Pesan Moral Kisah Qurban

Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A
Mudir PP. Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan Indonesia

Al-Quran menceritakan sebuah kisah pengorbanan terhebat dalam sejarah. Pengorbanan tersebut dilakukan oleh Ibrahim as. yang bersedia menyembilih putera tercinta yang begitu lama dinanti lahirnya yakni Ismail as. Kisah ini diceritakan secara panjang lebar dalam surat al-Shaffat ayat 99 sampai ayat 111.

Kisah Qurban
Allah swt. menceritakan kisah seorang nabi mulia yang belum mendapatkan keturunan hingga hari tuanya yakni Nabi Ibrahim as. Pada usia senja, Nabi Ibrahim dikarunia seorang putera bernama Ismail as. Akan tetapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena Allah mengujinya dengan meminta Isma’il as. untuk dikorbankan dengan cara disembelih.
Nabi Ibrahim as. dengan penuh keyakinan dan kebijaksanaan melaksankan perintah ini. Sebelum Ismail disembelih, Allah swt. menggantinnya dengan seekor domba yang besar yang putih, bersih, dan tidak ada cacatnya. Lalu domba inilah yang disembelih oleh Ibrahim as. Kisah ini menjadi landasan ibadah kurban yang dilaksakan oleh umat muslim setiap tahun pada hari raya ‘idul adha dan hari tasyriq.. Jika diperhatikan rangkaian ayat dan juga penjelasan ulama mengenai kisah ini, maka setidaknya ada tiga buah pelajaran (ibrah – pesan moral) yang dapat dipetik, yaitu: Ibadah Kurban, Musyawarah, dan Kesabaran.

Kurban
Kisah Penyembelihan Ismail yang diganti dengan seekor domba menjadi awal bagi lahirnya perintah berkurban pada zaman Rasulullah saw. Ibadah ini dilaksanakan pada hari raya Idul Adha dan hari tasyriq yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Hewan kurban terdiri dari binatang-binatang ternak seperti unta, sapi, kerbau, dan kambing yang tidak cacat badannya, tidak sakit, dan cukup umur. Ibadah ini hukumnya sunnah muakkadah berdasarkan pada firman Allah surat al-Kautsar: 2.
Pada Surat al-Maidah ayat 27 Allah menceritakan tentang peristiwa Qurban yang dilakukan oleh dua orang anak Adam. Salah satunya diterima dan lainnya tidak. Kemudian pada akhir ayat Allah swt. berfirman Sesungguhnya Allah hanya menerima dari para Muttaqin. Menurut Quraish Shihab, Penerimaan yang dimaksud adalah penerimaan yang sempurna. Bukan berarti Allah menolak jika yang menyembahkan tersebut belum mencapai derajat muttaqin. Para ulama telah sepakat menyatakan bahwa seorang Muslim, kendati belum mencapai derajat muttaqin, insya Allah amal-amalnya akan diterima oleh Allah swt.
Pada masa Nabi Ibrahim as., terjadi banyak sekali penyimpangan. Pada masa itu, kebiasaan masyarakt di seantero bumi adalah mengorbankan manusia untuk tuhan yang disembah. Misalnya saja pengorbanan anak wanita untuk Dewa Sungai Nil. Perintah penyembelihan Nabi Ismail adalah sebuah pelurusan aqidah. Bahwa yang patut dipersembahkan kepada Allah bukanlah manusia. Allah swt. Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah tidak menghapuskan tradisi Qurban tetapi Allah menghapuskan tradisi berkurban atau menjadikan manusia sebagai sesajian. Allah tetap menggariskan kesediaan berkurban dengan apa saja yang dilambangkan dengan penyembelihana hewan ternak seperti kambing, domba, sapi atau unta yang sempurna.
Ibadah Qurban dapat menghadirkan sebuah nilai kepedulian sosial. Dengan menyembelih hewan ternak dan membagi-bagikan dagingnya pada hari raya Idul Adha diharapkan masyarakat Muslim dapat sama-sama merasa nuansa kebahagiaan di hari raya, serta mengingat sejarah dan napak tilas pengorbanan dan kesabaran Nabi Ibrahim dan Ismail as.

