Meniti 20 Hari

Ilustrasi.

FILM meniti 20 hari Terinspirasi dari kisah Abdul Razak Fachruddin di masa muda. Dia adalah Pimpinan Umum PP Muhammadiyah periode 1969-1980. Film ini mengandung kisah inspiratif perjalanan AR Fachruddin bersama sepuluh orang temannya yang tergabung dalam Hizbul Wathan (HW) Muhammadiyah. Dalam dikashnya, diceritakan perjalanan sekelompok pemuda HW dari Palembang menuju Medan dengan perjalanan selama 20 hari untuk menghadiri Kongres Muhammadiyah ke-28 menggunakan sepeda. Penasaran dengan ceritanya ? Yuk simak!

Film meniti 20 hari mengandung pendidikan karakter dan menampilkan remaja yang mempunyai mental baja dan karakter yang baik. Film ini menceritakan mereka yang tergabung dalam panduan HW Muhammadiyah yang melakukan perjalanan menggunakan sepeda menempuh perjalanan sekitar 1.300 Kilometer, dengan kejasama dan semangat perjuangan akhirnya mereka mampu menjalaninya.

Film ini diproduksi Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah dan disutradarai oleh Arimus Barianto, sutradara asal Yogyakarta. Film sebagai salah satu upaya Muhammadiyah untuk melakukan reformasi budaya, lewat berbagai bidang seperti film, musik, dan lainnya. Khususnya di Sumsel, untuk menggali potensi seni bagi kader Muhammadiyah terutama dalam konteks seni dan budaya, dalam siaran pers bulan lalu.

Dalam proses perjalanan banyak lika-liku yang mereka hadapi, seperti waktu tempuh perjalanan menggunakan sepeda, halangan dan rintangan saat berbeda pendapat dan di beberapa scene para paduan HW juga sempat diusir oleh warga desa yang mereka kunjungi. Tetapi itu semua tidak melunturkan niat mereka untuk menebar kebaikan dan kebermanfaatan, mereka mampu menghadapinya dengan rasa saling percaya dan meyakinkan sesama. Nggak hanya pelajaran dan pengalaman, film ini juga mengambil sepucuk kisah romansa antara Sofyan, pemain Harmonika dan Halimah, gadis desa.

Baca Juga :  Ini Penyebab Turunnya Jumlah Hewan Kurban

Film juga mengajarkan bagaimana perjuangan masa lalu saat berdakwah dan mengubah kepercayaan masyarakat dahulu seperti memberikan sesajen pada sawah dengan tujuan melimpahkan rezeki. Disana sangat dibutuhkan ketabahan, kesabaran dan kegigihan untuk menuntun warga desa menuju perubahan.

Perjalanan yang dipimpin oleh AR Fachruddin muda ini diperankan oleh Andreanto Wibisono yang merupakan kader Muhammadiyah yang sekarang tengah menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Palembang(UMP). Selain itu, untuk tokoh-tokoh lainnya turut di perankan oleh mahasiswa antaranya Janero Desen dan Oki Ramadhani mahasiswa UIN Raden Fattah, Rivaldi Azwar mahasiswa Stikes Aisiyah, Ariansyah mahasiswa Universitas Sriwijaya, Reaga mahasiswa IKJ, Suwaibatul Aslamiah,Bagus Rama Putra, Alzaref Dwi Tasuka, Ozy, Restu mahasiswa UMP.

Selain itu, diperankan juga oleh Jaid Saidi (Teater Harmoni Palembang), Imron Supriyadi, (Ketua IMM Fak Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang periode 1995-1997), Darwin Syarkowi (aktivis Teater Kreta Palembang), Yussudarson Sonov (Komitas Venesia dari Timur), Hasan (Dosen Teater Universitas PGRI Palembang), dan civitas Akademika Stikes Aisyiah dan Stikes Muhammadiyah Palembang.

Untuk pemeran, film ini 90 persen di perankan oleh kader muhammadiyah yang 100% anak Sumatera Selatan.Film ini juga mengambil beberapalokasi syuting di wilayah sumatera Selatan antaranya Jejawi OKI, Ulak Paceh Muba, Lubuklinggau dan Palembang.

Baca Juga :  Maling Kantor BKPSDM, Sembako pun Digasak

Nggak Cuma pemeran dan lokasi syutingnya yang membawa latar belakang sumsel, film ini juga punya pesan moral kepada remaja sumatera selatan untuk terus memiliki darah juang dan solidaritas yang tinggi dalam memperjuangkan kebaikan. “Film yang mengadaptasi kisah A.R Fachruddin muda ini mengandung unsur pendidikan karakter yang baik untuk anak muda zaman sekarang,” ujar Sukriyanto AR, Ketua LSBO PP Muhammadiyah.

Dibuatnya film ini juga bertujuan menceritakan kondisi masyarakat Indonesia yang kini sangat memprihatinkan. Harapannya melalui film ini dapat memberikan kontribusi dalam pendidikan karakter bangsa. Film ini mengangkat nilai-nilai kepaduan HW, sifat suka menolong, jiwa pantang menyerah dan kerja keras.

Untuk sistem penayangan, film ini sudah di tayangkan di berbagai daerah di Indonesia. Hanya saja untuk tayangan perdananya di Yogyakarta. Kenapa di Yogyakarta? Karena mengingat Historis berdirinya Muhammadiyah di Yogyakarta. Untuk wilayah Palembang ditayangkan sebamyak 2 kali di palembang yaitu di UMP pada 7 Desember 2017 dan Graha Budaya Jakabaring Palembang pada 14 Desember 2017

Gimana geng? Bagi yang belum nonton pasti penasaran banget kan? Tenang guys, Film ini akan ditayangkan kembali ke beberapa daerah termasuk Palembang pada 2018 mendatang. Buat kalian yang penasaran, yuk diikuti terus jangan sampai ketinggalan yah! (msa)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!