Oktober, Tol Palindra Beroperasi

PROGRES: Jalan tol Palembang-Inderalaya yang dikerjakan PT Hutama Karya terus dikebut pengerjaannya. Ditargetkan Oktober sudah operasional berbayar. Foto: Kris/Sumatera Ekspres

SUMSEL – Warga Sumsel bisa segera menikmati jalan tol pertama. Tol Palindra (Palembang-Inderalaya) seksi 1 yang sempat buka di musim arus mudik, bakal beroperasi sepenuhnya pada Oktober 2017 mendatang. “Ya mudah-mudahan kita bisa buka untuk masyarakat umum mulai Oktober nanti,” ujar Hasan Turcahyo, pemimpin proyek PT Hutama Karya (HK) Divisi Jalan Tol Palindra, kepada koran ini, kemarin.
Namun, untuk sementara baru seksi 1 (Palembang-Pemulutan) sepanjang 7,75 km dulu karena progresnya sudah mencapai 96,15 persen per Agustus 2017. “Jadi dua bulan lagi tuntas sepenuhnya,” cetusnya. Nah, jika pada musim mudik gratis, maka mulai Oktober nanti Tol Palindra sudah berbayar.
“Tarif memang belum kita tentukan, tapi estimasinya sekitar Rp750 per km untuk kendaraan penumpang,” sebutnya.
Untuk kendaraan angkutan seperti truk, tarifnya lebih mahal. Tak hanya itu, pihaknya juga akan membuka dua jalur bukan satu jalur seperti sebelumnya.
Pengendara pun tak perlu mengkhawatirkan konstruksi jalan tol yang sempat amblas. Hasan menyebut pihaknya sudah melakukan perbaikan jalan di seksi 1 yang amblas itu. “Kita melakukan penyambungan kondaktur (pemindahan) kabel SUTT (saluran transmisi tegangan tinggi) dari 5 meter menjadi 11 meter,” ujarnya. Dengan begitu peralatan dan alat berat bisa masuk sekaligus melakukan vakum jalan kembali. “Divakum biar di dalam tanah kering, sehingga konstruksi jalan kuat,” bebernya.
Lalu bagaimana seksi 2 (Pemulutan-KTM Rambutan) dan 3 (KTM Rambutan-Simpang Inderalaya)? “Jadi target kami 2 seksi itu selesai akhir tahun 2017. Sehingga Tol Palindra pun bisa operasional seluruhnya saat itu juga,” bebernya. Meski saat ini progres seksi 2 baru 9,04 persen, sementara seksi 3 lebih baik mencapai 76,1 persen. “Kita tetap optimistis karena akan dikebut di sisa lima bulan,” bebernya. Total keseluruhan konstruksi Tol Palindra sudah 59,39 persen.
Dia yakin sisa itu bisa dikejar, sebab total pembebasan lahan per Agustus 2017 sudah mencapai 97,68 persen. Masalah pembebasan lahan yang paling penting. “Sementara, sekarang tinggal 9 bidang lagi dari total lahan yang belum bebas di seksi 2 dan 3. Itu semua sudah diserahkan di proses konsinyasi (Pengadilan Negeri OI) terkait permasalahan lahan,” tuturnya.
Selain Tol Palindra, ada tiga tol lagi yang juga masuk bagian dari proyek Tol Trans Sumatera yakni Tol TAA (Tanjung Api-Api), Tol Kapang Betung (Kayuagung-Palembang-Betung) dan Tol Pematang Panggang-Kayuagung. Hasan menyebut, sejak Maret 2017 pihaknya sudah melakukan penyusunan amdal (analisa dampak lingkungan), feasibility study, dan business plan. “Sekarang kita tengah buat detail engineering design (DED) dan ditarget selesai Oktober, sambil persiapan pembebasan lahan,” terangnya.
Dikatakan, tol ini bakal mulai dibangun 2018 mendatang dan ditarget akhir 2019 selesai. Mulai dari titik Musilandas sampai TAA sepanjang 70 km, juga akan terhubung dengan Tol Kapal Betung. “Untuk dana pembangunannya bisa mencapai Rp9,05 triliun,” sebutnya. Menurutnya, penyelesaian Tol TAA juga penting karena dalam rangka percepatan pengembangan kawasan di Pulau Sumatera. Apalagi tol ini hubungkan dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) TAA dan Pelabuhan TAA.
