Progres Musi IV Capai 53 Persen

Pekerja sedang mengebut pengerjaan Jembatan Musi IV di kawasan Kuto, kemarin (10/8). Foto: Alfery/Sumeks

PALEMBANG – Progres pembangunan Jembatan IV, Jembatan Ampera, Jembatan LRT (samping Jembatan Ampera), dan Musi VI terus dipantau. Untuk itu, Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) turut memantau dengan melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan, kemarin (10/8).

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Musi IV, Suwarno, mengatakan, komisi jembatan ditugaskan memantau proses pelaksanan pembangunan jembatan tersebut. Sebab, jembatan tersebut harus sesuai dengan kerangka dan standar serta dapat dipertnggungjawabkan.”Mereka memantau jembatan khusus, yakni untuk jembatan beton kurang dari 60 meter sedangkan untuk baja diatas 100 meter,” katanya saat ditemui di Hotel 101, kemarin

Menurutnya, pemantauan ini dilakukan, baik untuk proyek APBD maupun APBN. Anggota komisi ini terdiri para akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Seperti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), dan lainnya. Mereka ini terdiri atas ahli beton, ahli struktur, dan lainnya. ”Jadi sangat kompeten. Dari pengecekan kondisi di lapangan pun sudah ada masukan dan saran,” sebutnya. Pengecekan yang dilakukan komisi jembatan tersebut dilalukan tanpa konfirmasi kepada kontraktor terlebih dahulu.

Soal progres Musi IV, Suwarno, mengatakan, saat ini pengerjaannya sudah 53 persen, serta progres nilai kontrak sekitar 47 persen dari Rp524 miliar. “Targetnya pada Juni 2018 semua pembangunan selesai dan bisa digunakan,” paparnya.

Pembangunan Jembatan Musi IV, ungkap dia, saat ini memasuki pengerjaan pondasi berupa bore pile. Dimana sisi hulu berupa pemasangan balok girder, sedangkan sisi hilir berupa pemasangan pelat lantai.

Untuk bagian tengah masih pada pengerjaan upper struktur atau struktur bawah berupa fondasi bore pile. ”Pada bagian sisi hulu dan hilir tidak ada masalah. Untuk di sisi tengah tinggal pengerjaan titik bore pile (P), dimana satu titik itu ada 24 bore pile. Saat ini baru delapan, sisanya 16 titik belum,” ungkapnya.
Targetnya, kata dia, struktur dan fisik selesai pada Desember 2017. Termasuk pemasangan girder tengah berupa box girder dengan lebar 12 meter dan panjang 1129 meter. ”Secara keseluruhan siap, tapi untuk jalan pendekat dan akses pun sudah, tinggal proses penimbunan,” sebutnya.

Apalagi, masih kata dia, untuk titik krusial yang berada di tengah jembatan pun terus dikebut. Sebab titik ini berpacu dengan waktu. Semakin lama maka semakin panjang waktu diperlukan ini tentu mempengaruhi target penyelesaian.
Tapi yang jelas, kata dia, Jembatan Musi IV ini nantinya tidak akan jatuh ujungnya di Jl KH Azhari, melainkan ke jalan Jl Ahmad Yani. Sebab ujungnya akan menutup jalan sehingga rekayasa jalan nanti pengendara harus memutar di bawah jembatan.

Lalu bagaimana dengan proses Musi VI? Kepala Dinas Pengerjaan Umum Bina Marga (PUBM) dan Tata Ruang Provinsi Sumsel, Ucok Hidayat menjelaskan, pengerjaan Musi VI terus dikebut. Saat ini pengerjaan jembatan yang menghubungkan kawasan Ilir dengan kawasan Ulu sudah mencapai 85 persen dari DIPA.

Menurut Ucok, pengerjaan Jembatan Musi VI yang memiliki panjang 1.225 meter ini dapat diselesaikan akhir tahun ini. Saat ini terus dikebut karena jembatan ini juga sebagai penunjang infrastruktur Asian Games 2018 nanti. “Kalau untuk progresnya saat ini sudah mencapai sekitar 84 persen dari nilai kontrak. Maksudnya, progres itu dari kontrak pengerjaan sampai akhir 2017 senilai Rp340 miliar,” kata dia.

Untuk pengerjaan yang termasuk di dalam kontrak juga, lanjut dia, di antaranya pemasangan pier tiga sampai pier 10 dan lain sebagainya. Kemudian, nilai kontrak Rp340 miliar itu belum sampai fungsional, artinya akan dilanjutkan sampai 2018 mendatang. (yun/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!