Nonsubsidi Lebih Untung, Tata Distribusi

ANTRE: Puluhan mobil mengantre membeli BBM premium di SPBU Jalan Kol H Berlian Km:6,5. Kondisi ini terjadi karena SPBU yang menjual Premium sudah tidak banyak lagi tapi untuk Pertalite hampir semua SPBU memasarkannya. Foto: Kris/Sumatera Ekspres

MENJUAL bahan bakar komersial (BBK) atau nonsubsidi lebih untung dibanding menjual BBM PSO (Public Service Obligation) atau subsidi. Itu diakui oleh Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas) Kota Palembang Alfis Syahrin, kemarin.
“Margin (keuntungan) jual Pertalite itu jauh lebih besar dari Premium, bisa mencapai 15 persen. Tapi kalau Premium tidak sebesar itu,” ujarnya. Karena itu, SPBU kini banyak menjual Pertalite ketimbang Premium.
Dia pun berkilah tidak ada pembatasan Premium, meski jumlahnya kini tidak sebanyak dulu. “Kan Pertamina banyak mengeluarkan produk BBM, otomatis mengurangi porsi atau stok BBM tertentu di SPBU,” ujarnya. Contoh, yang semula Premium 4 slot di satu dispenser, ada penambahan Pertalite maka dikurangi jadi 2 slot masing-masing. “Jadi, bukan berarti suplai dikurangi, karena penampungan SPBU sesuai kapasitas,” sebutnya.
Ketua DPD II Hiswanamigas Sumbagsel Bayumi Usman Diah juga demikian. “Premium tetap kita jual, meski sekarang peminat Pertalite terus bertambah,” ujarnya. Dia beralasan, Pertalite itu kan oktannya lebih tinggi 90, tapi Premium 88 jadi wajar jika peminatnya makin banyak meski harganya sedikit lebih mahal.
Selain itu, dia juga mengakui menjual Pertalite memiliki margin lebih besar dibanding Premium. “Ya namanya perusahaan, SPBU tentu hitung-hitungan untuk mendapatkan keuntungan makanya sekarang banyak yang jual Pertalite,” ujarnya. Tapi dia menyebut SPBU yang menjual Premium juga masih sangat banyak. “Premium itu margin-nya tipis sekitar Rp210-Rp250 per liter,” sebutnya.
Sementara itu, Ketua Organda Kota Palembang Sunir Hadi mengatakan saat ini para sopir angkutan pun kesulitan mendapatkan Premium. “Kami memang dirugikan, tapi memaklumi. Para sopir dan pengusaha bisa membeli Pertalite meski harganya lebih mahal,” ujarnya.
Walaupun biaya untuk beli BBM makin tinggi, pihaknya tetap mengenakan tarif angkutan seperti biasanya. “Tidak ada kenaikan. Walau beli bensinnya sekarang mahal, tarif seperti sediakala. Kami juga tidak boleh menaikkan tarif angkutan sepihak, itu dilarang,” tuturnya. Kecuali jika nanti ada kesepakatan baru dengan pemerintah terkait ongkos penumpang.
Meski begitu, kata Suni, dia berharap pemerintah bisa menambah kuota Premium agar tidak terjadi kelangkaan seperti sekarang. “Kita juga meminta semoga Pertalite nanti bisa disubsidi jadi tidak ada yang dirugikan,” tuturnya.
Sementara itu, Plt Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel Nasrun Umar mengatakan, penjualan Premium ke warga menjadi wewenang Pertamina. Pemda sifatnya hanya mengimbau. “Sejauh ini belum ada laporan keluhan dari warga mengenai hal tersebut,” katanya.
Ria Apriani, Kepala Dinas Koperasi Perdagangan Koperasi dan UKM Banyuasin, mengatakan terkait jumlah pasokan BBM Premium merupakan domain Pertamina. ”Pertamina yang bisa menjawabnya,” ujarnya didampingi Erwin Ibrahim Kadiskominfo Banyuasin.
Tapi diakuinya, pengurangan Premium salah satu cara pemerintah kurangi subsidi BBM. ”Tapi kan ada Pertalite yang beroktan 90, lebih tinggi,” sebutnya. Juga akan mengurangi polusi udara dan meningkatkan kualitas mesin kendaraan. Mengenai daerah perairan yang sulit mendapatkan BBM serta pasokan berkurang, Erwin pun menambahkan hal yang sama. Pihaknya hanya berharap Pertamina dapat memberikan solusi. “Untuk solusi energi baru, memang sudah menjadi tujuan dari pemerintah pusat untuk mengembangkannya,” tegasnya. (wly/uni/qda/yun/fad/ce4)

