Pendidikan Inklusi Membentuk Karakter Kebinekaan

Oleh: Sumartini SPd

Sekolah sebagai wahana dalam proses pembentukan karakter generasi bangsa di masa depan, diharapkan menjadi tempat di mana para tunas-tunas bangsa ini dapat nyaman belajar, berinteraksi dan bersosialisasi, serta menjadi tempat yang ramah dalam pengembangan potensi mereka.
Meski belakangan ini dunia pendidikan tanah air dirundung beragam permasalahan, namun tak menyurutkan semangat juang tenaga pendidik bersama stakeholder dunia pendidikan untuk terus berbenah demi mewujudkan pendidikan yang merata dan berkeadilan, mendukung potensi yang dimiliki masing-masing anak didik, tak terkecuali anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah ABK di Indonesia mencapai angka 1,6 juta anak. Dalam upaya memberikan akses pendidikan kepada mereka, pemerintah dalam hal ini Kemendikbud selain mendirikan sekolah luar biasa (SLB), juga mendorong meluasnya sekolah-sekolah inklusi di seluruh penjuru tanah air.
Sumatera Selatan (Sumsel) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang menjadi pelopor perkembangan dan kemajuan pendidikan inklusif. Komitmen Sumsel ini telah diakui Kemendikbud RI dengan pemberian penghargaan Inclusive Education Award (Anugerah Pendidikan Inklusif) pada September 2012. Penghargaan diserahkan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Prof Dr Ir H Musliar Kasim MS kepada Gubernur Sumsel Alex Noerdin dalam acara diselenggarakan Kemendikbud RI bersama Hellen Keller International (HKI) dan United States Agency for International Development (USAID) di Denpasar, Bali.
Terbitnya Perda No 4/2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Ramah Anak juga menjadi bukti konkret dukungan pemerintah provinsi dalam melaksanakan konsep pendidikan untuk semua, sekaligus menghapus rintangan ABK di Sumsel dalam mengakses layanan pendidikan.
Saat ini di Sumsel terdapat 75 sekolah dasar inklusif percontohan. Tersebar di 16 kabupaten/kota di Sumsel, utamanya di ibu kota kabupaten, kota, dan ibu kota kecamatan. Sudah ada pula 510 guru yang dibekali pembelajaran inklusif dan 60 guru lainnya yang telah memiliki lisensi sebagai master trainer.
Sebelum sistem pendidikan inklusif dikembangkan, kita mengenal dua model sekolah. Model segregasi yakni sistem penyelenggaraan pendidikan khusus yang terpisah dengan anak normal, dimana ABK ditempatkan secara khusus sesuai dengan kebutuhannya (tunarungu, tunanetra, tunadaksa, tunagrahita). Sekolah yang lazim disebut SLB (Sekolah Luar Biasa) ini memang dirancang secara khusus, mulai dari kurikulum, tenaga pendidik, sampai pada sarana prasarana penunjang. Lalu sistem pendidikan sekolah umum yang siswanya merupakan anak-anak normal.
Sedangkan sistem pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan sekolah umum (non-SLB) yang menerima ABK sebagai siswanya. Di sekolah inklusi, ABK belajar bersama dengan anak-anak normal, dengan pendampingan guru khusus. Keberadaan guru pendamping khusus (GPK) di sekolah inklusi memegang peran penting sebagai garda terdepan menyukseskan cita-cita mulia sistem pendidikan inklusif. Yakni membimbing ABK dalam proses belajar dengan berinteraksi dan bersosialisasi langsung dengan anak-anak normal di satu sisi, sekaligus memberi pemahaman sejak dini kepada anak-anak normal belajar berempati dan memiliki kepedulian di sisi lain.
Dengan demikian, melalui pendidikan inklusi diharapkan mampu membentuk karakter anak-anak yang cerdas, berakhlak, dan berkarakter kebinekaan. Bineka yang tak terbatas pada makna menghargai keberagaman suku, agama, ras, golongan saja, namun lebih luas lagi pada keberagaman kecerdasan/potensi. Howard Earl Gardner dari Harvard University, penulis buku tentang Theory of Multiple Intelligences (1983) menerangkan bahwa setiap manusia memiliki beragam kecerdasan/potensi. Menurutnya, ada delapan kecerdasan manusia yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan linguistik verbal, kecerdasan musikal ritmik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan spacial visual, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan intrapersonal.
Selama ini, umumnya sekolah-sekolah fokus pada kecerdasan intelektual saja. Di sinilah peran sekolah inklusi sebagai satu wadah yang menemukan dan mengembangkan keberagaman potensi/kecerdasan, baik siswa ABK maupun siswa normal, untuk dididik menjadi individu berkarakter kebinekaan yang mampu menghargai keberagaman, belajar berempati dan tolong menolong dalam kehidupan sosial.
Dalam proses mewujudkan cita-cita mulia itu, bukanlah hal yang mudah. Pada implementasinya di lapangan, berbagai kendala muncul menghadang. Namun semuanya bisa menjadi tidak berarti karena kuatnya komitmen semua pihak. Baik itu pemerintah, institusi sekolah, masyarakat, dan tentunya orangtua/keluarga yang memiliki ABK. Dukungan dari orangtua/keluarga untuk mau mendaftarkan dan konsisten dalam mendampingi mereka bersekolah menjadi faktor kunci.
Karena tak jarang, kita temui ABK yang putus sekolah atau bahkan sampai ada yang tak mengenyam pendidikan malah disebabkan oleh kekurangpedulian pihak keluarga terhadap pendidikannya. Semoga, ke depan, hal seperti itu tak terjadi lagi sehingga misi pemerintah memajukan pendidikan untuk semua dapat berhasil optimal dan setiap anak di mana pun mereka tinggal bisa mengakses layanan pendidikan, baik di SLB ataupun di sekolah inklusi yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Amin. (*)

Baca Juga :  Akhiri Liburan si Kecil di Mal ini

*Guru SLBB Negeri Pembina Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!