Perempuan Itu Terlahir dari Doa

Cerpen KY Karnanta

Suara yang menggema dari pura jatuh tersungkur, menyusur pada jalan-jalan sunyi. Tetapi keheningan masih kurasa begitu bening, mengalir begitu deras dan aku menyaksikan bayanganku berenang di dalamnya.
Segalanya nampak begitu sama, meski aku tahu tak ada sesuatu yang benar-benar serupa; tatkala dedaunan kamboja luruh bertebaran di gigir jalan merah tanah, dan desing angin tak berhenti menggetarkan ranting-ranting, serta arah pendar kupu-kupu yang bergerak dengan gerakan tergunting.
Sementara di belahan langit yang jauh aku lihat sekawanan kelelawar berkelebat liar menghitami langit senja ini; senja yang perih, dimana aku menemukan kembali sketsa wajahmu yang lama terbingkai dalam sebuah lukisan bernama nostalgia.
Segalanya masih terlihat sama. Dinding kamar yang merekam gerak-gerik kita; lampu-lampu bambu yang mengerjap lemah; juga sepasang mata panah yang pernah kau titipkan kepadaku. Wajahmu tetap tinggal pada sebuah ruang paling sederhana dalam tubuhku.
Ketahuilah kekasihku, kau tak pernah pergi dari hatiku. Semenjak kau lesatkan busur panahmu, dan aku terbius, terjebak pada sekat-sekat kerinduan yang kini membuat aku memahami betapa palsu dan perih arti kebahagiaan. Jari-jarimu yang pernah menyentuh tubuhku masih bisa kurasakan jejaknya sebagai kenyataan pahit, namun selalu ingin kukenang. aku perempuan tidak diciptakan untuk laki-laki. aku perempuan tidak diciptakan atas kehendak laki-laki
Ketika engkau pergi, aku pun tak mengerti mengapa hidup begitu indah memberi dirimu kepadaku, namun sedetik kemudian merampasmu kembali. Oh, tidak. Hidup tidak pernah merampasmu dariku. Hidup membiarkan kau ada di dekatku, namun kehendakmu, kehendak mereka yang kau sebut suci, tak pernah membiarkan kau dan aku menjadi sepasang kupu-kupu yang terbang berpendaran menyapa padang ilalang. Aku adalah mahluk berakal dan berhati. Aku adalah mahluk yang memiliki birahi dan mimpi! adakah makna kesucian perempuan ataukah hanya batas-batas picik yang sengaja dikuduskan?
Dan aku menemanimu, juga mereka, para lelaki yang sedarah denganmu. Mengembara dari sunyi ke sunyi. Manapak dari satu pengabdian menuju ke pertapaan yang lain lagi. Cintaku padamu, adalah bocah gembala di sabana luas dan tak tahu kemana arah.
Kerinduanku padamu, adalah perahu kecil yang tersesat, terjebak dalam gulungan ombak dan tak tahu di mana tepi. Dan melebihi seorang resi, aku telah mengihami betapa dewata tidak pernah menciptakan kebahagiaan tanpa kekalutan. Maka aku tetap menginginkanmu, kekasihku. Aku ingin dirimu. Adakah kau mengerti, kekasihku, adakah kau memahami? aku adalah dia yang selalu bersama lima satria. Aku adalah dia yang menerima tanpa bisa bertanya mengapa
Jalan-jalan kembali begitu sunyi. Hanya kudengar gemerincing suara kaki hujan yang menikam dedaunan, barisan ilalang yang seolah terus menengadah tanpa pernah mengaduh. Tetapi senyumanmu itu, kekasihku, senyumanmu menjadi penuh oleh bisikan-bisikan yang menerkam, lalu memaktubkan aku ke dalam cerita-cerita; sebuah legenda yang kelak akan terkenang sebagai genangan air mata dan belenggu diriku.
Oh, kepada bumi yang menerbitkan kehidupan, kepiluan, kebahagiaan dan kepalsuan, dengarlah aku merintih dalam kelana yang tak ku tahu di mana harus berhenti. Ingatanku pingsan, tekapar di persimpangan jalan dan kurasakan bayanganku muntah, hingga terpecah menjelma suara-suara yang tak bisa ku mengerti. apakah arti kenangan itu, kekasih. selain rindu yang kukecap begitu perih
Hingga tiba saat-saat pertaruhan itu. Engkau, kekasihku, dan mereka yang sedarah satu silsilah denganmu menyaksikan para bandit culas dengan zirah di tubuh mereka mencoba mengoyak kehormatanku. Aku adalah dia yang tidak dilahirkan dari senggama.
