Punya Buku Panduan, Doping Sabu

DESA LEBUNG GAJAH: Aktivitas warga Desa Lebung Gajah, Tulung Selapan umumnya sama dengan desa-desa lainnya. Foto: Budiman/Sumatera Ekspres

NAMA Kecamatan Tulung Selapan, belakangan viral. Disebut-sebut kampung “pembobol” rekening nasabah bank. Ada warganya ditangkap Penyidik Cyber Crime Bareskrim Polri. Seperti apa kehidupan warga di sana?
———————————————-
“Halo, selamat pagi Bapak Ikram. Saya customer service Bank BRI, mengucapkan selamat nomor rekening bapak memenangkan undian Untung Beliung BritAma berhadiah mobil Honda HRV 1.5 S M/T,” ucap Hasan. Dia mantan pelaku tipu sana-sini alias tipusani. Memeragakan praktik memperdaya korban via telepon kepada Sumatera Ekspres, Minggu (25/3). Saat itu, dia menggunakan ponsel jadul Nokia 3310, menelepon korban.
Hasan betul-betul fasih mengucapkan bahasa Indonesia. Padahal dia orang asli Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang logatnya kental bahasa daerah. Bahkan Hasan mengaku kesehariannya tak pernah gunakan bahasa Indonesia, kecuali hanya saat melakukan penipuan.
Untuk meyakinkan korban, Hasan melancarkan tipu daya lagi. “Mobil ini akan segera kami kirim. Paling lambat 1 hari. Tetapi bapak harus mengonfirmasi nomor OTP (one time password) yang BRI kirim,” lanjutnya. Dia lalu mengirim SMS OTP palsu.
Menurut Hasan, itu modus baru. Lebih ampuh untuk mengelabui korban. “Modus pembayaran pajak atau biaya administrasi, lalu diminta mentransfer uang sudah sering. Korban kadang cepat sadar mau ditipu,” bebernya. Tapi sesekali, sejumlah pelaku masih gunakan modus lama itu.
Berhasil mendapatkan nomor OTP, barulah dia meminta nomor CVC/CVV (card verification code/value) kartu debit atau kredit korban. Dengan modal itu, biasanya pelaku tipusani sudah bisa menguras tabungan nasabah. “Pelaku bisa belanja barang, beli uang elektronik, atau beli pulsa online dengan uang tabungan. Saya pernah berhasil menguras tabungan nasabah Rp10,5 juta. Semuanya dibelikan pulsa,” ujarnya.
Hasan mengaku berhenti menipu tiga bulan terakhir. “Pulsa ‘kan bisa dijual kembali,” tukasnya. Tak hanya itu, transaksi online menguras rekening nasabah ini tergolong aman dan sulit terlacak. “Kita bisa belanja online dengan akun palsu. Tapi pembayaran bisa pakai rekening orang lain. Cukup tahu rekening orang dan nomor CVC/CVV-nya,” imbuhnya. Sementara, jika modus pajak atau administrasi lebih rawan karena ada transfer rekening.
Biasanya, calon korban akan diminta ke mesin ATM untuk transfer uang. Sambil menelepon, pelaku bahkan ikut memandu korban sampai transaksi berhasil. Di kasus ini, oknum pelaku biasanya gunakan rekening orang lain antarbank, untuk hilangkan jejak.
Setiap pelaku, rata-rata punya 4-5 rekening bank. Plus kartu ATM antarbank. Mereka juga bisa gonta-ganti kartu setelah dipakai. “Jadi contoh, ada korban yang tertipu lalu mengirim uang sebagai pajak hadiah. Oknum pelaku buru-buru memindahkan uang itu ke rekening lain. Antarbank sampai 3-4 kali untuk mengecoh petugas bank,” ujarnya. Pelaku sengaja transfer antarbank. Sebab, pelacakan akan jauh lebih sulit. Apalagi, setiap bank punya prosedur jaga kerahasiaan nasabah. Tak heran, jika tipusani ini tergolong lebih sedikit risiko ketimbang tindak kriminal lain. “Pelaku yang tertangkap juga tak banyak,” ujarnya.
Karena kondisi itu, praktik penipuan di Tulung Selapan marak. Kelompok pelaku saling “belajar”. Tak hanya dari Tulung Selapan, ada juga warga kecamatan tetangga seperti Cengal dan Sungai Menang ikut berguru. Ada pula belajar otodidak. Mengikuti perkembangan teknologi. Mencari modus-modus baru, seperti mempelajari layanan e-banking, e-commerce, dan lainnya.
Di rumah kayunya di Desa Lebung Gajah, Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten OKI, Hasan lalu menunjukan 4 handphone jadul berbagai merek, router, dan modem yang sempat ia gunakan untuk melakukan penipuan via handphone. Di desa ini juga, pelaku AZ yang berpura-pura menjadi petugas call center palsu BRI menipu staf Bawaslu DKI Jakarta, beberapa waktu lalu. Ia berhasil menguras Rp37 juta.
Meskipun di desa, akses internet di sana betul-betul cepat. Di sinyal handphone Sumatera Ekspres saat berkunjung, masuk sinyal 4G. Dan usut punya usut, ada tower base transceiver station (BTS) provider di ujung desa. “Jadi sinyal juga mendukung. Apalagi di kota Kecamatan Tulung Selapan,” imbuhnya.
Hasan memastikan pelaku penipuan ini bukan sindikat. Melainkan individu atau kelompok orang. Rata-rata remaja atau pemuda di bawah 30 tahun. “Karena hasilnya banyak, kerjaanya tidak susah, beberapa ketagihan menipu,” imbuhnya.
