Nilai-Nilai Ketakwaan

Umat muslim di seluruh dunia baru sekitar dua minggu lalu merayakan Idulfitri. Kita bersyukur karena telah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan selama satu bulan penuh dengan landasan keimanan. Bahkan, sebagian pun telah membayar utang puasanya di bulan Syawal.
Tentunya, kita berharap, kiranya Allah swt senantiasa menganugerahkan umur yang panjang kepada kita, kesehatan yang prima, rizki yang luas lagi berkah, anak-anak yang soleh/solehah, serta pemimpin-pemimpin yang baik dan amanah. Sehingga kita berkesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan tahun berikutnya dan dapat meningkatkan ibadah kita kepada-Nya. Amin ya rabbal alamin.
Tak lupa, dalam kesempatan ini, mari kita berselawat dan menghaturkan salam kepada junjungan kita nabi besar Muhammad saw. Karena berkat jasa beliau, kita semua dapat menganut Islam sebagai agama kita. Selain itu, mari kita jaga serta amalkan kedua warisannya, yaitu Alquran dan hadis sebagai pedoman hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Kita berdoa kiranya beliau memberikan syafaat kepada kita semua di saat tidak ada pertolongan dari mana pun dan dari siapa pun di akhirat kelak.
Ber-Idulfitri yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang sia-sia atau tradisi yang asal-asalan dan tidak berdasar. Sebab, Idulfitri yang kita rayakan merupakan implementasi dari firman Allah swt yang artinya : “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Sebab itu, sejak memasuki 1 Syawal sampai salat Idulfitri, kita dianjurkan bertakbir guna mengagungkan Ilahana Rabbana. Tentunya takbir itu tidak hanya terlantun di bibir saja, tapi harus kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah swt, sehingga menghujam dalam sanubari kita dan menjadi sebuah pengakuan yang tulus bahwa Allah lah Yang Maha Besar. Selain Allah swt, semuanya kecil semata.
Setelah selama satu bulan kita menunaikan ibadah puasa dan selanjutnya berhari raya bersama, sudah sepatutnya kita berbahagia, bergembira. Merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfirah-Nya. Meskipun banyak keinginan yang belum didapatkan. Meskipun banyak kebutuhan yang belum bisa dipenuhi karena keterbatasan.
Persoalannya kemudian, apakah pengalaman yang kita tempa selama satu bulan hanya berakhir seiring berakhirnya bulan suci Ramadan? Pelajaran-pelajaran berharga, nilai-nilai yang luhur dari bulan Ramadan, apakah kita lepaskan begitu saja. Lalu, kita kembali kepada kelalaian yang selama ini dilakukan sebelumnya yang selama bulan Ramadan telah kita tinggalkan?
Tilawat Alquran yang kita lakukan melalui tadarus di masjid-masjid, musala, di kantor bahkan di rumah-rumah, sedekah dan zakat kita tunaikan untuk menyucikan harta dan jiwa kita, qiyamullail yang kita lakukan hingga membuat jam tidur kita berkurang, berburu lailatul qadr pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Apakah semua itu tidak membekas sama sekali dalam diri kita? Jika demikian, maka apa yang disinyalir oleh Rasulullah yang disebutkan di dalam hadisnya berbunyi: “Betapa banyak orang yang melakukan qiyamullail,tapi tidak ada nilai qiyamullail-nya, melainkan hanya begadang semata.” (HR An Nasai dan Ibnu Majah).
Oleh sebab itu, mari kita petik hikmah, pelajaran atau nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah di bulan Ramadan serta Idulfitri. Untuk selanjutnya, kita jadikan sebagai sikap menuju Islam rahmatan lil alamin dalam 11 bulan setelah Ramadan hingga bertemu bulan Ramadan berikutnya. (**/ce3)

Baca Juga :  Manfaatkan Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Oleh: Dr Achmad Syarifuddin SAg MA
Dosen UIN Raden Fatah

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!