Aku adalah dia yang diciptakan dari persetubuhan doa-doa. Dan aku adalah dia yang selalu bersama lima satria. Tidakkah kau mengerti, kekasihku! Aku tercabik kenistaan, terkapar terkubur rasa malu dan tangis yang abadi. Dan derai isak ini adalah tanda, betapa aku tak pernah menghendaki sesuatu ini terjadi.
Tetapi kau, dan mereka sekalian hanya terdiam, berdiri setegak tugu dengan tatapan mencoba menyeringai mengingkari kenyataan. Ini aku, perempuan suci yang mendampingimu dan membaptis segala setia pada satu sumpah; aku mencintaimu!
Ini aku, perempuan yang dipaksa pada kehinaan sempurna, dan kalian, para kekasihku hanya terdiam, tenggelam dalam gelak tawa yang bagiku lebih tepat disebut dengan ribuan jarum yang melesat menikami tubuhku. kebenaran tidak selalu kenyataan meski kenyataan seringkali mereka sebut sebagai kebenaran
Kini, dalam ruangan kecil ini, kembali aku melihat ranting-ranting yang sama. Daun-daun terserak setelah angin mengibaskan sayapnya hingga sudut yang terkecil. Langit menghitam menyerupai jelaga. Aku, perempuan yang tidak diciptakan dari senggama; aku, perempuan yang menemani lima satria, telah melihat letak dunia yang tersungsang dan tak ada kebenaran yang sejati.
Segalanya, akan terjadi bersama cinta dan khianat. Dan aku bersumpah, oh dewata agung, dengarlah sumpahku. Aku tak akan menyanggul rambutku sebelum kucuci dengan darah bagi dia yang telah mencoba menelanjangiku…
***
Panca menghela nafas panjang. Ia berhenti membaca cerita itu. Diletakkannya buku dongeng tersebut di atas meja. Kemudian matanya menerawang jauh. Jauh, teramat dalam seperti ada sesuatu yang telah lama ia pendam kembali muncul. Lalu jemarinya menyentuh jari-jari Made, gadis yang pernah singgah pada hatinya dahulu.
Panca teringat saat-saat yang menyenangkan dahulu, di mana mereka saling menjadi arti di balik senyuman masing-masing. Namun, karena suatu sebab yang memang sengaja ia buat-buat, ia memutuskan untuk berpisah secara sepihak. Panca pergi tanpa pernah memberi kabar. Sekalipun Made berungkali mencoba bertemu atau sekedar berbicara dengannya lewat telepon, ia menolaknya.
Semenjak itu, Made jatuh sakit. Keputusasaan yang dalam pada seseorang bisa menciptakan luka yang tak dapat ditemukan namun selalu dapat dirasakan. Luka yang dapat membiakkan luka-luka yang lain lagi. Dan pengobatan yang telah ia jalani menuntut efek yang menakutkan. Rambutnya rontok dan badannya terus menyusutt kurus. Tulang pelipis matanya cekung, terpejam dengan flek hitam di kelopaknya. Kini, di saat-saat terakhirnya, Made ingin agar Panca mau membacakan dongeng pengantar tidurnya. Dan permintaan itu tidak bisa ditolak oleh Panca. Meskipun, sesungguhnya Panca tidak ingin melakukannya.
Panca menggerakkan tubuhnya. Ia ingin mencium kening Made yang kini pulas dengan wajah pasi tergolek lemah, sekaligus membisikkan pamit. Seperti ada yang bergetar di hati Panca ketika ia menempelkan bibirnya di kening Made. Mata Panca terpejam sesaat. Dengan kondisimu yang seperti ini, pikir Panca, mungkin ini akan menjadi pamitku yang terakhir. Saat-saatmu terlihat semakin dekat. Kemudian ketika ia membuka matanya, tiba-tiba sesuatu terjadi.. Entah mengapa ia melihat wajah Made berubah menjadi begitu cantiknya; menjadi begitu anggunnya. (*)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!