Menteri ini Yakinkan Bali Aman

Jumpa pers Menpar Arief Yahya mengenai status Bali. foto: istimewa

JAKARTA – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berharap wisatawan asing tidak antipati dengan Bali, saat ini. Pulau Dewata aman dikunjungi. Erupsi Gunung Agung tidak mengganggu semua destinasi wisata Bali.

“Status Bali aman. Ini sekaligus mencabut pernyataan sebelumnya, waspada. Saya nyatakan Bali aman kecuali radius 6-10 kilometer dari Gunung Agung,” terang Menpar Arief Yahya dalam jumpa pers akhir tahun di di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata Jakarta, Kamis (21/12).

Di acara yang dihadiri juga Pejabat Eselon 1 di lingkungan Kementerian Pariwisata, Tenaga Ahli Kemenpar, Ketua Umum GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) Didien Junaedy, Ketua PHRI Haryadi Sukamdani merangkap sebagai Ketua Pelaksana Progam Visit Wonderful Indonesia (VIWI) 2018, serta ketua asosiasi pariwisata lainnya, Menpar menjelaskan jika akibat dari erupsi Gunung Agung, beberapa negara memberlakukan travel warning kepada masyarakatnya yang ingin mengunjungi Bali. Salah satunya China. Akibatnya, banyak turis yang seharusnya berlibur ke Bali mengalihkan tujuannya ke negara Asia Tenggara lainnya. Salah satunya Thailand.

Tersendatnya kunjungan wisatawan asing ke Bali, sangat terasa bagi dunia pariwisata Indonesia. Mengingat, Bali penyumbang 40 persen kunjungan wisatawan. Menpar menerangkan, sejak Gunung Agung batuk-batuk, Indonesia kehilangan 1 juta wisatawan asing. Jumlah ini sangat banyak bagi Indonesia yang sedang membangun dunia pariwisata.

Baca Juga :  30 Persen Peserta Color KasmaRun 2017 dari Negara Tetangga

“Jika diuangkan, kerugiannya mencapai Rp15 triliun. Situasi ini juga yang membuat target wisatawan kita meleset dari 15 juta menjadi di angka 14 juta akhir tahun ini, karena kejadian di Bali ini juga berimbas ke daerah lain, mengingat Bali merupakan wajah Indonesia,” jelasnya.

Memburuknya imej Bali akibat erupsi Gunung Agung membuat Indonesia kalah dari Vietnam dalam pertumbuhan dunia pariwisata. Sekalipun, pertumbuhan pariwisata Indonesia sudah mencapai 24 persen. Sementara Vietnam memimpin dari kawasan Asia Tenggara dengan pertumbuhan 25 persen.

“Pariwisata penghasil devisa 1 dan tumbuhnya paling cepat dari seluruh industri di Indonesia. Bagi saya, kalah dari vietnam itu memalukan sedikit. Tapi kenapa Vietnam bisa hebat? Mereka bergerak dengan cepat dengan melakukan deregulasi besar-besaran. Sementara bangsa ini mengikat-ikat sendiri dengan birokrasi yang berbelit-belit dengan lembaga,” tukasnya.

Menpar sudah solusi untuk kembalikan gairah pariwisata Bali. Caranya, harus dimulai dari internal sendiri. Pemerintah Indonesia harus mau mencabut lebih dulu status awas atas Bali jika ingin negara lain mencabut travel warning. Jika rencana ini mulus, Menpar memiliki keyakinan bahwa tahun depan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia akan kembali meningkat. “Pertumbuhan pariwisata Indonesia sebesar 24 persen, jauh di atas pertumbuhan pariwisata regional ASEAN 7 persen dan pariwisata dunia 6,4 persen, ini menguatkan keyakinan kita untuk meraih target pada 2018 sebesar 17 juta wisman,” ungkap menteri asal Bangkalan ini.

Baca Juga :  Komodo Labuan Bajo Benchmark Sukses Korea dan Bali

Terkait dengan wisatawan nusantara (wisnus), Menpar Arief Yahya memaparkan perkiraan realisasi pergerakan wisnus yang pada Oktober 2017 sebanyak 25.077.000 wisnus dengan pengeluaran mencapai Rp 22,92 triliun, sedangkan secara kumulatif Januari–Oktober 2017 sebanyak 252.569.465 pergerakan wisnus dengan pengeluaran sebesar Rp230,91 triliun. Capaian wisnus pada Januari-Oktober 2017 ini lebih tinggi 14 persen dibandingkan target yang ditetapkan sebesar 221,5 juta wisnus.

Menurut Menpar yang menarik dari pergerakan wisnus adalah moda transportasi udara yang digunakan wisnus bertambah pada Oktober 2017 jumlah penumpang udara domestik sebanyak 7.523.100 orang, sehingga perkiraan realisasi wisnus yang menggunakan angkutan udara sebanyak 2.256.930 pergerakan. “Tahun ini target 265 juta pergerakan wisnus optimistis akan terlampaui,” kata Arief Yahya.

Lanjut Menpar, pertumbuhan pariwisata Indonesia Januari – Oktober 2017 sebesar 24 persen, menempatkan Indonesia di posisi 20 besar negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat yang dicapai dalam kurun waktu tiga tahun. Hal ini memberikan pendapatan bisnis yang besar, serta menciptakan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi ini juga diikuti dengan perubahan gaya hidup yang semakin go digital – komunikasi lebih bersifat personal, mobile, dan interaktif.

Sekitar 70 persen dari pencarian dan sharing data menggunakan cara digital. Media digital bahkan dinilai empat kali lebih efektif dalam menyampaikan pesan daripada media konvesional. Revolusi digital tidak bisa dihindari. Secara alamiah akan mengubah dunia dan menciptakan model bisnis baru. Adapun tiga revolusi dalam bidang bisnis yang terpengaruh oleh perubahan gaya hidup digital antara lain komunikasi, transportasi, dan pariwisata.

Baca Juga :  Bidik Wisman Singapura dengan Diskon

Para pelaku industri yang menggunakan cara konvensional akan sulit bersaing dengan mereka yang menggunakan platform digital. Pelaku industri digital ini melakukan sharing economy, mengoptimalkan kapasitas, menjual yang kosong dengan harga murah, dan mencari return dari cross selling. Semua dilakukan secara digital. “Industri pariwisata, cepat atau lambat akan menghadapi perubahan yang revolusioner dan untuk bersaing pariwisata harus mengikuti perubahan gaya hidup konsumen,” tegas Arief Yahya.(kmd)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!