Puasa, Ibadah yang Unik

Tahun Islam lebih dikenal dengan tahun Hijriah. Perhitungan kalender tahun Hijriah diawali dari peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah atas perintah Allah swt. Dalam sistem kalender Islam, perhitungan tahun Hijriah didasarkan pada penampakan bulan sabit (hilal). Satu periode hilal, 29,5306 hari. Satu tahun Hijriah, 12 bulan ada 354,366 hari.
Jadi, berbeda dengan tahun Masehi yang menggunakan sistem kalender Julian (45 SM) yang 1 tahun ada 365,25 hari dan setiap 4 tahun sekali (Februari) dibulatkan menjadi 366 hari. Selain itu, bulan-bulan tahun Hijriah terkait nilai-nilai sejarah dan tradisi masyarakat Arab, serta nilai-nilai ibadah dalam Islam. Termasuk di dalamnya bulan Ramadan. Dengan demikian, Ramadan bukan hanya berstatus sebagai bulan kesembilan dalam perhitungan kalender Islam, tapi juga bulan ibadah.
Kehadiran bulan Ramadan didahului dua bulan penting, yakni Rajab dan Sya’ban. Bulan Rajab berarti meninggalkan. Karena ia merupakan salah satu bulan yang di dalamnya tidak boleh berselisih atau peperangan antar-kabilah (suku). Jadi, bulan Rajab dikondisikan sebagai bulan kedamaian. Berikutnya adalah bulan Sya’ban yang terambil dari kosa kata insyi’ab (bertebaran). Di bulan itu, lazimnya kabilah-kabilah Arab bertebaran untuk mencari nafkah. Masyarakat Arab sebelum kehadiran Islam adalah masyarakat pedagang yang nomaden. Sesuai musim, mereka selalu berpindah-pindah guna mencari nafkah. Bulan Rajab bertepatan dengan akhir musim dingin, yakni Jumad al-akhir (Jumadil akhir).
Setelah kedatangan Islam, bulan Rajab ini oleh Rasulullah saw dijadikan bulan untuk memperbanyak ibadah puasa. Aisyah Ra berkata: “Aku tidak melihat Rasul Allah menyempurnakan puasa dalam satu bulan, kecuali bulan Ramadan, dan aku tidak melihat beliau memperbanyak puasa dalam satu bulan, kecuali bulan Sya’ban”. Menurut Usamah bin Zaid Ra berkata kepada Rasulullah saw : “Wahai, Rasul Allah, aku tidak melihat engkau berpuasa (dengan sungguh-sungguh) seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban. Rasulullah saw menjawab: “Itu adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia di antara bulan Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan yang di dalamnya amal-amal manusia dinaikkan kepada Tuhan semesta alam. Maka, aku ingin agar amalku dinaikkan sementara aku dalam keadaan berpuasa.” (Sayyid Sabiq, 2010).
Memang, tampaknya bulan Ramadan sebagai ”sentra“ ibadah puasa ditempatkan pada titik tengah. Puasa wajib ini diapit oleh puasa-puasa sunah. Menjelang kehadiran bulan suci ini, ibadah puasa sunah sudah dilaksanakan secara efektif oleh Rasulullah saw pada bulan Sya’ban. Puasa sunah ini ibarat ”pintu masuk” ke ibadah puasa wajib di Ramadan. Selanjutnya, di akhir pelaksanaan puasa Ramadan, kembali ditutup dengan puasa sunah, yakni pada bulan Syawal. Disabdakan oleh Rasulullah saw: ”Barangsiapa yang berpuasa Ramadan, kemudian menambahnya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, seakan ia berpuasa sepanjang tahun.“ (HR. Muslim dalam Sayyid Sabiq, 2010).
Ibadah puasa Ramadan merupakan ibadah yang cukup unik. Ibadah ini merupakan satu-satunya ibadah yang wajib dilakukan dalam rentang waktu relatif cukup lama. Untuk kawasan beriklim tropis, setiap hari, ibadah puasa ini berlangsung selama sekitar 14 jam dan terus berlanjut selama sebulan penuh, berlangsung setiap Ramadan untuk sepanjang hayat. Jadi, tidak seperti ibadah-ibadah lainnya, yang durasinya terbatas. Ibadah salat wajib meskipun dilaksanakan lima kali sehari semalam, tetapi durasi setiap waktu salat wajib rata-rata hanya dalam hitungan menit. Demikian pula, zakat, yang tergantung dari haul dan nisabnya, hanya sekali dalam setahun. Sama halnya dengan ibadah haji. Hanya setahun sekali bagi yang mampu, dan itu pun cuma diwajibkan sekali seumur hidup.
Demikian uniknya ibadah puasa Ramadan ini terlukis pula dalam Hadis Qudsi yang disabdakan Rasulullah saw: “Allah berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan membalasnya.“ (Sayyid Sabiq, 2010). Ibadah puasa Ramadan langsung diambil alih oleh Allah swt. Tidak lagi berada atas kewenangan malaikat. Dengan demikian, segala penilaian dan ganjarannya sepenuhnya ditentukan oleh Allah swt. Hanya Sang Pencipta Yang Maha Tahu pulalah yang paling mengatahui akan ibadah puasa yang dilakukan hamba-Nya, hingga ke seluk beluk yang terkecil sekalipun. Dinyatakan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. 31: 23). Jelas, dengan demikian, para shaimin sama sekali tak memiliki peluang untuk ”ngibuli” Sang Maha Pencipta ini. Segala yang terbersit dalam hati hingga ke niat yang masih tersimpan rapat dalam lubuk kalbu, sudah diketahui Allah swt. Jauh lebih canggih dari perangkat penyadap KPK dalam menyukseskan OTT (operasi tangkap tangan).
Selain itu, ibadah puasa Ramadan ini terseleksi. Pesertanya hanya orang-orang mukmin. Dikemukakan dalam ayat Al-Quran: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. 2: 183). Mereka yang memperoleh ajakan Allah swt untuk menunaikan ibadah puasa Ramadan ini ternyata orang-orang yang beriman. Jadi, bukan sembarang orang. Ada kriteria khusus untuk mereka yang ingin menunaikan ibadah puasa Ramadan. Menurut pandangan Ibn Taimiyyah, hanya orang-orang beriman (mukmin) yang dinilai sudah memiliki kemampuan untuk memahami hakikat dan nilai ibadah puasa secara baik. Dengan demikian, mereka memiliki peluang besar untuk mencapai peringkat takwa. (jal/ce3)

Oleh: Prof H Jalaluddin

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!