Merenungi Nilai-nilai Pancasila

Wah gak terasa ya guys, hari ini landasan dasar negara kita, Pancasila udah tepat berusia 72 tahun. Sebagai ideologi bangsa yang udah mempersatukan dan menjadi pondasi dari bangsa ini, udah sepatutnya nih kita paham akan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sekaligus mempraktikkannya. Tapi sayangnya seiring dengan kemajuan zaman dan cepatnya arus globalisasi, Pancasila seakan tergerus dan nilai-nilai nya pun semakin ditinggalkan. Nah, kok gitu ya? Iyaps, ini merupakan kenyataan yang sedang kita hadapi lho, kali ini Zetizen bakal coba untuk membahas kasus-kasus yang pernah terjadi di Indonesia dan melanggar nilai Pancasila itu sendiri, dan semoga nantinya bisa menjadi renungan bersama bagi kita agar tetap menjunjung tinggi Pancasila. Yuk simak! (dsn)
Kita mulai dari Sila Pertama ya, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila ini memiiki makna yang mendalam, dimana menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat beragam, bahkan dalam urusan beragama. Setiap individu masyarakat Indonesia bisa bebas memeluk dan beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing serta bisa menumbuhkan rasa toleransi kepada agama lain. Namun sayangnya, nilai kebebasan beragama ini diciderai oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Masih segar diingatan kita, bagaimana mencekamnya 3 gereja di Surabaya yang di teror menggunakan bom serta mengakibatkan beberapa korban jiwa. Yang membuat prihatin adalah, serangan itu mengatasnamakan suatu agama, dan sangat berpotensi untuk memecah belah kerukunan yang udah terjaga selama ini generasi Z.
Selanjutnya adalah “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Pada sila kedua ini diharapkan masyarakat bisa hidup dengan adil dan sesuai dengan hakikat manusia. Tapi, nilai ini kembali dicederai oleh kasus main hakim sendiri terhadap terduga pencuri amplifier di masjid, dimana oleh warga sekitar dihakimi dan dibakar hingga meninggal. Sungguh disayangkan ya, asas praduga tak bersalah tidak dijunjung dalam kasus tersebut, sampai akhirnya mengakibatkan korban jiwa yang sebenernya bisa dihindari.
Lalu Sila ketiga yaitu “Persatuan Indonesia”. Memiliki makna yang sangat mulia yaitu menjunjung tinggi kebersamaan walaupun bangsa Indonesia terdiri dari beragam-ragam suku, ras, agama bahkan golongan. Namun sayangnya banyak cobaan yang menghadang nilai ini. Sebut saja kasus pertikaian antar suku di Kampung Mugi, Kabupaten Yahukimo, Papua pada tahun 2017. Konflik antar suku tersebut memakan 6 korban jiwa. Konflik seperti ini sungguh memprihatinkan karena timbul oleh sebab yang sepele, seperti bermula dari konflik dua orang beda suku, yang kemudian malah merambat sampai ke seluruh anggota suku, sehingga terjadilah konflik antar suku tersebut.
Kemudian kita punya sila keempat, yang merupakan ciri khas bangsa kita saat akan mengambil keputusan, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Sila ini berarti, bangsa Indonesia ketika akan memutuskan suatu masalah, baiknya menggunakan jalan musyawarah mufakat. Meskipun saat ini, bahkan di Dewan Perwakilan Rakyat malah dominan dalam menggunakan voting untuk menentukan sesuatu. Belum lagi, kasus ricuhnya sidang paripurna DPR yang kerap kali menjadi keprihatinan bersama dan memberikan teladan yang buruk bagi generasi muda.
Terakhir adalah “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Sila kelima ini berarti, keadilan adalah hak seluruh rakyat Indonesia. Baik itu keadilan dari segi sosial, hukum sampai ekonomi. Namun sampai saat ini masih banyak ketidakadilan terjadi seperti di bidang hukum. Contoh nyatanya adalah kasus koruptor yang bisa bebas dengan mengajukan praperadilan, walaupun beberapa akhirnya tetap terjerat kasus hukum yang sama kembali.
Kasus-kasus diatas, hanyalah segelintir dari pelanggaran nilai Pancasila lho, masih banyak pelanggaran lain yang bahkan secara tidak sadar kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang harus kita renungkan lagi generasi Z, ingat ya, negara ini bisa berdiri kokoh sampai sekarang karena adanya Pancasila yang menopang bangsa ini. Tanpa Pancasila kemungkinan besar negara kita udah lama tercerai berai loh. Makanya sebagai generasi muda penerus bangsa ini, kita kudu mempelajari lagi Pancasila dan nilai-nilainya, agar bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus meneruskan perjuangan para pendiri bangsa untuk menjadi bangsa yang besar dan disegani oleh seluruh dunia.

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!