Perempuan Bermata Empat

1032
Izzah Zen Syukri

Oleh : Izzah Zen Syukri*

Alkisah, sayyidina Umar bin Khottob terkenal sangat peduli dengan rakyatnya saat ia menjadi pemimpin. Suatu malam saat sedang memeriksa rakyatnya, sampailah ia di gubuk salah satu warganya. Terdengar sayup-sayup dialog seorang gadis kepada ibundanya. “Wahai ibu, kenapa engkau mencampur susu dengan air. Bukankah itu berarti kita menipu kaum muslimin sekaligus menipu amirul mukminin. Bukankah amirul mukminin telah melarang kita berbuat curang?”
Ibunya pun menjawab, “ Apakah amirul mukminin melihatku sekarang?”
Gadis itu memberanikan diri menjelaskan, “Jika saat ini amirul mukminin tidak melihat kita, Tuhan semesta alam pasti menyaksikan perbuatan kita”.
Setelah menyelidiki siapa yang sedang berdialog itu, Sayyidina Umar pun tahu ternyata keduannya adalah penjual susu. Lantas. Amirul mukminin yang bijak ini mengumpulkan beberapa pemuda. Katanya kemudian, “Wahai para pemuda, siapakah di antara kalian yang akan menikahi putri penjual susu itu? Jika tak ada yang bersedia, akulah yang akan meminangnya”.
Akhirnya, Ashim putra sang khalifah-lah yang memilih gadis itu untuk pendamping hidupnya. Mereka hidup dalam damai dan bahagia. Rumah tangga mereka pun dikarunia putri yang bernama Laila. Setelah dewasa, Laila dipersunting oleh Abdul Aziz bin Marwan. Dari pasangan yang sholeh dan solehah ini lahirlah khulafaur rasyidin yang kelima, yakni Umar bin Abdul Aziz.
Bagi sebagian orang, kisah ini lazim didengar. Akan tetapi, saat ini aplikasinya jarang kita temui. Betapa orang jujur sulit dicari. Betapa orang yang mengenal Tuhan hingga ke hati, sukar ditemui. Tidak sedikit manusia, termasuk kaum perempuan, sangat senang dipuji jika kerja mereka bagus dan dilihat orang. Padahal, tanpa disaksikan manusia pun, Allah pasti melihat dan menilai kita. Inilah orang-orang yang tajam mata hatinya. Orang-orang istimewa ini tak terlalu peduli dengan penilaian manusia. Ia hanya bekerja, beraktivitas, dan beribadah semata-mata mengharap ridho Allah.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw Maa min abdin wa lahuu arba’ata a’yunin aynaani fii ro’sihi yabshiru bihimaa amrod dun yaw a ‘aynaani fii qolbihi yabshiru bihimaa amro diinihi ‘Wahai umatku, setiap orang memiliki empat mata, dua di kepala untuk melihat urusan dunia dan dua lagi di dalam hati untuk memandang urusan agama’.
Orang yang sempurna di mata Allah, termasuk kaum perempuan, adalah mereka yang bermata empat. Dua matanya yang menghias wajahnya menjadi indah dengan penampilan apa adanya, karena sederhana tidak berarti miskin. Sederhana tidak berarti kere. Sederhana tidak berarti berkekurangan. Dua mata lagi tertancap tajam di hatinya, yang memandang urusan agama dan memandang akan kebesaran Allah jauh lebih penting daripada urusan yang maya dan sesaat.
Para perempuan diberi kesempatan oleh Allah untuk mengandung dan menyusui. Perempuan diistimewakan Allah untuk memperoleh surga di rumah tangganya sendiri. Mata kepala dan mata hati yang dianugerahkan Allah kepada kita hendaklah diasah agar makin tajam dan cerdas. Perempuan yang memiliki ketajaman empat mata ini tidak hanya bicara pada penampilan semata, apalagi berkutat pada tema berat badan. Perempuan yang sibuk dengan timbangan, warna baju, perhiasan, dan berlomba-lomba urusan dunia adalah perempuan yang hanya bermata dua dan tumpul hatinya.
Jangan kecewakan Ibu Kartini, kawan. Beliau telah mengajak kita berjalan melintasi kepekatan dunia yang suram menuju kebenderangan, terutama dalam dunia pendidikan. Kita bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum Adam, dengan sama-sama bisa belajar, sekolah, dan menuntut ilmu seringgi-tingginya. Akan tetapi, kodrat kita sebagai perempuan membuat kita lebih indah di mata Tuhan saat kita bisa berdakwah bagi diri sendiri untuk menjadi orang baik dan melahirkan generasi yang baik, generasi yang berakhlak mulia, santun dalam bertutur, dan memiliki intelektualitas dan berintegritas.
Di dalam Alquran, Allah mencontohkan Hana yang melahirkan Maryam Ibunda Nabi Isa AS. Hana yang tegar walau hidup tanpa Imran, suaminya. Hana yang mendidik Maryam menjadi insan yang sholehah. Demikian pula Asiah, istri Fir’aun yang tetap teguh imannya walau berdampingan dengan suami yang congkak lagi sombong. Berbeda dengan istri Abu Lahab yang diceritakan Allah di surat Al-Lahab. Perempuan ini sangat bahagia membantu suaminya berbuat kezaliman hingga Allah menghadiahinya api yang menyala.
Selamat hari Kartini bagi kaum lelaki yang memiliki istri sejati. Selamat hari Kartini bagi kaum ayah yang mempunyai putra putri yang cinta ibadah. Selamat hari Kartini bagi para perempuan bermata empat, perempuan pencipta generasi yang hebat. (*)

Baca Juga :  Terima Kasih Kartini

*Manager Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, Palembang dan Dosen FKIP Universitas Sriwijaya

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!