Prestasi dalam Beribadah dan Berkarya

Amrullah Ahmad SAg MM

Tanggal 1 Muharam menjadi momentum bersejarah bagi umat Islam seantero dunia sebagai tonggak kebangkitan Islam menuju kemenangan yang gemilang. Kesuksesan Rasulullah Muhammad saw yang mengemban misi dakwah menjadi panduan bagi kita sebagai generasi penerus perjuangan cita-cita mulia.
Tahun Baru 1440 Hijriah bermakna bagi kita untuk merefleksikan diri dalam upaya menjadi insan yang unggul dalam banyak hal. Masing-masing kita perlu memerankan diri sesuai dengan proporsi, tugas dan tanggung jawab. Yang jadi ayah, perankanlah diri sebagai teladan bagi anak-anak, istri dan keluarga. Yang jadi ibu, perankanlah diri sebagai madrasah bagi anak-anak, suami dan keluarga. Yang jadi anak, perankanlah diri sebagai murid yang baik, patuh dan berdisiplin.
Juga sebagai bagian dari masyarakat, kita seharusnya mampu memerankan diri sebagai pemuka masyarakat yang menggerakkan anggota agar selalu berbuat. Sebaliknya, sebagai anggota masyarakat, kita mampu memberikan sumbangsih bagi kemaslahatan bersama. Bila ini kita lakukan maka akan tercipta kedamaian, ketenteraman, ketertiban, keteraturan, keberadaban, dan kerukunan.
Daya Juang-Daya Saing
Dalam hidup yang singkat ini, kita dihadapkan dengan beragam tantangan dan hambatan. Karena kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak mungkin dihindari, maka tanamkan daya juang yang kuat dalam diri kita. Sebab bila tidak, akibatnya kita akan kalah bersaing dalam segala bidang kehidupan yang menuntut serba cepat dan berkualitas. Kalau kita lambat, atau terlambat, atau melambatkan diri, tentu saja yang rugi adalah kita sendiri, bukan orang lain.
Pada era modernisasi dan globalisasi, semua kita bisa menyaksikan, bagaimana dunia yang begitu luas dalam pandangan manusia, akhirnya menjadi sempit. Bila kita tidak memiliki landasan yang kuat dengan modal ‘daya juang’ tadi bagaimana mungkin kita menunjukkan ‘daya saing’ karena awalnya saja kita sudah lemah. Karenanya Rabbul Jalil, Allah swt mengingatkan kita agar tidak meninggalkan generasi yang lemah (dzurriyatan dhi’afa, QS 4: 9).
Lemah di sini mencakup berbagai aspek, bisa saja dari aspek fisik-jasmani yang lemah sehingga mudah sakit. Bisa juga dari aspek mental-rohani dimana jasadnya kuat, terlihat gagah, tetapi sebetulnya dia lemah. Mengapa lemah? Karena dorongan dari dalam diri (inner) manusia sangat memengaruhi badan yang tampak atau kasat mata (outer). Lalu kita mementingkan yang mana? Kedua-duanya sama-sama penting. Agar ibadah yang kita lakukan dapat sempurna dan kitapun mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi penduduk bumi.
Nilai Jual-Prestasi
Berhadapan dengan tantangan dan hambatan hendaknya masing-masing kita mampu membaca peluang. Apa yang perlu kita lakukkan, mulai dari mana, mengapa kita melakukannya? Jangan asal-asalan. Harus ada ‘nilai jual’ yang kita tunjukkan pada dunia [dalam bahasa sederhananya “lingkungan sekitar” bahwa kita mampu berbuat dan kita mampu bersaing dengan beragam prestasi yang kita miliki.
Nilai jual, berarti ada yang kita promosikan, alias ada yang kita unggulkan, bahwa kita bermutu dan kita berkualitas. Saat kita bersanding dengan para pesaing, kita akan enjoy-enjoy saja, tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Prinsipnya satu, bersaing dalam hal kebaikan (fastabiqul khairat). Inilah yang membuat diri kita nyaman dan aman, jauh dari resah dan gelisah (wa la tahinu wa la tahzanu), serta tidak pernah berputus asah (la tai-asuhu mirrawhillah).
Kita ini pemeluk Islam sebagai umat yang mulia, wa antumul a’lawna’, predikat yang melekat kuat di pundak kita. Mengapa kita sendiri yang justru menceburkannya dalam kesesatan, bergelimang kemaksiatan dan selalu berbuat dosa? Astaghfirullah. Minta ampunlah kepada Allah swt. Pintu taubat ‘masih’ terbuka lebar buat mereka yang masih mau kembali ke jalan-Nya, jalan yang lurus, jalan yang menyelematkan buat kehidupan dunia ini yang fana, juga akhirat kelak yang pasti adanya serta abadi.
Ada Kebanggaan
