Mengusulkan Nama Stasiun LRT

Oleh : Rd. Muhammad Ikhsan

BERANJAK dari suatu semangat ingin melestarikan tapak dan jejak sejarah pembangunan dari suatu masa yang telah silam. Tapak mana pernah memiliki arti penting diwaktu-waktu lalu. Tegasnya “Jasmerah” kata proklamator Republik Indonesia. “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah” ucap Ir. Soekarno.
Siapapun walaupun hanya satu kali melupakan sejarah, maka pada suatu saat nanti ia akan dilupakan dan terhapus dari sejarah. Pelestarian arti sejarah itupun dapat dibuktikan dengan menggunakan nama lama yang memiliki arti historis pada tempat atau kawasan baru seperti jalan, bandar udara ataupun stasiun. Tentu saja untuk Palembang menjelang digunakannya sarana transportasi Light Rail Transit (LRT).
Dari nama-nama stasiun LRT ini berkembang suatu usulan,. Sebuah gagasan dari komunitas pecinta sejarah Palembang. Di antaranya dari seorang peneliti dan pelestari manuskrip sejarah Palembang, Kemas H. Andi Syarifuddin. Menurutnya alangkah eloknya jika nama-nama stasiun tersebut menggunakan nama lama yang memiliki arti historis. Penyematan nama-nama lama dengan meneguhkan prinsip toponimi alias kajian nama dan tanda rupa bumi.
Jika pun tidak semua stasiun dilekatkan nama lama bersejarah, semestinya paling tidak ada beberapa yang diambil dari pijakan eksistensi masa lalu. Selain itu sebagai perbandingan bisa dilihat pada nama-nama stasiun LRT di Malaysia. Di negeri jiran ini nama-nama stasiun mengacu jejak sejarah di semenanjung Malaya. Dari nama stasiun Masjid Jameek, Dang Wangi, Pasar Seni.
Sebagai contoh usulan pada 13 stasiun tersebut diharapkan digunakan nama-nama tokoh yang pernah berjasa membangun kota Palembang. Di antara nama tersebut berasal dari nama Sultan yang pernah memberi arti penting dalam pendirian dan pembangunan Palembang. Dari nama Sultan Abdurrahman Candi Walang, Sultan Muhammad Mansyur, Sutan Agung Komaruddin, Sultan Anom, Sultan Mahmud Badaruddin Jayawikrama, Sultan Ahmad Najamuddin, Sultan Muhammad Bahauddin, Sultan Mahmud Badaruddin II.
Dari beberapa nama sultan ini diprioritaskan pada nama sultan yang hingga saat ini belum digunakan pada nama tempat atau jalan. Nama Sultan Mahmud Badaruddin II telah kita kenal dari nama bandara. Sultan Muhammad Mansur, Sultan Agung masing-masing pada nama jalan. Nama Sultan Ahmad Najamuddin yang pernah membangun menara lama dari Masjid Agung sangat layak untuk digunakan. Termasuk nama Sultan Muhammad Bahauddin yang membangun kraton Kuto Besak atau BKB sekarang begitu pula.
Pilihan nama lain pada titik tertentu dapat dipertimbangkan juga. Sebagai contoh, rencana stasiun yang terletak di depan kantor Telkom jalan Kolonel H.Burlian adalah stasiun Telkom. Diusulkan alternatifnya sebagai stasiun Sukarami, karena nama daerah Soekarami telah ada dalam peta kota hampir 100 tahun lalu. Ataupun nama seperti Talang Kelapa yang mengingatkan kita pada satu marga Sumatera Selatan yang pernah ada di tempat ini.
Pada titik lain yang akan disebut sebagai stasiun Palembang Icon ditawarkan alternatif stasiun Talang Pangeran Suryo. Disebut demikian karena dahulunya tempat di sekitar ini dikenal sebagai Talang Pangeran Suryo. Pilihan lainnya ialah stasiun Sport Hall untuk mengingatkan warga Palembang bahwa belum lama ini tempat tersebut akrab disebut demikian.
Arah selanjutnya di depan kantor Telkom dan Dishub jalan Kapten A. Rivai di mana saat ini sedang juga dikerjakan, dapat diberikan nama stasiun Pangeran Penghulu, karena jauh sebelum ada kompleks perkantoran Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, kawasan ini bernama Talang Pangeran Penghulu.
Sedangkan stasiun berikutnya yang berdekatan dengan pasar Cinde diajukan nama stasiun Candi Walang. Nama mana bisa mengembalikan ingatan orang tua-tua pada daerah Candi Walang. Nama yang pernah melekat dengan kawasan ini. Nama Candi Walang pun satu kesatuan dengan Sultan Susuhunan Abdurrahman Candi Walang sang pendiri kesultanan Palembang Darussalam yang dimakamkan di daerah ini.
Untuk stasiun utama jembatan Ampera bisa digunakan nama stasiun Kuto Lamo. Nama yang berasal dari kraton yang pernah didiami Sultan Mahmud Badaruddin Jayawikrama dan sultan-sultan setelahnya. Di mana posisi tapak kraton tersebut saat ini menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Bisa pula pilihan lain seperti Kuto Tengkuruk, Kuto Beringin Janggut atau Masjid Lama. Nama-nama mana tidak dapat dilepaskan dengan sejarah areal tersebut. Begitu selanjutnya dengan stasiun lain.
Penamaan mestinya mempertimbangkan beberapa alternatif. Namun pilihan yang mengacu pada sejarah kota dan atau kawasan setempat penting didahulukan. Prinsip toponimi menjadi dasar dan landasan berpijak dari aspek penamaan suatu tempat termasuk menyematkan nama pada stasiun LRT. (*)

Baca Juga :  Soda Rasa Cendol

*Dosen Unsri sekaligus Penelusur Sejarah Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!