Menabung Pahala dengan Berpuasa

Menahan hawa nafsu untuk makan dan minum merupakan salah satu pengertian dari puasa loh gaes. Menghitung hari mendekati bulan Ramadhan ada baiknya untuk kita sebagai umat Islam melatih diri dengan melakukan puasa sunnah. Puasa sunnah hakikatnya bertujuan untuk melengkapi kekurangan amalan wajib.
As we know gaes, puasa sunnah juga dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun). Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. puasa yang dalam pelaksanaannya tidak diwajibkan, akan tetapi sangat dianjurkan dan waktu pelaksanaannya juga pada waktu-waktu yang tertentu. Namun ada juga puasa sunnah yang dapat dilakukan pada waktu kapan saja.
Prinsip Puasa Sunnah, yaitu tidak boleh berpuasa secara berturut-turut tanpa berbuka sama sekali. Selain itu, pahala puasa juga hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Allah berfirman, ‘setiap amal anak Adam itu untuknya sendiri selain puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku’. (dalam satu riwayat, ‘Tiap-tiap amalan memiliki kafarat. Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku yang membalasnya’)” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Sebagaimana jenis ibadah lainnya maka puasa haruslah didasari niat yang benar yakni beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata-mata serta dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” tutur Ustadz Dodi.
Secara Syar’i makna puasa adalah “menahan diri dari makan, minum dan jima’ serta segala sesuatu yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala”. Maka jika seseorang menahan diri dari makan dan minum tidak sebagaimana pengertian di atas atau menyelisihi dari apa yang menjadi tuntunan Rasulullah saw. “Maka tentu saja ini merupakan hal yang menyimpang dari syariat, termasuk perbuatan yang sia-sia dan bahkan bisa jadi mendatangkan kemurkaan Allah.” Lanjutnya.
Nah gaes, penyimpangan yang bisa terjadi dalam berpuasa diantaranya karena niat tidak untuk Allah dan menyelisihi tata cara Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Dodi menjelaskan banyak kasus yang ditemukan untuk penyimpangan-penyimpangan ini, “Misal seseorang yang berpuasa karena hendak mendapatkan bantuan dari jin/syaitan berupa sihir atau yang lainnya, atau bernadzar puasa kepada selain Allah, maka perbuatan ini termasuk kesyirikan yang besar karena memalingkan ibadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun seseorang yang berpuasa semata-mata karena alasan kesehatan, walaupun hal ini boleh-boleh saja akan tetapi ia keluar dari pengertian puasa yang syar’i sehingga tidaklah ia termasuk orang yang mendapatkan keutamaan puasa sebagaimana yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala.” Jelas Dodi.
Nggak hanya itu gaes, mengkhususkan tata cara tertentu yang tidak dituntunkan oleh seperti puasa mutih (sengaja menghindari makan daging atau yang lainnya), puasa sehari semalam tanpa tidur atau tanpa berbicara dengan menganggap hal ini memiliki keutamaan dan yang lainnya.
Mengkhususkan waktu tertentu yang tidak dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal mengkhususkan puasa pada hari atau bulan tertentu tanpa dalil dari al-Qur’an dan sunnah, ataupun mengkhususkan jumlah hari yang tidak dikhususkan dalam syariat.
Maka seyogyanya kaum muslimin menahan diri dari beribadah tanpa dasar ilmu atau tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.” (HR. Muslim). Nah gimana, perbaiki niat dan tujuan ya gaes saat pelaksanaannya. Sehingga tidak menimbulkan mudhorat yang lebih besar lagi (dab/dsn)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!