Mengedan BAK, Mungkin Fimosis

PERIKSA: Sebaiknya periksa alat kelamin (genital) jika buang air kecil mengedan, waspada terkena fimosis. Foto: JPNN

KELAINAN alat kelamin (genital) pada anak merupakan sesuatu yang mudah dilihat, diraba, dan diobservasi dengan kedua mata. Khususnya kasus kelainan genital pada anak laki-laki.
Menurut Spesialis urologi Siloam Hospitals Asri Dr dr Irfan Wahyudi SpU (K), umumnya kelainan terbagi menjadi dua jenis, yaitu kelainan pada penis dan buah zakar. Untuk kelainan pada penis seperti, kulit penis menutupi lubang kencing (fimosis), penis tidak muncul (buried penis), ukuran penis kecil (mikropenis), lubang penis tidak pada tempatnya (hipospadia).
Sedangkan kelainan pada buah zakar, lanjutnya, kasusnya seperti buah zakar yang tidak turun dan retraktil testis. “Jika ada kecurigaan, cepat periksakan ke dokter agar mendapat tindakan segera dan tepat,’’ ujarnya.
Ia mengatakan, kasus kulit penis menutupi lubang kencing atau fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir masih dianggap sebagai kasus normal. Seiring perkembangan usia, lubang kencing tersebut akan terbuka dan terlihat. Orang tua tidak perlu terlalu khawatir, tetapi terus melakukan pemeriksaan genital anak. ’’Sampai anak laki-laki berusia tiga tahun masih dikatakan
normal,’’ tuturnya.
Jika pada fase tersebut timbul infeksi, sulit kencing, sampai membentuk balon gelembung saat anak buang air kecil, orang tua harus segera membawa anaknya ke dokter. ’’Kalau anak mengedan saat buang air kecil, ada indikasi untuk segera dilakukan pengobatan.
Pengobatannya dengan cara memaparkan lubang kencing dari penempelan kulit penis dan memberikan salep. Jika upaya ini tidak efektif, perlu dilakukan sunat,’’ tambahnya.
Kasus berikutnya penis yang tenggelam. Kasus tersebut biasanya diamati pada lapisan lemak perut bawah yang agak tebal, dekat kelamin. Pada kasus itu, penis tertarik masuk ke dalam perut. Orang tua biasanya mengira penis anaknya kecil, padahal sebenarnya tenggelam atau tertarik oleh jaringan di bawah kulit.
Pengobatannya bisa dengan sunat, tetapi berbeda dengan sunat pada umumnya, karena memerlukan teknik rekonstruksi khusus. ’’Tujuannya membebaskan bagian yang menarik penis agar lepas,’’ ucapnya.
Sementara itu, kasus penis kecil (mikropenis) memang dari segi ukuran kecil. Agar lebih jelas, orang tua harus melakukan konfirmasi ke dokter untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Mikropenis biasanya diobati dengan evaluasi dan terapi hormon. ’’Kasus lainnya adalah lubang kencing tidak berada di ujung penis (hipospadia), bisa di tengah atau di pangkal penis. Ini biasanya harus dilakukan tindakan operasi,’’katanya.
Adapun kelainan genital pada buah zakar ada dua jenis. Pertama, testisnya tidak turun (kriptorkismus). Sejak dalam kandungan, testis berada di dalam perut. Seiring perjalanan waktu, testis akan turun ke dalam kantong menjelang minggu-minggu kelahiran. Jika prosesnya terganggu, testis akan tertahan di posisi yang tidak
seharusnya. ’’Jadi, kantong kanan dan kiri berbeda. Satu terisi dan satunya kosong. umumnya ini bawaan,’’ ungkapnya.
Kedua, testis naik turun (retraktil testis), yakni kadang di dalam kantong, kadang naik. Menurut dr Irfan, kondisi itu biasanya membaik dengan sendirinya. Meski begitu, volume dan ukuran testis perlu dipantau. ’’Ada beberapa anak yang akhirnya membaik. Sebagian besar bertambah volume testisnya. Tapi, itu tetap perlu dikoreksi dan observasi, pantau setiap setahun sekali. Kalau stabil, sudah oke,’’ ucapnya.
Pada anak perempuan, kelainan genital seperti klitoris membesar merupakan bawaan lahir yang perlu diagnosis lebih lanjut. Sebab, faktor kelainan enzim tertentu pada kelenjar adrenal (anak ginjal) bisa menjadi penyebabnya. ’’Penanganannya
dengan terapi hormon. Jika tetap membesar, akan diterapi, dikoreksi, sampai dioperasi,’’ paparnya. (tih/c15/wir/via)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!