Mempertajam Moralitas Kehidupan Generasi Milenial

Menyaksikan tayangan televisi di Indonesia saat ini, ada banyak hal yang menjadi bahan keprihatinan. Misalnya, pada film-film animasi, sering ada tindakan penyensoran terhadap bagian-bagian tubuh karena dinilai bernuansa pornografi. Sementara di tempat lain, penyensoran terkesan absen pada acara-acara hiburan. Seperti dangdut, di mana sang penyanyi berpenampilan seksi.
Kondisi di atas merupakan salah satu topik yang muncul di dalam seminar ilmiah “Pendidikan Seks dan Karakter Anak Milenium” beberapa waktu lalu. Menanggapi hal ini, Doni Koesoema, M.Ed selaku narasumber berpendapat, sebetulnya Indonesia masih butuh orang-orang yang berkualitas dalam bidang sensor film/acara televisi. Fenomena tersebut memang terjadi dan harus menjadi bahan evaluasi lembaga terkait untuk menentukan tindakan yang tepat dalam proses sensor.
Sebenarnya, proses sensor terkuat itu ada dalam diri masing-masing pribadi. Filter moral menjadi pertahanan utama dalam menilai dan mengambil keputusan terhadap aneka tayangan yang disajikan. Sebab, agak sulit membuat parameter bersama untuk hal-hal yang sifatnya subyektif personal berkaitan dengan acara televisi.
Generasi Milenial dan Media Sosial
Generasi milenial, istilah bagi anak-anak yang lahir pada tahun 2000an, saat ini terkondisi sejak kecil sudah mengenal gawai, internet, laptop, ponsel, dll. Intinya, dunia teknologi, informasi dan komunikasi sudah menjadi bagian hidup mereka sejak dini.
Ada banyak dampak yang muncul dari kondisi ini. Sisi positifnya, perhatian dan kepedulian terhadap peristiwa yang terjadi atas dunia dapat terfasilitasi dengan cepat. Aneka informasi untuk pengembangan potensi dan minat pun dapat diperoleh dan dipelajari secara pribadi dan mandiri.
Di luar itu, ternyata ada bahaya mengancam akibat sisi negatif dari kondisi digital native generasi milenial. Tidak sedikit orang yang menggunakan internet dan media sosial secara salah, bahkan mengarah pada tindak kriminal. Ini terjadi karena dipicu oleh sikap kurang bijak dan hati-hati dari generasi milenial itu sendiri.
Media sosial sering menjadi sarana laporan untuk setiap kegiatan yang dilakukan, bahkan dilengkapi dengan foto-foto. Aneka situasi dan pengalaman batin pun dapat dituliskan di media sosial. Situasi ini sering dimanfaatkan secara negatif oleh oknum-oknum yang hendak mengambil keuntungan, dan tidak sedikit yang mengarah pada tindak kejahatan.
Dunia maya memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi dengan siapa pun tanpa pernah melihat dan bertemu dengan orangnya. Untuk itu, generasi milenial dituntut memiliki perlindungan diri, baik secara pribadi maupun bersama. Cara praktis yang dapat dilakukan yaitu dengan membatasi informasi yang diunggah ke media sosial, terutama yang isi bersifat pribadi dan dapat memancing niat jahat orang lain. Sebab, banyak hal dapat dimanipulasi lewat media sosial.
Upaya preventif dalam mengatasi hal negatif akibat media sosial adalah dengan menggunakannya secara bijak dan hati-hati. Setiap individu haru selalu menyadari bahwa media sosial itu hanyalah alat untuk berkomunikasi. Namun faktanya, saat ini justru sudah menjadi bagian hidup kita. Di sinilah perlunya kembali untuk berkonsentrasi pada nilai-nilai utama yang ada dalam bagian hidup kita.
Peran Keluarga dan Sekolah
Tindakan preventif untuk menangkal dampak negatif penggunaan media sosial juga harus melibatkan banyak pihak. Peran keluarga dan sekolah juga tidak boleh diabaikan. Kecenderungannya saat ini, anak-anak sudah dibekali gawai oleh orang tuanya dengan berbagai alasan. Namun, di saat yang sama, pengawasan dan kendali dalam penggunaannya sering dilalaikan. Untuk itu, orang tua wajib ikut ambil bagian dalam perkembangan gaya hidup anak-anak saat ini.
Sekolah sebagai rumah kedua bagi anak-anak juga tidak boleh lalai terhadap situasi ini. Penggunaan teknologi, informasi, sarana komunikasi harus diarahkan untuk hal-hal yang bermanfaat, misalnya sebagai media dan teknik pembelajaran. Untuk itu, para pendidik pun dituntut memiliki kemampuan yang memadai dalam bidang serupa.
Sinergi antara keluarga dan sekolah pun dapat menjadi jalan yang baik dalam upaya pembentukan dan pembinaan hidup anak-anak saat ini. Sebab, sering terjadi “pengandaian” dari masing-masing pihak. Keluarga mengandaikan anaknya mendapatkan pendidikan dan pengawasan yang baik dari sekolah. Sebaliknya, sekolah mengandaikan muridnya sudah mendapat perhatian yang baik dari keluarganya.
Berawal dari keluarga dan sekolah yang penuh perhatian, anak-anak milenial akan menjadi pribadi yang punya karakter kuat. Hal ini dapat diperluas lingkupnya untuk mempertajam moralitas kehidupan mereka. Setidaknya, inilah bentuk kecil dari peran aktif sebagai warga Negara dalam mewujudkan Generasi Emas 2045. (**)

Baca Juga :  Pendidikan Karakter Siswa Zaman Now

Oleh: A. Kristiawan S.Ag
Guru SMA Xaverius 4 Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!