Baca Juga :  Pandai Menempatkan Sesal

Musyawarah
Poin kedua yang juga sangat penting dari kisah penyembelihan adalah hadirnya nilai Musyawarah. Pada penggalan kisah dapat difahami bahwa ketika Ismail telah sampai pada usia yang cukup untuk bekerja, para ulama berselisih pendapat tentang usia Ismail saat itu, Ibrahim menceritakan satu hal penting perihal mimpinya. Kita tidak mengetahui kapan peristiwa mimpi itu terjadi, bisa jadi mimpi itu baru saja terjadi dan langsung diceritakan atau mimpi itu terjadi saat Ismail masih balita dan Ibrahim belum menceritakannya dan menunggu hingga Ismail dewasa atau dapat mengerti tentang hal tersebut. Kemungkinan yang kedua ini lebih masuk akal karena pada awal ayat dikatakan falamma balaga ma’ahu al-sa’ya “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya” sepertinya Ibrahim memang menunggu hingga Ismail telah sanggup bekerja dan memahami tentang perintah penyembelihan tersebut.
Ibrahim menceritakan tentang mimpinya menyembelih Ismail kemudian bertanya kepada Ismail: Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Jika logika dibiarkan masuk pada masalah ini, tentu akan difahami bahwa Ibrahim merupakan seorang yang patuh kepada Allah swt. Ketika ia diperintah untuk melakukan sesuatu tentu ia akan melakukannya. Bahkan jika Isma’il menolak untuk disembelih, tentu saja Ibrahim akan tetap melaksanakan perintah Allah tersbut, lalu apa gunanya ia bertanya?
Pada bagian ini dapat dilihat bagaimana kemukjizatan bahasa al-Quran. Dengan hadirnya tradisi musyawarah ini menunjukkan bahwa perlu adanya budaya saling memahami. Seseorang yang diperintah sebaiknya memahami maksud dan tujuan perintah tersebut. Ismail tentu akan merasa heran jika ayahnya langsung menyembelih dirinya tanpa berbicara terlebih dahulu. Ismail bisa saja berprasangka buruk terhadap ayahnya jika tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan perintah Allah swt. Hal ini semenstinya ditiru, perlu ada pemahaman bersama tentang perintah-perintah yang diberikan oleh Allah swt. agar kehidupan yang harmonis dapat tercipta.
Dalam berdakwah atau berbuat Amar Ma’ruf Nahi Munkar semestinya dibangun budaya toleransi dan dialog. Dalam berdakwah, ada dua konsep utama yang harus dijadikan patokan, pertama, jangan dengan paksaan, dan kedua, perlu ada pemahaman bersama. Hal ini sesuai dengan pola dakwah yang terdapat dalam surat al-Nahl ayat 125 “serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah,dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” konsep dakwah yang baik adalah dengan memberi contoh, serta dengan pendekatan dialogis dan bukan pendekatan paksaan atau kekerasan.

Baca Juga :  Kamar Nomor Dua Selalu Dipakai

Sabar
Saat Ismail ditanya tentang kesediaannya untuk disembelih, ia menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintah (Allah) kepadamu; Inysa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. Dengan begitu rendah hatinya Ismail as. menyatakan bahwa beliau akan menjadi bagian dari orang yang sabar.
Artinya Isma’il as. mengakui adanya orang-orang lain yang dapat sesabar dirinya atau bahkan jauh lebih sabar. Ayahnya juga termasuk orang yang sabar, seorang putra yang ia damba dan dinanti dengan penuh harap ternyata harus dikorbankan dan disembelih dengan tangannya sendiri.
Kesabaran Nabi Ismail dapat menjadi contoh yang baik dalam kehidupan kita. Kesabaran yang disertai dengan keadaan sosial atau masyarakat yang juga sabar. Artinya, kesabaran yang semestinya dibangun bukan hanya kesabaran individual tetapi bahu membahu saling mengingatkan untuk bersabar.
Demikianlah tiga buah pesan moral dari kisah Quran ini. Nilai-nilai kepatuhan dalam ibadah qurban, nilai musyawarah, serta kesabaran seharusnya senantiasa dilestarikan agar negara Indonesia dapat menjadi negara yang Gemah Ripah Loh Jenawi, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. (MA.)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!