Nah, Hasan menyebut pengerjaan tol ini pun cukup rumit dibanding Palindra karena selain lebih panjang. Juga terdapat SUTT dan empat sungai yakni Sungai Gasing 1 dan Sungai Gasing 2, Sungai Sebalik dan Sungai Saluran PU. “Jadi tiap titik ini akan kita bangun jembatan agar kendaraan sungai tetap bisa lewat,” bebernya. Dalam pengerjaan, tol ini juga menggunakan metode vakum karena dominan juga lahan rawa.
Untuk pembangunan Tol Kapang Betung (Kayuagung-Palembang-Betung) dan Pematang Panggang-Kayuagung sendiri juga tengah dikebut. Pantauan Sumatera Ekspres, pada salah satu seksi Tol Kapal Betung Seksi 1a Desa Celikah, Kayuagung, puluhan pekerja melakukan penimbunan jalan dengan alat berat dan pemasangan terpal.
Di musim kemarau ini, kontruksi jalan tol senilai Rp13,296 triliun itu digiatkan dua kali lipat dari biasanya. “Cuaca lembab dan hujan membuat pembangunan jalan tol agak lambat, padahal pada pembangunan awal pengerasan jalan harus benar-benar kuat. Nah ini waktu yang tepat untuk menuntaskan itu,” kata Kepala Divisi VI PT Waskita Karya (Persero) Ruas Jalan Tol, Gunadi kemarin.
“Jika konstruksi dasarnya kuat memudahkan pembangunan jalan tol,” sebutnya. Tak hanya itu, cuaca kering juga memudahkan akses transportasi mengakut material. Sambil membangun konstruksi, pihaknya juga menyelesaikan persoalan yang lain yakni pembebasan lahan warga dan lahan PTPN yang belum sepenuhnya tuntas. “Saat ini masih kita urus sebagian lahan yang belum bebas itu,” sebutnya.
Catatan terakhir sampai Juni 2017, progres pembangunan fisik Tol Kapal Betung baru rampung 10,49 persen dari total panjang jalan tol 111,69 km. “Tol ini dibagi 3 seksi. Paling cepat seksi 1 sudah capai 23,29 persen dari total 20 km dan seksi 2 sekitar 20,23 persen dari total 18,80 km. Yang belum sama sekali seksi 3B dan seksi 3 masing-masing 0 persen dari total seksi 3B sekitar 5,31 km dan seksi 3 sepanjang 15,69 km,” imbuhnya. Walau begitu, pihaknya menargetkan akhir tahun 2017 progres fisik bisa capai 45 persen, karena 2018 harus tuntas seluruhnya.
Hal yang sama dengan Tol Pematang Panggang-Kayuagung senilai Rp12,3 triliun. Per Juni 2017, progres fisik sudah mencapai 11,64 persen dari total panjang jalan 77 km. “Untuk tol ini dibagi 4 seksi, masing-masing progres fisiknya 11,59 persen seksi 1, 18,51 persen seksi 2, 4,37 persen seksi 3, dan 5,23 persen seksi 4. Seksi 2 lebih cepat karena dikerjakan lebih awal,” cetusnya. Setelah proses penimbunan, kontraktor PT WK juga akan membangun tiang pancang sepanjang 12 km di kawasan Pedamaran serta menyelesaikan pembangunan underpass di Kelurahan Kedaton Kayuagung.
Terpisah, Kasubid Pengawasan Konstruksi BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Bambang Yudo mengatakan dari ke-4 jalan tol, paling cepat beroperasi memang Tol Palindra. “Tiga seksi Tol Palindra ditarget beroperasi paling lambat akhir tahun 2017,” terangnya. Sebab progressnya sudah mencapai di atas 50 persen dan seksi 1 yang paling siap.
Saat ini sejumlah pekerja tengah melakukan land clearing, timbunan jalan kerja, pemasangan textile woven, hampar pasir badan jalan, PVD dan PHD, konsplidasi metode vacum, pekerjaan subgrade, pekerjaan Base B, tiang pancang, stressing girder, pengerjaan barrier, pengaspalan dan pekerjaan gerbang tol. “Itu semua di seksi 2 dan 3,” pungkasnya. (yun/uni/ran/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!