Muncul Gagasan Pembentukan Bank Umrah

Ilustrasi

JAKARTA – Rencana revisi Undang-Undang UU No. 13/2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji terus bergulir. Total ada sekitar seribu masalah haji dan umrah yang didata. Termasuk rencana pembentukan bank umrah, yang khusus sebagai penampung dana pendaftaran umrah.
Perkembangan revisi UU Haji itu disampaikan oleh Ketua Komisi VIII (bidang agama) DPR Ali Taher Prasong. “Ada seribu daftar inventaris masalah. Baru 600 masalah yang masuk daftar invetaris,” katanya usai pelantikan pengurus Serikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) di Jakarta, kemarin (6/7). Dalam kegiatan ini bos Patuna Travel Syam Resfiadi terpilih menjadi ketua umum Sapuhi periode 2018-2023.
Lebih lanjut Ali Taher mengatakan, keberadaan bank umrah itu bisa menjadi solusi atas ketidakpastian dana jamaah haji. Dalam kasus penipuan umrah seperti First Travel, uang jamaah yang sudah disetor hingga kini tidak kembali. Berbeda dengan sistem bank haji, nanti jamaah umrah sistemnya menabung uangnya di sebuah bank umrah. Kemudian uangnya baru bisa diambil oleh travel, ketika digunakan untuk membayar akomodasi umrah.
“Dengan bank umrah jadi ada jaminan kepastian. Jika tidak berangkat, uangnya bisa dikembalikan,” kata politisi PAN itu. Sebab nantinya seluruh transaksi dipegang oleh perbankan yang ditetapkan sebagai bank penampung dana umrah. Sistem bank umrah ini hampir sama dengan bank penerima setoran biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH). Travel haji khusus baru memegang uangnya, menjelang musim haji. Ketika mereka membutuhkan dana untuk menyiapkan akomodasi jamaahnya.
Ali Taher mengatakan, Indonesia sudah melakukan studi banding ke Tabung Haji milik Malaysia. Tetapi sampai sekarang Indonesia belum bisa memiliki lembaga keuangan yang mirip Tabung Haji tersebut. “Kenapa tidak bisa, karena belum ada keberanian,” jelasnya.
Menurut dia, memastikan keberadaan uang pendaftaran umrah, bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada travel umrah. Menurut dia, setelah ada kasus penipuan First Travel, kepercayaan masyarakat kepada travel umrah menurun. Apalagi sampai saat ini belum ada yang berani memberikan jaminan atau kepastian keberangkatan. Termasuk juga jaminan uang dikembalikan jika tidak jadi berangkat umrah. Termasuk oleh pemerintah sekalipun.
Ketua Umum Sapuhi Syam Resfiadi tidak mempersoalkan rencana pembentukan bank umrah tersebut. Kalaupun nanti sistem bank umrah disamakan dengan bank penampung BPIH selama ini, mereka juga tidak keberatan. “Jika Undang-Undang nanti ingin (bank umrah, red) seperti haji, boleh-boleh saja,” katanya.
Pada intinya dia sepakat dengan arahan Ali Taher bahwa Sapuhi harus menjadi asosiasi yang aktif mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada travel umrah. Dia berupaya menekan seminimal mungkin potensi munculnya kasus kejahatan bermodus perjalanan umrah. Saat ini anggota Sapuhi mencapai 270 unit travel. Perinciannya 124 unit penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU), 15 penyelnggara ibadah haji khusus (PIHK), dan 46 biro perjalanan wisata (BPW). “Alhamdulillah sampai saat ini anggota kami tidak ada yang terlibat pelanggaran undang-undang haji maupun umrah,” jelasnya.
Sementara itu jajaran Kemenag masih belum bisa berkomentar banyak terkait rencana adanya bank umrah. Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Arfi Hatim mengatakan belum mengetahui langsung rencana pembentukan bank umrah tersebut. Jadi dia tidak bisa berkomentar banyak terkait keberadaan bank yang digunakan sebagai penampung dana umrah tersebut.
Sementara itu, persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2018 terus dikebut. Misalnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyiapkan 7 ton obat untuk jamaah calon haji (JCH) nanti. Menurut Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Yusuf Singka, obat-obatan tersebut mengcover semua penyakit. “Kami juga punya ICU juga,” katanya kemarin saat ditemui di Kemenkes.
Persiapan dari segi kesehatan ketika musim haji nanti cukup baik. Beberapa dokter spesialis juga diturunkan. Antara lain lima orang dokter jantung, enam orang dokter kesehatan jiwa, enam dokter spesialis paru, satu orang dokter penerbangan, dua orang dokter anastesi serta dokter bedah dan rehab medis. “Kalau dokter umumnya banyak. Ada juga tim gerak cepat dan tim promotif-prefentif,” ucap Eka.
Menurutnya, gangguan pernapasan atas (Ispa) masih banyak ditemui nanti. Untuk itu, dia menyarankan agar jamaah haji selalu memakai masker dan menjaga agar tidak dehidrasi. “Jika evaluasi tahun lalu, ada 4.000 jamaah yang dirawat inap dan kebanyakan karena pneumonia. Sedangkan jamaah yang meninggal kebanyakan karena penyakit jantung,” bebernya.
Dia memberikan catatan kepada JCH agar mewaspadai dampak dari suhu panas. Saat musim haji nanti, dikhawatirkan suhu di Arab Saudi akan mencapai 53 derajat. Ancaman yang bisa terjadi adalah jamaah mengalami head stroke atau pengentalan darah karena suhu yang panas. Untuk itu, dia menyarankan agar jamaah nantinya selalu siap dengan payung, topi, air minum, dan semprotan air. “Kalau lelah jangan dipaksa,” ungkapnya.
Sedangkan dari pemeriksaan JCH, ada 256 jamaah yang tahun ini tidak diberangkatkan. Alasannya karena dinilai tidak mampu baik secara kesehatan fisik maupun mentalnya. Selain itu, 256 JCH yang gagal berangkat tersebut, menurut Eka, rata-rata mengalami penyakit yang mengancam jiwa atau ada juga yang mengalami gangguan jiwa berat. “70 persen jamaah kita adalah yang berusia lebih dari 50 tahun,” katanya.
Untuk tahun ini, yang berbeda adalah tidak adanya gelang warna merah, kuning, dan hijau. Mereka yang berisiko akan menggunakan gelang warna oranye. Menurutnya, hal itu untuk membantu meringankan beban psikologis jamaah. Sebab ada yang bergelang merah akan merasa dirinya tidak percaya diri karena dianggap sakit. “Selama masa tunggu ini, jamaah harus jaga kesehatan, sering jalan kaki, dan makan buah serta sayur,” ucap Eka. (wan/lyn)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!