Pasar Cinde Tutup Operasional

Pasar Cinde resmi ditutup operasionalnya terhitung 8 Agustus 2017. Para pedagang diminta segera pindah ke tempat penampungan sementara. Foto: Budiman/Sumeks

PALEMBANG – Operasional Pasar Cinde resmi ditutup Selasa (8/8). Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel dan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, telah memasang spanduk penutupan operasional Pasar Cinde, kemarin. Mau tidak mau, pedagang mulai diminta pindah ke tempat penampungan sementara yang ada.

Tempat penampungan sementara yang sudah siap, yakni di Jl Cinde Welan dan Jl Letnan Jaimas. Hanya saja tempat penampungan sementara berupa di bagian depan gedung Pasar Cinde, masih belum kelar.

Pekerja masih memasang dinding batu bata untuk los, sembari pembuatan mejanya dari kayu dan plywood. “Ini, kami lagi mengemas barang yang akan dipindahkan ke tempat penjualan sementara,” kata Amri, pedagang alat tulis kantor (ATK) sore kemarin.

Meski demikian, dia jadi bingung. Tempat baru yang kecil berukuran 2×1,5 meter, tidak cukup menampung barang dagangannya. Karena di tempatnya yang lama lebih besar, ukuran 3×3 meter. “Jadi harus pilih mana yang bisa dipindahkan,” ucapnya.

Camat Bukit Kecil, Muflih, mengakui relokasi para pedagang Pasar Cinde ini terbilang alot dan butuh waktu lama. Hal ini terjadi karena pihaknya lebih melakukan pendekatan persuasif kepada para pedagang, ketimbang kekerasan atau paksaan. “Semoga pembangunan ini tidak ada halangan, segera cepat selesai,” katanya.

Lamanya relokasi pedagang ini, diakuinya butuh waktu lama karena masih ada terjadi perbedaan data jumlah pedagang. Juga ada penyesuaian dengan para pedagang, namun diakuinya semua itu sudah clear. “Yang pasti mulai hari ini (kemarin, red) Pasar Cinde sudah ditutup. Pedagang pindah ke tempat jualan yang baru,” tegasnya

Perwakilan dari Dinas Pedagangan Kota Palembang, Hendra Rama, mengatakan, secara umum perpindahan pedagang sudah siap. Tempat penampungan sementara pun pun juga sudah siap. Tinggal finishing di beberapa tempat, akan segera diselesaikan. “Mereka tidak keberatan, paling ada permintaan dari para pedagang untuk melengkapi pemasangan CCTV. Tujuannya untuk keamanan,” sebutnya.

Soal parkir, rencananya akan dimaksimalkan di depan Pasar Cinde. Juga, di bawah proyek LRT. “Mana titik yang bisa dimaksimalkan akan dilakukan sehingga tidak mengganggu dan para pembeli dan penjual merasa nyaman,” katanya.

Kepala Bidang Pemasaran dan Perizinan PD Pasar Palembang Jaya, Rianto, menjelaskan, para pedagang di tempat penampungan sementara akan tetap dikenakan retribusi Rp5 ribu per hari. Ini di luar dari retribusi kebersihan dan keamanan. “Kalau untuk kedua retribusi (kebersihan dan keamanan, red) menjadi tanggung jawab pihak lain,” sebutnya.

Dikatakannya, tempat penjualan sementara ini memang lebih kecil, tapi untuk fasilitas lengkap. Mulai listrik, toilet, musala, air bersih dan lainnya. Untuk jam operasional tetap sama, pagi hingga sore hari. “Tapi kalau memang ada pedagang yang ingin berjualan malam hari, tidak masalah,” imbuhnya.

Relokasi pedagang Pasar Cinde ini akan dilakukan secara bertahap. Kemungkinan pada Senin ini, sudah full aktif. Jumlah pedagang direlokasi, sebanyak 598 pedagang yang ditempatkan di kios dan los.

Kepala Cabang PT Magna Beatum Palembang Raimar, mengatakan, dengan direlokasinya para pedagang ini maka pembangunan Pasar Cinde bisa dilanjutkan. Meski diakuinya, pembangunan ini molor dari target yang ditelah ditetapkan.

“Awalnya, Agustus ini sudah groundbreaking, tapi kemungkinan pada akhir September dan targetnya pada 2019 pembangunan sudah selesai,” ucapnya. Plaza Aldiron Cinde ini akan dibangun 12 lantai. Mengusung konsep Trade Center tertinggi, yang nantinya akan menjadi pusat songket dan batik Palembang. Juga ada water park, apartemen dan pusat entertainment dan lifestyle. (yun/air/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!