NU, Hari Santri, dan Salawat Nariyah

Oleh: A. Helmy Faishal Zaini*

SETAHUN lalu PB NU mendapat surat dari KH R Kholil As’ad Syamsul Arifin. Kiai karismatik asal Situbondo tersebut mengirimkan surat ke PB NU secara khusus perihal rencana pembacaan satu miliar Salawat Nariyah yang ketika itu akan dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Santri.
Menarik merenungkan surat yang dikirim oleh KH R Cholil As’ad Syamsul Arifin itu. Dalam surat panjang tersebut, Kiai Kholil menulis seperti ini dan kutipan ini sangat menarik perhatian penulis: ’’Sungguh Al-Faqir merasa sangat antusias ketika mengetahui bahwa PB NU telah menginstruksikan pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah secara serentak. Al-Faqir ikut berdoa semoga kegiatan dimaksud, selain diterima oleh Allah SWT juga bisa menjadi salah satu solusi bagi persoalan yang menimpa kita, warga NU, dan Indonesia secara keseluruhan. Bukan tanpa alasan kalau Al-Faqir merasa antusias dan ikut bergembira. Sejak belasan tahun silam, Guru Al-Faqir, Alm Kyai Ahmad Sufyan, sudah mencita-citakan bahwa Sholawat Nariyah bisa merata secara nasional dan, yang paling penting, dilakukan dengan penuh kesungguhan. Sekalipun, katakanlah, belum benar-benar mencicipi manisnya bershalawat.’’
Ada yang bergetar di dalam dada ketika saya membaca surat tesebut. Salawat Nariyah akan serentak dibaca secara nasional, secara kolosal. Tentu saja tujuannya adalah mengharapkan keberkahan dan keselamatan untuk bangsa Indonesia. Hal itu penting diungkapkan. Sebab, sebagai bagian dari tradisi Islam Nusantara, Nahdlatul Ulama (NU) percaya bahwa yang sanggup memberikan solusi bagi problem bangsa dan bernegara, setelah kita berikhtiar semaksimal mampu, adalah Allah SWT. Hanya Kepada-Nya kita bertawakal dan berpasrah diri. Dengan apa? Salah satu media paling ampuh adalah bersalawat kepada kekasih-Nya, yakni Muhammad SAW.
Dalam kitab Khazinatul Asrar, Sayyid Muhammad Haqqi An-Nazili berujar bahwa salah satu salawat yang mustajabah (cepat dikabulkan) adalah Salawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang oleh orang-orang Magrib (Maroko) disebut Salawat Nariyah. Istilah Nariyah tersebut dipilih berdasar sebuah riwayat yang menyatakan bahwa jika umat Islam mengharapkan apa yang dicita-citakan dan juga diinginkan, atau ingin menolak yang tidak disukai, maka mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca Salawat Tafrijiyah Qurthubiyah sebanyak 4.444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat.
Adapun pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa Salawat Nariyah adalah salawat orang yang ’’merindukan neraka’’, sesungguhnya itu tidak lah benar. Menyitir pendapat Abdullah Al-Ghummari, sesungguhnya penamaan Nariyah itu terjadi karena adanya tashif atau perubahan dari muasal kata yang sebenarnya taziyah. Keduanya, Nariyah dan Taziyah, memiliki kemiripan dalam tulisan Arab. Perbedaan hanya terletak pada titik huruf. Di Maroko –tempat salawat itu berasal– salawat tersebut dikenal dengan Salawat Taziyah, sesuai dengan nama kota pengarangnya.
Di dalam banyak kitab disebutkan bahwa Salawat Nariyah sangat mujarab. Karena itu, atas dasar mengharap keberkahan dan sekaligus sebagai ekspresi rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, segenap nahdliyin berbondong-bondong dan secara serentak membaca Salawat Nariyah dengan tujuan utama adalah mengharap keselamatan dan keutuhan bangsa.
Salawat Nariyah pada titik tertentu bisa dimaknai sebagai upaya untuk ’’mendinginkan’’ hati dan nurani masyarakat Indonesia. Pada masyarakat yang ’’dingin’’ akal dan nuraninya, rahmat dan berkah Tuhan diharapkan akan berlimpah.
Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Dalam banyak kesempatan, kita sering medengar istilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Di sanalah sesungguhnya cita-cita membangun negeri yang aman dan tenteram itu digantungkan. Dalam istilah tersebut, negeri yang ideal adalah negeri yang bukan saja baik (walfare), namun juga diampuni Tuhan.
Kalimat wa rabbun ghafur menarik untuk dikaji, mengingat kebanyakan di antara kita berpemahaman bahwa membangun negara sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Negara adalah urusan duniawi, sedangkan Tuhan adalah urusan privat yang biasanya menyangkut hal ihwal ubudiyah. Pandangan seperti itu sesungguhnya tidak tepat. Sebab, jelas membangun negara itu pararel dengan urusan ilahiyah. Hal itu persis dengan kekurangtepatan kita yang diam-diam memisahkan antara konsep hablum minannas dan hablum minallah, dua konsep yang berdiri sendiri. Padahal, dua konsep tersebut paralel dan berhubungan satu sama yang lain.
Kita sangat berharap agar kondisi yang tidak begitu baik, misalnya saling caci dan isu rasisme, tidak berkelanjutan. Hal-hal tersebut harus kita amputasi. Salawat Nariyah kita jadikan alas utama sekaligus tonggak awal untuk bertekad menuju kehiduan yang lebih baik, yang lebih sederhana, dan lebih optimistis menatap masa depan.
Dengan pelaksanaan pembacaan satu miliar Salawat Nariyah, setidaknya saya mencatat sekurangnya ada dua manfaat yang bisa kita ambil.
Pertama, sebagai sarana untuk mendinginkan hati dan pikiran. Salawat adalah wahana untuk menyejukkan keadaaan. Secara psikologis memang terbukti demikian. Karena itu, banyak ajaran yang menyarankan, jika kita dalam keadaan marah atau terlibat pertengkaran, segeralah berwudu dan membaca salawat agar hati dan pikiran kita kembali jernih dan tenang.
Dalam konteks berbangsa, saya rasa ini penting sekali dilakukan. Ramainya dunia maya, maraknya perdebatan, dan bahkan pertikaian adalah gambaran kondisi kebangsaan kita hari ini. Istilah-istilah seperti mem-bully dan mempersekusi menjadi ’’konsumsi’’ kita sehari-hari yang sangat mungkin membuat hati dan pikiran kita menjadi panas.
Kedua, sebagai wahana membangun silaturahmi, soliditas, dan solidaritas di antara sesama. Kebersamaan adalah momen yang sangat mahal dan berharga. Silaturahmi sekaligus bersama-sama membaca salawat adalah kekuatan dan energi yang bisa dimanfaatkan untuk membangun soliditas bersama sebagai anak bangsa.
Walhasil, ikhtiar pembacaan satu miliar Salawat Nariyah adalah salah satu upaya dari NU untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT demi sejuk dan damainya kehidupan bersama di atas sajadah tanah bernama Indonesia. Wallahu a’lam bishawab. (*)
(*) Sekjen PB NU)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!