukunan umat beragama dapat diartikan sebagai kondisi kehidupan yang mencerminkan suasana damai, tertib, tentram, sejahtera, saling menghormati dan menghargai, dan tenggang rasa antara pemeluk agama yang satu dengan yang lain. Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) Sumatera Selatan selama ini telah menunjukkan peran strategisnya, antara lain dalam bentuk dialog antar umat beragama. Peran ini tentu harus terus dilakukan dan bahkan ditingkatkan.
Kelima, meningkatkan kerukunan antara suku dan ras. Selama ini provinsi Sumatera Selatan, khususnya di wilayah perkotaan, di diami oleh warga yang berasal dari beragam suku dan ras. Interaksi antar suku dan ras di provinsi ini selama ini relatif baik meskipun terkesan masih ada sekat-sekat, misalnya dalam bentuk kesenjangan dan kompetisi ekonomi. Kedepan kerukunan antar suku, khususnya antar ras yang berbeda, perlu diupayakan lebih substantif, misalnya dalam bentuk komunikasi dan dialog yang lebih intensif, kerjasama dan kerja bersama dalam berbagai hal, misalnya dalam bentuk aksi-aksi kepedulian sosial bersama.
Keenam, meningkatan kerukunan dan saling pengertian dalam satu agama. Meskipun menganut agama yang sama tidak jarang konflik terjadi karena perbedaan dalam memahami teks ajaran agama. Di antara sesama pemeluk Islam misalnya ada perbedaan penafsiran ajaran agama yang melahirkan perbedaan mazhab fikih misalnya. Perbedaan ini bahkan dilembagakan dalambentuk organisasi yang beragam pula. Perbedaan semacam Ini harus dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan kerawanan. Perbedaan dalam soal furu’iyah fikih semestinya telah lama selesai karena semua mazhab punya argumentasidan dalil. Jangan sampai waktu dan energi kita habis hanya untuk menyelesaikan soal-soalyang tidak prinsip seperti itu. Di Sumsel soal beda dalam tata cara ibadah yang terkristalisasi dalam istilah kaumtuo dan kaummudo misalnya, telah lama selesai, jauh sebelum Indonesia mereka.Karena itu jika masalah furu’iyah ini muncul kembali di era milenial ini, jelas ini merupakan sebuah kemunduran. Demikianlah beberapa sumbangan pemikiran yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. (*)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!