Munaslub Hanura Kukuhkan Daryatmo

KETUM BARU- Ketum baru Partai hanura terpilih Marsekal Madya TNI (Purn) Daryatmo (kedua kanan) dan Sekjen Sarifuddin Sudding (kedua kiri) beserta para kader usai munaslub di Kantor DPP Partai Hanura, Cipayung, jakarta Timur, kamis (18/1). Foto: Miftahulhayat/JPG

JAKARTA- Partai Hanura menggelar Munaslub di Bambu Apus untuk meneguhkan pergantian Oesman Sapta Odang (OSO) dari Ketua Umum Partai Hanura. Hal ini berdasarkan mosi tidak percaya yang dilakukan 27 DPD dan 400-an DPC di seluruh kabupaten/kota. Mereka menilai banyak pelanggaran serius yang dilakukan OSO, ketika masih menjabat sebagai Ketum Hanura.
Munaslub tersebut dihadiri oleh 27 DPD dari 34 DPD dan 407 dari 512 DPC di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Sehingga sudah memenuhi persyaratan dua pertiga DPD dan DPC Kabupaten/Kota berdasarkan AD/ART dan peraturan organisasi untuk melakukan Munaslub. Peserta munaslub kompak mendaulat Wiranto untuk memimpin partainya yang selama ini di bawah kepemimpinan OSO.
Mendapat permintaan aklamasi peserta Munaslub tersebut, Wiranto menjawab dirinya belum bisa memenuhinya. Wiranto belum memungkinkan memimpin kembali Partai Hanura yang didirikannya pada tahun 2006 Wiranto menegaskan. ”Pada posisi sebagai Menko Polhukam saya harus tetap konsisten untuk membantu Presiden membaktikan diri saya menjaga stabilitas politik dan keamanan nasional,” tegas Wiranto.
Dia menegaskan, tugas yang diembannya itu membutuhkan perhatian dan kemampuan sepenuhnya. Untuk itu diirnya memilih legowo dan akan mendukung sepenuhnya partai Hanura. ”Partai Hanura akan dipimpin orang-orang yang berkualitas, bermoral, dan memiliki kemampuan manajerial yang andal melalui proses konstitusi partai,” ujar Wiranto.
Dikatakan Wiranto sebagai Ketua Dewan Pembina sekaligus pendiri partai, sangat sadar mengenai eksistensi partai. Besar kecilnya partai akan sangat tergantung pada kekuatan riil pemilik partai yakni seluruh anggota dan simpatisannya. Mereka itu tersebut seluruh Indonesia bahkan mancanegara yang diwakili DPD (pengurus provinsi) dan DPC (pengurus kabupaten/kota).
”Siapapun dan dengan cara apapun tidak bisa mencegah hak politik pemilik partai ini. Oleh sebab apabila hak politik yang saudara perjuangkan adalah merupakan kebenaran maka semoga proses hukum dan terutama Tuhan yang Maha Kuasa akan merestui perjuangan partai Hanura ini,” tegas Wiranto.
Sementara, dalam Munaslub tersebut Oesman Sapta Odang resmi diberhentikan dari jabatan ketua umum periode 2015-2022. Lalu dilanjutkan dengan pemilihan ketua umum yang baru. ”Apakah pemberhentian Saudara Oesman Sapta Odang dari Ketua Umum dapat disetujui?” tanya Pimpinan Sidang, Rufinus Hotmaulana kepada peserta sidang di arena Munaslub Hanura, Kamis (18/1).
Kemudian diikuti teriakkan setuju dari para peserta sidang. Dengan ini, Oso telah diberhentikan berdasarkan surat konsideran bernomor Kep/006/munaslub/Hanura/2108 tentang pemberhentian Oesman Sapta Odang dari Ketua Umum Partai Hanura. Surat tersebut ditanda tangani oleh tujuh pimpinan sidang yaitu Wishnu Dewanto, M Farid Syarif Al Fauzi, Dadang Rusdiana, Rufinus Hormaulana, Sudewo, dan Dossy Iskandar Prasetyo.
”Segala kewenangan Saudara OSO sebagai ketua umum dinyatakan tidak berlaku lagi. Jadi sudah jelas ya sudah diberhentikan,” imbuh Rufinus. Munaslub juga resmi memilih Marsekal Madya (Purn) Daryatmo sebagai Ketua Umum Partai Hanura menggantikan OSO.
Daryatmo menyatakan siap bertemu dengan Oesman Sapta Odang. Pernyataan ini merupakan bentuk komitmen Daryatmo untuk mensolidkan kader Hanura. ”Saya sebagai orang yang lebih muda dari beliau, dan beliau itu senior saya, kapanpun saya siap bertemu beliau. Bila perlu setelah ini saya siap menghadap beliau,” ujar Daryatmo dalam Konferensi Pers Munaslub Partai Hanura Bambu Apus di Kawasan Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (18/1).
Dia menuturkan, sesama kader Partai hanura itu merupakan saudara. Kemudian tidak boleh juga diartikan sebagai sebuah pertengkaran, tapi ini merupakan perbedaan dalam menyikapi persoalan. ”Jadi bagi saya tidak ada persoalan, temen temen saya, sahabat juga banyak yang beda pendapat tapi sampai sekarang bisa komunikasi, apalagi dengan bapak Oesman Sapta,” tandas Mantan Prajurit Angkatan Udara itu.
Pria asal Wonogiri Jawa Tengah ini menegaskan untuk secepatnya menemui OSO, pasalnya prahara Hanura ini membuat dirinya kurang nyaman. ”Saya sebagai orang yang selama ini dibesarkan dalam suasana yang damai, kondisi seperti ini bagi saya pribadi tidak saya kehendaki,” pungkasnya. (jaa/air)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!