Pilih Singapura atau Banyuwangi

Oleh: AZRUL ANANDA

Pilih weekend ke Singapura atau Banyuwangi? Dua opsi itu disampaikan di meja makan, saat rapat keluarga bersama tiga anak berusia 9, 7, dan 6.
***
Pusing juga jadi orang kota, yang punya ”anak kota”. Apalagi saat berusaha membuat mereka lebih dekat dengan alam, mengurangi kedekatan mereka dengan segala hal yang berbau screen, khususnya touch screen.
Apalagi kalau anak-anak itu liburnya lebih lama dari yang lain. Karena sekolah yang lebih mahal ternyata liburnya juga lebih panjang.
Weekend terakhir di bulan Juli kemarin adalah kesempatan terakhir weekend bersama satu keluarga. Dan mohon maaf, sama sekali bukan bermaksud tinggi hati, kami punya masalah liburan orang-orang yang punya uang: Anak-anak minta ke luar negeri.
Karena hanya weekend, mereka minta ke Singapura dan Johor, main ke Universal Studios dan Legoland. Kalau tidak bisa, mereka minta ke Bali.
Saya dan istri pusing juga. Weekend bareng sangat penting, karena kami jarang pergi satu keluarga. Tapi, kami tidak ingin terus-menerus punya problem orang yang punya uang. Dan kami sangat ingin anak-anak ini melihat tempat yang harus mereka lihat, dan itu banyak di Indonesia.
Dekat dengan alam di Indonesia, mengurangi interaksi dengan aneka macam touch screen. Terus terang saya bukan orang yang hobi berlibur di alam, tapi saya juga ingin anak-anak saya lebih suka alam.
Weekend kemarin, ada opsi satu yang ingin kami berikan kepada anak-anak: Ke Banyuwangi. Sudah bukan rahasia, Banyuwangi berkembang luar biasa wisatanya dalam beberapa tahun terakhir. Mas Abdullah Azwar Anas, sang bupati, termasuk salah satu teman favorit saya untuk bertukar pikiran. Setiap kali bertemu (biasanya ngopi), selalu ada saja cerita-cerita baru yang seru. Apalagi, kami berusia hampir sama, dan sama-sama tipe ”umek” (tidak bisa diam).
Pada 2014, kami juga sama-sama naik panggung sebagai pemenang Marketer of the Year di acara MarkPlus. Beliau di kategori pemerintahan, saya di kategori media. Saya sendiri sudah beberapa kali ke Banyuwangi. Tapi tidak pernah lama. Biasanya kalau ada urusan kantor (ada Jawa Pos Radar Banyuwangi), atau ikut balapan sepeda di sana.
Istri saya sangat suka alam, dan sangat pengin ke sana. Sekarang tinggal bagaimana berbicara dengan anak-anak yang masih berusia 9, 7, dan 6 tahun. Bagi saya dan istri, ada beberapa alasan pergi selain liburan. Saya bisa bertemu teman-teman Radar Banyuwangi, bertemu teman-teman sepeda di Banyuwangi, dan tentu saja bertemu lagi ngobrol seru dengan Mas Azwar Anas.