Diakuinya, mereka yang menipu via handphone biasanya keluar rumah atau kampung. Bisa di kebun atau hutan. “Kalau di rumah riskan, ada juga orang tua pelaku yang melarang,” imbuhnya. “Ya, kalau 1 km dari BTS, sinyal telepon masih dapat,” katanya lagi.
Sebelum menipu, oknum pelaku yang belum lihai, belajar lebih dahulu. “Biar tidak kaku. Belajarnya pakai buku panduan yang dibuat sendiri. Waktunya bisa sebulan, hingga fasih.”
Hanya saja, dalam praktiknya kadang oknum pelaku masih gugup. Ciut nyalinya karena dimarahi calon korban setelah ketahuan mau menipu. “Kalau masih gugup-gugupan, supaya lebih berani dan percaya diri oknum pelaku mengonsumsi sabu. Nah, sabu ini doping supaya ‘kebal’ dimarahi. Berani menelepon orang,” bebernya.
Selain menelepon langsung, trik penipuan lain lewat SMS acak. “Kalau menelepon korban, sehari bisa 25-30 kali,” tukasnya. Sebelum menelepon, pelaku menyiapkan data korban. Didapat dari profil facebook, instagram, twitter, blogspot, dan situs media sosial lainnya.
Pelaku juga bisa mengetahui informasi nomor KTP maupun alamat di situs lembaga pemerintah. Supaya lebih meyakinkan, pelaku kerab mengintip program undian berhadiah setiap bank yang sedang berlangsung. “Jangankan menipu, dengan informasi data seseorang, pelaku bahkan bisa juga melakukan pemerasan,” sebutnya.
Ketika menelepon, pelaku biasanya pakai nomor-nomor cantik, mirip call center. Bahkan, ada juga yang pakai nomor luar negeri dengan kode seperti 14000. Sambil menelepon, pelaku juga kirim SMS acak. “Target korban bukan warga lokal, tetapi orang luar. Pelaku melihat kode area daerah, seperti Jogjakarta 081125 (Telkomsel), lalu mengurutkan nomor secara acak,” bebernya.
Setiap hari, SMS itu bisa ratusan. Makanya pelaku punya banyak hp jadul. “Lebih simpel untuk penipuan ketimbang smartphone. Dari banyak SMS, ada saja yang nyangkut, calon korban menelepon balik,” bebernya. Modus SMS-nya, iming-iming hadiah undian juga. Atau memanfaatkan kepanikan atau permohonan kepada calon korban.
“Ada modus seolah-seolah menolong keluarga korban karena kecelakaan dan butuh biaya awal pengobatan di RS,” sebutnya. Ada lagi modus jual beli online barang dengan harga murah. Oknum pelaku menawari barang contoh hp via SMS atau situs online. Harganya jauh lebih murah dari pasaran. Biasanya calon korban tertarik.
Korban diarahkan untuk menelepon nomor seluler yang tertera di SMS atau diminta mentransfer sejumlah uang. “Tak ada hipnotis sama sekali saat beraksi. Semua sadar dengan apa yang oknum pelaku lakukan,” tukasnya. Pelaku memanfaatkan “emosi” korban. Baik kegembiraan mendapatkan hadiah atau kepanikan karena kasus kecelakaan.
Mantan pelaku lain, Agus (27), warga Tulung Selapan menambahkan oknum pelaku juga bisa membobol rekening nasabah lewat layanan e-banking. “Cukup tahu user ID, password, PIN atau OTP nasabah bisa transaksi via e-banking baik SMS, phone, atau internet banking,” cetusnya.
Informasi itu, kata dia, didapat pelaku dengan tipu daya saat menelepon calon korban tadi. Tak berhasil iming-iming hadiah, bisa juga modus perubahan sistem bank. Korban dirayu agar mau menyebutkan data nasabahnya. Jika tidak segera, kartu debit akan diblokir sampai dini hari. Kalau tidak lewat layanan call center, maka nasabah diminta urus langsung ke bank.
“Saat sudah tahu semua akun nasabah, kita bisa transfer antarrekening, belanja online, transaksi e-money, dan apapun lewat e-banking tanpa terlacak,” ungkapnya. Sebab, masuk dengan nama users nasabah, bank tak bisa berbuat banyak. Justru akun nasabah sendiri yang melakukan transaksi.
Kecuali jika ada SMS notifikasi yang terhubung dengan handphone calon korban, maka tindakan fraud atau penyalahgunaan oleh oknum pelaku akan lebih cepat ketahuan. “Walau sebenarnya, pelaku bisa saja menguras tabungan nasabah lewat transaksi e-banking di malam hari,” terangnya.
Tokoh masyarakat Desa Lebung Gajah, Kecamatan Tulung Selapan, Jakbar mengakui kejahatan penipuan itu lebih populer dikenal tipusani. Pemuda dan remaja yang lancarkan aksi, lazim tidak tamat SD atau masih SMP dan tak diketahui orang tuanya. Tapi, lantaran belajar, mereka fasih bahasa Indonesia. Saling ajak, dan kelompok ini hampir ada di setiap kampung atau desa di Tulung Selapan. Tak hanya kaum laki-laki, ada juga perempuan melakukan hal serupa.
“Dengan menipu, mereka bisa beli rumah, mobil, kebun. Beberapa remaja bahkan punya smartphone bagus, harganya bisa Rp17 juta. Jadi wajar banyak yang tergiur,” akunya. Ya, sehari ada yang dapat Rp1 juta, ada sampai puluhan juta, atau berhari-hari tidak dapat sama sekali.
Dia menduga, oknum pelaku banyak terafiliasi dengan warga Tulung Selapan di luar kota. