Motif Batik Paling Diminati

TELOK ABANG: Penjual kapal-pesawat telok abang yang mulai bermunculan di Jl Merdeka, Palembang. Foto:Dila/Sumatera Ekspres

PALEMBANG – Sebagai tradisi tujuh belasan, telok abang selalu muncul jelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Pedagang musiman ini, mulai muncul di awal bulan Agustus, di pinggir-pinggir jalan protokol dan pasar tradisional. Berupa miniatur pesawat terbang atau kapal laut, ditambahi telur rebus yang dicat warga merah.
Bagi Nurbayah, menjual kapal-kapalan telok abang sudah dilakoninya sejak 20 tahun lalu. Bahan yang digunakan dahulu umumnya kayu gabus. Namun kini, dia membuat dari bahan kardus, styrofoam. Selain tali, kertas dan perlengkapan lainnya. “Bahan ini kami cicil (bertahap) sejak tiga bulan lalu,” katanya, di temui di Jl Merdeka, Palembang.
Naiknya harga bahan baku, disebutnya penjualan tahun ini harga ikut naik. Kalau sebelumnya kapal ukuran kecil ia jual Rp8 ribu sekarang menjadi Rp10 ribu. Sedangkan ukuran besar dulu Rp20 ribu, sekarang Rp23 ribu. “Sekarang yang paling diminati, kapal atau pesawat motif batik,” kata warga Kelurahan 22 Ilir itu.
Diakuinya, seiring perkembangan zaman, penjualan kapal telok abang semakin lama semakin berkurang. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pembeli, biasanya baru ramai membeli mendekati 17 Agustus. Pada hari H Kemerdekaan RI, biasanya bisa laku sampai 20 kapal atau lebih. “Memang tidak besar (untungnya, red), tapi lumayan,” tuturnya.
Pembeli telok abang, disebut Nurbayah dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu-ibu atau orang tua, PNS dan lainnya. “Tahun lalu, Pak Gubernur Alex Noerdin bersama kedua cucunya, membeli kapal dan pesawat telok abang di sini,” kenang.
Ani, pegawai Dinas Kesehatan Kota Palembang, kemarin juga membeli kapal telok abang di tempatnya Nurbayah, Jl Merdeka, depan Kantor Bappeda Palembang. Dia membelikan untuk anaknya, Rafi. “Dia (Rafi, red) pasti senang,” tuturnya. (yun/air/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!