Baca Juga :  Prestise, Malaysia- Singapura Favorit

Juga bisa menikmati Festival Batik Banyuwangi, yang sudah lima tahun diselenggarakan di sana.
Bagi istri saya, selain bisa menuntaskan bucket list-nya lihat blue fire di Ijen, dia bisa bertemu dengan teman-teman fashion dan designer-nya di Festival Batik Banyuwangi. Nah, buat anak-anak alasannya apa? Argumen apa yang bisa disampaikan, sehingga Banyuwangi bisa mengalahkan Singapura sebagai opsi pergi weekend tersebut.
Banyuwangi vs Singapura. Dari Mas Azwar Anas, plus teman-teman di Banyuwangi, ada beberapa tempat yang direkomendasikan. Kami lantas meminta anak-anak, khususnya yang pertama, untuk browsing tempat-tempat itu.
Dengan wajah mengernyit, dia buka foto-foto Solong Beach Villa, tempat kami akan menginap, dan Bangsring, tempat wisata pantai yang akan kami kunjungi. Dan foto-foto wisata lain Banyuwangi.
Rasanya, dengan berat hati, dia bersedia ke Banyuwangi. Dengan catatan, di hari lain nanti tetap ke Singapura kalau ada kesempatan (maunya tetap menang, wkwkwkwk, just in case liburan kali ini mengecewakan).
Saya dan istri lega. Ini kemenangan tersendiri. Dan mungkin ini kemenangan juga untuk Banyuwangi… Plus ada bonusnya, karena dua teman saya bersedia ikut membawa keluarga weekend ke Banyuwangi.
***
Foto-foto dan penjelasan belum tentu sama dengan kenyataan. Apalagi kalau melihat secara online, dengan maraknya ketidakbenaran di dunia maya. Seeing is still believing. Experiencing adalah ujian yang sesungguhnya.
Naik Garuda dari Surabaya ke Banyuwangi tidak sampai satu jam. Begitu mendarat pagi itu, kami makan pagi dulu di Pecel Ayu, lalu langsung menuju Bangsring Underwater. Ya ampun kerennya. Lebih asyik daripada gambarnya.
Karena memang tidak bisa berenang, jadi saya asyik-asyik aja apung-apung pakai pelampung. Teman-teman dan keluarga yang lebih asyik. Dari rumah apung, lompat berenang dan memberi makan ikan-ikan di laut. Lalu snorkeling lihat terumbu karang. Bisa juga berenang bersama ikan hiu.
Bangsring bukan tempat wisata biasa, karena ini juga tempat konservasi yang sip. Ikhwan Arief, pengelolanya, bukan sekadar pejuang lingkungan yang bakal meraih penghargaan Kalpataru tahun ini. Dia juga seorang pengelola kawasan wisata yang punya visi dan bisa berpikir praktis. Usianya masih 33 tahun!
Saking asyiknya, keesokan harinya, anak-anak minta kembali main ke Bangsring. Jadi dua hari main di sana terus. Ada satu kebijakan Ikhwan yang saya suka sekali: Mereka yang jualan di Bangsring tidak boleh mematok harga ajaib. Harga barang dan makanan tidak boleh jauh dengan di luar.
Saya jadi ingat waktu mengunjungi sebuah pantai di kota lain di Jawa Timur. Sudah pantainya jorok tidak tertata, beli makanan harganya seperti di airport. Dipukul ke atas. Sudah tidak enjoy, ditambahi perasaan sebal…
Weekend itu kami juga mengunjungi pemandian Kalibendo, makan di Java Banana, lihat konservasi penyu, dan lain-lain. Kami menginap di Solong Beach Villa yang sangat di luar dugaan asyiknya, padahal terletak di kota! Pada satu tengah malam, istri saya dan beberapa teman naik ke Ijen (saya sih tidur sama anak-anak, karena buat saya tidur itu paling mahal wkwkwkwk…).
Sabtu malam, kami menikmati Festival Batik Banyuwangi. Bintang tamunya memang top-top, tidak perlu saya tuliskan di sini. Tapi, yang saya lihat dari acara itu, dan dari orang-orang yang saya temui, adalah antusiasme dan adanya kebanggaan jadi orang Banyuwangi. Yang berubah bukan hanya kotanya.
Masyarakatnya juga punya pride. Itu buat saya lebih ajaib. Saat menonton Festival Batik, Mas Anas menjelaskan kolaborasi antara para desainer top ibu kota dan UKM lokal. Pada dasarnya beliau bilang, ”Supaya para UKM itu bertemu dengan orang-orang Jakarta, menambah wawasan dan kemampuan.”
Saya pun menimpali, kalau manfaatnya bukan satu arah. ”Yang di daerah juga bisa banyak memberikan pelajaran kepada orang-orang Jakarta,” kata saya. Mas Anas tidak hanya berhasil membuat Banyuwangi berubah hebat. Dia juga berhasil membuat orang-orang Banyuwangi ikut berpartisipasi membuat lebih maju lagi. Asli T-O-P-B-G-T.
Sebelum pulang, kami juga mampir ke bandara baru yang sudah jadi bangunannya, dan secara bertahap akan segera digunakan. Bandara berkonsep hijau, tanpa AC. Tidak perlu saya tulis panjang, sudah banyak penjelasan soal itu di dunia maya.
Bandara ini bagi saya juga merangkum Banyuwangi dan Mas Anas: Cara berpikirnya tidak hanya maju atau modern, tapi juga ”the next level” dan ”one step ahead dari yang sudah maju”. Genius. Genius. Apalagi melakukan itu semua di negara yang segala macamnya begitu rumit dan prosedural…
***
Tidak terasa, weekend sudah berakhir. Sebelum balik, saya iseng bertanya kepada anak-anak saya. Penasaran, seperti apa perasaan mereka. Apakah menyesal dirayu ikut ke Banyuwangi. Saya tanya kepada yang paling kecil, karena dia yang akan menjawab dengan paling spontan, paling polos, paling jujur.
”Enak mana, Banyuwangi atau Singapura?” Yang paling kecil menjawab spontan: ”Sama!” Mendengar itu, saya hanya bisa tersenyum. Itu jawaban sederhana, tapi penuh makna. Karena di mata anak kecil yang sangat ”kota”, yang tidak punya tendensi apa-apa dalam menyikapi kecuali untuk kesenangannya sendiri, Banyuwangi sudah setara dengan Singapura!
Itu, menurut saya, adalah sebuah kemenangan. Kemenangan untuk Banyuwangi, kemenangan untuk Indonesia. Anak-anak dan istri pun sudah punya rencana-rencana kalau nanti kembali ke Banyuwangi. Tak sabar rasanya kelak kembali dan melihat lagi karya-karya dan perkembangan ajaib dari Mas Anas dan warga Banyuwangi! (*)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!