Pendidikan Pancasila Butuh Inovasi

JAKARTA – Kemenristekdikti berupaya menyuguhkan pembelajaran atau perkuliahan pendidikan pancasila yang inovatif dan sesuai dengan zamannya. Selama ini proses pembelajaran mata kuliah wajib ini berjalan cenderung konservatif, kurang menarik, serta tidak memicu adanya diskusi-diskusi di kalangan mahasiswa.
Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti Paristiyanti Nurwardani menuturkan, Kemenristekdikti saat ini sedang membuka “sayembara” hibah pembelajaran inovatif pendidikan kuliah di perguruan tinggi. Menurut dia pembelajaran pendidikan pancasila berjalan konservatif dengan hanya menyampaikan kisi-kisi saja.
Selain itu perkuliahan pancasila di kampus juga berjalan kurang menarik. Sehingga tidak merangsang menjadi bahan kajian-kajian lebih lanjut oleh mahasiswa. “Sehingga kurang membekas di mahasiswa,” kata perempuan yang akrab disapa Paris itu kemarin (11/6).
Dia menjelaskan dana hibah yang disiapkan untuk inovasi pembelajaran pendidikan Pancasila mencapai Rp1 miliar. Sementara untuk kuota kampus yang akan lolos seleksi, belum dibatasi. Paris hanya mengatakan, satu kampus bisa saja mendapatkan dana hibah Rp100 juta untuk pengembangan pembelajaran pendidikan Pancasila yang inovatif.
Nantinya kampus-kampus yang lolos seleksi dan mendapatkan dana hibah, diharapkan bisa menjadi hub atau rujukan bagi kampus-kampus lain di sekitarnya. Sehingga proses perkuliahan pendidikan pancasila bisa lebih inovatif dan hidup. Serta memicu adanya diskusi-diskusi di kalangan mahasiswa. “Perkuliahan pendidikan Pancasila yang disesuaikan dengan generasi milenial,” tuturnya.
Perkuliahan pendidikan Pancasila yang inovatif diharapkan bisa menangkal paham radikal di kampus. Secara khusus Paris menjelaskan, program hibah inovasi pembelajaran pendidikan Pancasila tidak ada kaitannya dengan dugaan radikalisme di kampus yang mencuat akhir-akhir ini. Paris menegaskan, program hibah inovasi pembelajaran pendidikan pancasila sudah dirancang sejak tahun lalu. (wan)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!