Mengukir Nilai Religi dengan Seni Ukir Kayu

Al-Quran adalah Kalam Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat manusia yang tak lain adalah perihal mengenai kehidupan baik di dunia maupun diakherat. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta.
Di dalamnya terkumpul wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman, dan pelajaran bagi siapa yang mempercayai serta mengamalkannya, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Hijr ayat 9 yang artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya kami tetap memeliharanya”. Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan bagi orang Mu’min, baik dikala senang maupun dikala susah, dikala gembira maupun dikala sedih.
Membaca Al-Qur’an tidak hanya menjadi amal dan ibadah, tetapi juga menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya, demikian pula halnya dengan orang yang mendengarkannya, sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Al-A’raaf, ayat 204 yang artinya: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang, agar kamu mendapat rahmat”.
Keistimewaan lain dari kandungan isi dan makna kitab suci Al-Qur’an adalah nilai estetika sastranya yang tiada bandingannya, demikian pula dengan Khat (kaligrafinya) yang ditulis dengan sangat indah, tentunya tidak semua orang yang dapat menuliskan kaligrafi Al-Qur’an dengan indah, karena dibutuhkan pengalaman dan keahlian yang mumpuni untuk dapat menghasilkan kaligrafi yang indah.
Jelaslah bahwa Islam sesungguhnya banyak menyimpan nilai keindahan karena sesungguhnya Allah SWT pun mencintai keindahan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya “Sesungguhnya Allah SWT itu indah dan mencintai keindahan”.
Wujud kecintaan umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an, tidak hanya diamalkan melaui bacaan yang indah, namun juga dikembangkan dalam bentuk kesenian (seni rupa) oleh para seniman muslim, seperti dilukis, dibatik, ditatah maupun diukir dengan kayu, yang mana masing-masing dari media tersebut tercipta karya seni kaligrafi Al-Qur’an yang indah sehingga dapat meningkatkan kecintaan masyarakat muslim terhadap Al-Qur’an itu sendiri.
Wiyoso (2012: 115) dalam bukunya yang berjudul Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia, menjelaskan bahwa:
Seni kaligrafi Arab pada umumnya tersaji dalam bentuk seni lukis dan seni kriya, baik kriya tekstil, keramik, maupun kriya kayu. Seni kaligrafi Arab yang disebut juga seni khat merupakan salah satu karya seni rupa yang tidak kalah pentingnya dari jenis seni rupa lainnya. Sebagai seni tulis dengan tuntutan keindahan, seni khat telah menempuh sejarahnya yang panjang dan mencapai puncak-puncak perkembangannya sesuai dengan perkembangan dari aksara Arab dan peranan kebudayaan di tiap negara Islam. Dalam kaligrafi Arab, kata-kata disusun menjadi kalimat yang bersumber dari ayat suci Al-Quran dan Hadiths. Berbagai pola susunan kalimat bermakna dipadukan dengan berbgai motif geometris dan motif tumbuh-tumbuhan menjadi ornamen tertentu. Perpaduan berbagai motif tersebut menghasilkan desain ornamental sebagai karya seni dekorasi Islam yang terdapat di hampir seluruh negara Islam di dunia.

