Orang Gila Tak Wajib Puasa

Oleh : Armilia Sari

Adalah Mang Jupri, tetangga selang 8 rumah dari tempat tinggal kami yang sehari-hari berprofesi sebagai orang gila. Mengapa kusebut itu sebagai profesinya? Karena sebenarnya ia tidak benar-benar gila. Ia hanya berpura-pura gila. Hal ini dilakukannya bukan tanpa alasan. Sejak ditinggal mati ayahnya saat ia berusia 25 tahun, ia yang merupakan anak semata wayang tidak punya lagi tempat menggantungkan hidupnya. Ibunya sudah lama meninggal sebelum ayahnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sudah 5 tahun ini ia menyamar menjadi orang gila di tengah kota. Ini kuketahui pertama kali ketika kami seangkot menuju ke pasar. Aku ingat waktu itu Mang Jupri berpakaian lusuh. Celananya compang-camping. Wajahnya sangat kusam dan rambutnya kusut. Ia turun dari angkot tanpa membayar. Lalu ia berkeliling toko-toko di sekitar sambil berlagak tak waras. Sambil tertawa ia menengadahkan tangannya. Beberapa orang yang iba akan memberinya uang, sebagian yang lain memberinya sepotong roti atau buah. Sore harinya ia pulang naik angkot lagi, dan lagi-lagi tanpa membayar ongkosnya.
Beberapa orang di kampung kami sudah mengetahui kebohongannya, tetapi belum ada yang berani menegur. Yang anehnya, Mang Jupri ini juga terbebas dari kewajibannya membayar pajak. Alasannya tak lain dan tak bukan karena ia dikenal sebagai orang gila. Sebenarnya aku keberatan dengan perilakunya itu, tetapi ibuku melarangku menegurnya. Menurut ibuku, tidak baik menasihati orang yang lebih tua dariku, apalagi usiaku baru 14 tahun.
Hari ini hari pertama di bulan Ramadhan. Sebagai warga kampung yang hampir semuanya Muslim, kami sering berbuka puasa bersama di Masjid, kemudian dilanjutkan dengan sholat Maghrib, Isya, Tarawih dan Witir berjamaah. Oleh karena itu, ibu-ibu di kampung kami mulai sibuk memasak di siang harinya. Siang ini aku diminta ibuku pergi ke pasar untuk membeli keperluan memasaknya. Kali ini aku bertemu lagi dengan Mang Jupri di angkot. Dengan santai ia duduk di sampingku sambil makan keripik pedas.
“Mang, nggak puasa Mang?”
“Lah, sudah tau pakai nanya lagi lu!”
“Maksud saya, kenapa Mang Jupri nggak puasa?”
“Akh, banyak nanya lu bocah. Gue ni orang gila, nggak wajib puasa, ngerti nggak lu?”
“Orang gila kok sadar gila, Mang?”
“Kurang ajar lu! Gue gampar mampus lu!”
Hampir saja aku dipukul Mang Jupri dengan sandal bututnya. Untung saja ada seorang bapak yang melihat dan melerai kami. Kalau tidak ada beliau, mungkin badanku sudah babak belur dihajarnya. Turun di pasar, aku membayar ongkos dan berlari ke arah penjual sayuran. Tak kuhiraukan lagi Mang Jupri yang juga turun sambil melotot menatapku penuh amarah.
Seminggu kemudian kampung kami kedatangan tamu istimewa. Beliau adalah Haji Dermawan, seorang konglomerat yang dulunya lahir di kampung kami. Harta kekayaan tidak membuatnya lupa akan kampung halaman. Beliau datang memberikan bantuan pembangunan masjid. Beliau juga membagikan sedekah uang dan sembako. Tetapi Haji Dermawan ini tidak memberikan sedekahnya cuma-cuma. Beliau memberikan syarat, yaitu orang yang akan diberinya sedekah harus berpuasa terkecuali nonmuslim dan wanita yang sedang haid.
Semua warga di kampung kami sangat antusias mengantri pembagian sedekah dari Haji Dermawan, tak terkecuali Mang Jupri. Ia rela berdesak-desakan dengan warga demi mendapatkan uang dan sembako. Banyak warga yang menyorakinya karena tahu Mang Jupri tidak puasa, tetapi ia bersikeras tidak mau keluar dari barisan antrian. Keributan ini akhirnya didengar oleh Haji Dermawan. Beliau berhenti membagikan sembako dan berjalan menuju sumber keributan. Ketika beliau bertanya ada apa, berceritalah sebagian warga tentang Mang Jupri yang tidak puasa tetapi memaksa ikut mengantri ini.
“Saya ini orang gila Pak Haji, kan dalam Islam orang gila itu tak wajib puasa.”
Banyak warga yang langsung menyangkal alasan Mang Jupri. Mereka tahu persis bahwa Mang Jupri ini sebenarnya tidak gila. Haji Dermawan sendiri tertegun mendengar jawaban Mang Jupri. Beberapa saat ia terdiam seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Ditatapnya lekat-lekat Mang Jupri yang kini berdiri di hadapanya. Tak lama kemudian, Haji Dermawan memanggil salah satu asistennya. Beliau meminta asistennya itu mengeluarkan Mang Jupri dari barisan.
“Kenapa Pak Haji? Bukankah orang gila seperti saya memang nggak wajib berpuasa?”
“Mohon maaf, orang gila tidak masuk dalam daftar pengecualian syarat dari saya.”
Mang Jupri pulang dengan tangan hampa. Ia tak mendapatkan apa-apa kecuali sorakan dari warga yang sejak dulu membenci kelakuan buruknya.
*****

Baca Juga :  Bu Hijriyah

Armilia Sari, dosen Universitas Sriwijaya, penulis novel Cinta di Bumi Sriwijaya (2015)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!