Baca Juga :  Balik ke Parikesit, Persiba Terganjal Aturan

Terpisah Ekonom Sumsel dari Universitas Sriwijaya, Prof Didik Susetyo, menilai wajar jika Pertamina selalu melakukan variasi produk, karena sebagai BUMN juga harus meningkatkan keuntungan. Karena itu, Pertamina pun fokus menjual BBM nonsubsidi. Pertalite dan Pertamax juga memiliki oktan tinggi dan bagus bagi kendaraan.
“Dalam hitung-hitungan bisnis, untuk produksi lanjutan seharusnya memang produk yang bersubsidi dikurangi,” ujarnya. Tapi, tentu Premium tak bisa dihilangkan semata-mata karena masih dibutuhkan masyarakat, khususnya warga tidak mampu. Karena itu, pemerintah harus mengatur bagaimana BBM subsidi seperti Premium pun bisa tepat sasaran. Lalu tingkatkan juga pengawasannya.
“Pembatasan ini sudah seharusnya dan bisa dilakukan bertahap,” bebernya. Bagi golongan mampu, sudah sepatutnya membeli BBM nonsubsidi seperti Pertalite atau Pertamax, meski nanti harganya fluktuatif. “Namanya BBM komersial tentu nanti harganya mengikuti mekanisme pasar,” ujarnya.
Dia tak menyangkal, jika harga minyak dunia tinggi mencapai US$80 per barel seperti sebelumnya, tentu Pertalite juga akan mahal. Kalau posisi sekarang kan rata-rata minyak dunia US$60 per barel dan harga Pertalite di angka Rp7.700 per liter.
Ekonom Sumsel dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Dr Sri Rahayu SE MM, mengatakan dalam distribusinya, Premium memang perlu ada kriteria khusus. Karena saat ini justru banyak pengendara golongan mampu antre beli Premium. “Karena jenis BBM yang masih disubsidi. Artinya harus dilindungi dalam distribusinya,” sebutnya.
Pengguna BBM tersebut juga, kata dia, harus tepat sasaran. Jangan sampai malah BBM digunakan oleh pemilik kendaraan yang tergolong memiliki kemampuan secara ekonomi. Menurut perempuan yang menjabat Direktur Pascasarjana UMP tersebut, distribusi BBM jenis Premium masih dibutuhkan masyarakat yang dinilai tergolong ekonomi lemah. Seperti sopir angkutan umum, atau pelaku usaha kecil yang memang membutuhkan.
Jadi, dibatasi hanya untuk kendaraan umum dan usaha rumah tangga yang masih perlu perlindungan. Bagaimana Premium bisa dijual khusus untuk angkutan umum saja dan hanya disediakan di SPBU yang dilewati angkutan umum saja. Sedangkan bagi kendaraan pribadi, pemerintah dan industri besar wajib menggunakan Pertalite.
Hal ini juga, kata dia, dalam hubungannya juga mengurangi beban APBN dari sisi subsidi. Selain itu, dari sisi pemasaran, Pertalite adalah diversifikasi produk yang sudah tepat. Karena kandungan oktannya lebih tinggi dari Premium dan lebih rendah sedikit dari pertamax. Yakni Premium oktan 88, sedangkan Pertalite dengan kadar oktan 90, dan Pertamax 92.
“Menurut saya strategi produk Pertamina sudah sangat baik,” katanya. Kemudian, dari sisi harga juga tidak beda jauh meskipun Pertalite berdasarkan harga internasional. Di samping Pertalite juga dengan kadar oktan 90 tersebut bisa mengurangi pencemaran udara karena pengaruh kadar oktan lebih baik dari Premium. “Hanya dalam distribusi butuh pengawasan yang lebih ketat dan tidak ada tawar penawat untuk aturan ini,” katanya. Jadi, perlu ada aturan atau regulasi khusus yang mengatur BBM Premium yang masih disubdisi. (bis/ce4)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!