Pagar Alam Kota Wisata Potensial

Oleh : Rini Tri Hadiyati, SST, MSi

Jika Jawa Barat punya Kota Bogor, Jawa Timur punya Kota Malang, maka Sumatera Selatan punya Kota Pagar Alam. Kota Bogor dan Kota Malang merupakan kota wisata yang banyak menjadi tujuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Lebih besar dari itu, Indonesia juga punya Bali yang dianggap sebagai surganya para wisatawan, belum dijuluki pelancong jika belum merasakan sensasi berlibur ke Bali.
Keberadaan kota-kota wisata ini adalah sebuah anugerah untuk provinsi masing-masing. Sektor pariwisata memberi kontribusi untuk kemajuan ekonomi di kota tersebut dan provinsi di mana kota tersebut berada. Seperti Provinsi Bali yang struktur ekonominya ditopang oleh penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum sebesar 22,82 persen (BPS, 2016). Kedatangan wisatawan memang akan memberi pengaruh paling besar pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebagai kebutuhan paling mendasar yang dibutuhkan wisatawan.
Masih Mengandalkan Sektor Primer
Saat ini kebanyakan provinsi di Indonesia masih mengandalkan ekonominya pada sektor primer yaitu pertanian dan pertambangan. Sektor pertanian semakin berkurang kontribusinya setiap tahun terhadap perekonomian karena lahan-lahan pertanian yang mulai beralih fungsi menjadi permukiman, perkantoran dan ruang-ruang publik lainnya. Misalnya saja sektor pertanian di Sumsel yang kontribusinya pada tahun 2010 sebesar 19,62 dan terus menurun setiap tahunnya hingga hanya 16,06 persen pada 2016.
Dalam kurun waktu 7 tahun sudah terjadi penurunan kontribusi sebesar 3,56 persen. Jika kita asumsikan setiap 7 tahun terjadi pengurangan kontribusi sebesar 3,56 persen, maka dalam waktu sekitar 30 tahun mendatang kontribusi sektor pertanian kian tergerus dan tidak mampu memberi kontribusi lagi terhadap perekonomian.
Demikian halnya dengan sektor pertambangan yang mengandalkan sumber daya alam yang bersifat tak terbarukan (non renewable resources), cepat atau lambat sumber daya ini akan habis. Sumatera Selatan termasuk provinsi yang masih mengandalkan sektor pertambangan sebagai leading sector, kontribusinya sebesar 19,89 persen, kontribusi tertinggi dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Selatan. Jika dilihat kontribusi sektor pertambangan pada tahun 2010 yang lalu sebesar 23,32 persen dan pada 2016 ini hanya tinggal sebesar 19,89 persen. Ini merefleksikan sumber daya tambang yang semakin menipis dan tidak bisa diandalkan untuk jangka waktu panjang. Kita memang harus segera memikirkan mesin penggerak ekonomi yang lebih mampu untuk survive.
Sektor Pariwisata sebagai Leading Sector Baru
Indonesia begitu indah, dari Sabang sampai Merauke terhampar keindahan alam yang menakjubkan dan menjadi daya tarik untuk parawisatawan. Jumlah wisatawan mengalami peningkatan tiap tahunnya. Pada tahun 2016 tercatat sebanyak 11,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia.
Infrastruktur di sektor pariwisatapun terus mendapat perhatian karena keindahan alam juga tidak bisa diberdayakan secara optimal jika tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai. Sektor pariwisata di Indonesia memiliki potensi untuk bisa dijadikan penopang perekonomian.
Berbeda dengan ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam yang suatu saat akan habis, sektor pariwisata mengandalkan keindahan alam yang tidak akan pernah habis, terlebih berlibur telah menjadi gaya hidup maupun kebutuhan banyak orang saat ini.
Kondisi Pariwisata di Pagar Alam
Kota Pagar Alam terletak sekitar 298 Km dari Kota Palembang dan merupakan daerah dataran tinggi sehingga suhu di kota ini menjadi dingin. Topografi Kota Pagar Alam merupakan daerah berbukit dan dikelilingi oleh pegunungan bukit baris, puncak tertinggi dari barisan tersebut adalah Gunung Dempo.
Di kaki Gunung Dempo terhampar kebun teh yang terlihat bagai permadani hijau. Pemandangan alam yang tersaji di Kota Pagar Alam sangat memanjakan mata dan pikiran. Selain keindahan gunung dempo, keindahan air terjun di Kota Pagar Alam juga menjadi daya tarik yang menjual.
Tetapi sayang sektor pariwisata di Kota Pagar Alam belum dikelola secara maksimal. Jika dilihat dari PDRB Kota Pagar Alam, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang menjadi refleksi geliat pariwisata di suatu tempat, ternyata hanya memberi kontribusi sebesar 3,27 persen.
Artinya sarana pariwisata yang tersedia masih kurang memadai. Kota Pagar Alam masih menggantungkan mesin perekonomiannya pada sektor pertanianya itu sebesar 23,09 persen (2016). Sektor unggulan selanjutnya yaitu sektor perdagangan sebesar 19,51 persen dan sektor konstruksi sebesar 17,18 persen. Sementara sektor penyediaan akomodasi dan makan minum jika diurutkan hanya menempati urutan ke-8 sebagai penyumbang perekonomian Kota Pagar Alam.
Keindahan alam tidak dimiliki oleh semua daerah. Hanya daerah-daerah tertentu yang dihadiahi keindahan alam yang selain membuat penduduknya bisa berekreasi setiap saat, juga dapat menjadi keuntungan secara ekonomi. Tetapi sayangnya hadiah berupa keindahan alam ini terkadang tidak dipotimalkan.
Kota Pagar Alam memang memiliki lahan yang subur untuk pertanian, akan tetapi alangkah semakin optimalnya jika keindahan alam juga dimanfaatkan dengan baik, sehingga semakin menarik para wisatawan untuk datang. (*)

* Statistisi Muda Seksi Neraca Produksi BPS Sumsel

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!