Baca Juga :  Bahaya Diam

Salah satu maha karya seni ukir kaligrafi Islam adalah seni ukir kayu khas Palembang pada Al-Qur’an Al-Akbar yang berada di Jalan M. Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus, Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), tepatnya di Pondok Pesantren Al Ihsaniyah Gandus Palembang. Ukiran tersebut merupakan maha karya yang dimiliki oleh masyarakat Palembang.
Seni ukiran Al-Quran Al-Akbar merupakan seni ukir kayu kaligrafi Islam terbesar di dunia dalam bentuk 30 juz Al-Quran, ini dibuktikan dengan pengakuan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan parlemen negara-negara Islam yang ada di dunia. Al-Quran yang diukir pada media kayu ini terdiri dari 630 halaman. Ukiran Al-Quran ini juga dilengkapi dengan tajwid serta doa khataman bagi pemula.
Keberadaan seni ukir kayu khas Palembang pada Al-Quran Al-Akbar tidak hanya sebagai karya yang monumental, akan tetapi di dalamnya ada banyak potensi yang dapat dipelajari, seperti nilai religi, budaya, dan nilai estetis. Maha karya seni ukiran kayu Al-Quran dapat dilihat sebagai salah satu bukti kehebatan kesenian Islam di Palembang. Ini merupakan rahmat yang besar bagi umat muslim di Palembang untuk dapat menikmati ukiran kayu Al-Qur’an Al-Akbar sebagai sebuah karya seni yang bernilai estetis dan menanamkan nilai-nilai keislaman.
Selain memuat nilai-nilai keislaman dan kebesaran kesenian Islam di Palembang, seni ukiran kayu Al-Qur’an Al-Akbar juga terdapat nilai-nilai budaya lokal yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman. Nilai-nilai tersebut tersaji melalui ornamentasi (ragam hias) yang menghiasi setiap lembaran ukiran kayu Al-Qur’an Al-Akbar tersbut. Kehadiran ornamen tumbuh-tumbuhan yang berupa sulur-suluran dan motif bunga kembang tersebut, memberi sentuhan yang kian membuat ukiran Al-Qur’an tersebut semakin bernilai estetis sebagaimana lantunan dan makna dari kitab suci Al-Qur’an itu sendiri.
Sentuhan nilai lokal lainnya adalah karakter warna ukiran yang bernuansa keemasan (perada) dengan warna background coklat kemerah-merahan sebagai ciri khas warna ukiran kayu khas Palembang. Warna sebagai salah satu elemen pada seni rupa tidak hanya memberi kesan visual yang menarik. Eksistensi warna pada sebuah karya seni rupa dapat pula menjadi simbol yang memiliki nilai filosofi dan makna, sebagaimana diungkapkan oleh Sanyoto (2010: 44) dalam bukunya yang berjudul Nirmana: Elemen-Elemen Seni Rupa dan Desain, “warna dapat berfungsi sebagai dominasi manakala warna tersebut lain dari yang umum/kebanyakan”.
Berkaitan dengan ungkapan tersebut dapatlah dikatakan bahwa dominasi warna keemasan pada seni ukiran kayu Al-Qur’an memberi nilai keunikan tersendiri yang membedakan seni ukiran kayu Palembang dengan ukiran kayu di daerah lainnya di Indonesia. Warna keemasan pada seni ukiran kayu khas Palembang juga mengandung simbol dan makna tersendiri, yaitu melambangkan kemegahan, kemulyaan, dan keagungan yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang diistimewakan.
Tidak kalah pentingnya juga, bahwa karya seni ukiran kayu Al-Qur’an Al-Akbar merupakan salah satu tempat wisata religi di Palembang, selain dari Masjid Agung dan Masjid Ceng-Ho. Ketika penulis berkunjung ke Museum ukiran kayu Al-Qur’an Al-Akbar, penulis melihat ada banyak nilai-nilai religi Islam yang tersaji di dalamnya, salah satunya adalah kegiatan-kegiatan kerohanian, seperti ceramah agama, pengajian dan pembacaan Sholawat.
Kegiatan-kegiatan ini tentunya menjadi nilai tambah tersendiri terhadap keindahan ukiran kayu Al-Qur’an Al-Akbar yang dapat membangunkan khasanah wisata religi Islam yang kompleks. Maka tidak heran hampir setiap hari karya seni ukiran kayu Al-Qur’an tersebut selalu dikunjungi oleh masyarakat, baik dari Kota Palembang maupun dari daerah, bahkan tidak jarang juga dikunjungi oleh masyarakat dari luar Sumatera Selatan maupun masyarakat mancanegara, seperti Malaysia dan negara-negara muslim lainnya.
Seni ukiran kayu khas Palembang pada Al-Qur’an Al-Akbaryang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kota Palembang, perlu kiranya dipertahankan sebagai karya seni yang monumental dan bernilai religi keislaman. Keberadaannya perlu dilestraikan dan dikembangkan sebagai salah satu objek wisata religi yang tidak hanya menambah nilai-nilai keislaman pada masyarakat, namun dapat pula memperkenalkan seni ukiran khas Palembang pada masyarakat secara luas sehingga karya tersebut dapat mengukir sejarah sebagai seni ukiran kayu Al-Qur’an terbesar di dunia. (*)

Baca Juga :  Kerja Adalah Ibadah

Oleh: Husni Mubarat, M.Sn
Dosen Desain Komunikasi Visual UIGM Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!