Adakah kebanggaan yang miliki pada diri kita, atau pada anak-anak kita, atau pada isteri-isteri kita, atau pada suami-suami kita, dan/atau pada keluarga kita? Prestasi apa yang sudah kita ukir dan prestasi apa sudah mereka torehkan? Apa yang kita dan mereka lakukan? Adakah peran kita dalam mengarahkan dan membimbing mereka sehingga layak bagi kita memperoleh kebanggaan dari mereka?
Kalau yang terakhir ini sudah kita lakukan mengarahkan dan membimbing, maka pantas dan layaklah bagi kita untuk menuntut mereka agar menghasilkan ‘kebanggaan’. Kebanggan dimaksud bisa saja dalam wujud prestasi ibadah atau juga prestasi berkarya. Manakala mereka telah menjalankan syari’at, termasuk ibadah mahdhah, maka ini adalah sebuah prestasi. Konsekuensi ‘menjadi muslim’ yakni ada beban yang harus dia pikul setelah ikrar, pengakuan hati dan lisan yang kemudian dimanifestasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Ataupun juga dalam wujud prestasi berkarya, entah itu di lingkungan tempat kita bekerja, misalnya di kantor, kebun, pasar, lingkungan, atau dimana saja. Banyak yang bisa kita lakukan bila kita mau berbuat, wa quli’malu fa sayarallahu …. Tidak ada kata tidak bisa atau tidak mampu. Kemauan yang kuat menjadi modal menuju adanya kebanggaan dalam hidup. Tapi ingat, kebanggaan tersebut hanyalah sebagai pemotivasi diri agar tidak berhenti berkarya. Bukan untuk membanggakan atau menyombongkan diri, kecuali bila Allah swt sendiri membanggakan diri kita atas capaian prestasi karya. Yang berhak sombong hanya Allah swt sebagai Pencipta, bukan makluk-Nya karena tidak layak dan tidak pantas kita lakukan.
Mengapa kita perlu memiliki kebanggaan? Dengannya diharapkan hidup kita ini penuh dengan aktivitas yang positif. Ada kebanggaan berarti ada prestasi yang kita raih atas jerih payah yang selama ini kita lakukan. Tapi awas jangan salah kaprah dan berhati-hati atas capaian yang sudah diraih, kadang membuat kita lengah, lalai dan statis (jumud). Lalu kita puas dengan yang sudah ada. Puas dengan prestasi. Puas dengan keadaan. Namun harus diingat, bukan berarti pula kita menjadi orang yang tama’ dan tidak bersyukur. Ini hanya untuk mengingatkan kita untuk terus menggali potensi diri dan terus meningkatkan prestasi dengan target capaian yang sudah terprogram dengan baik. Lakukanlah secara berkesinambungan.
Kebanggaan Allah
Teringat dengan dialog Allah swt dengan para malaikat (dalam sebuah hadis) saat melihat hamba-hamba-Nya yang meninggalkan syahwat, tidak makan dan tidak minum hanya karena-Nya, lillah bukan karena yang lain. Sebuah prestasi yang membanggakan Allah swt, lantas Dia memuji hamba-hamba-Nya.
Kita patut belajar dari kebanggaan seorang guru terhadap muridnya. Kesuksesan seorang guru bila dia mampu menjadikan hidup muridnya penuh dengan prestasi. Bangga melihat muridnya sukses: ada kebanggaan tersendiri. Itulah hidup yang bermakna. Kita mampu berbuat dengan memberi kemanfaatan bagi orang lain. Jangan lupa, prestasi adalah hasil ikhtiar kita berbuat semaksimal mungkin, kemudian mengembalikan segala urusan kepada Allah swt.
Sunnatullah menunjukkan bahwa manusia layak menjadi khalifah di muka bumi setelah dilakukan uji kompetisi dengan para malaikat. Walau ada makhluk-Nya yang protes dan tidak menerima, namun Allah swt menetapkan bahwa manusialah yang pantas memakmurkan bumi-Nya yang terhampar luas ini. Rujukannya dapat kita baca dalam QS 2:30-34.
Yuk, kita raih dan rebut prestasi, yuk kita tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, yuk kita hasilkan karya nyata. Dengan inilah, kita tidak malu menyandang predikat ‘khoiro ummah’ umat yang terbaik. Sambutlah Tahun Baru 1440 Hijriah dengan introspeksi/muhasabah diri, susun rencana dan program, dan buatlah target capaian dalam beribadah dan berkarya.
Kita sambut tahun baru ini dengan kegiatan-kegiatan positif agar tumbuh ghirah keislaman kita. Mari, kita berhijrah dan menghijrahkan diri. Semoga, hari-hari yang sudah kita lalui sejalan dengan tuntunan Ilahi Rabbi dan hari-hari kita ke depan pun terus meniti koridor konsistensi: jalan yang lurus, diridhai dan diberkahi Allah ‘azza wa jalla. Amin. (*/ce3)

Oleh : Amrullah Ahmad, SAg, MM
Pegawai Kankemenag Kota Lubuklinggau

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!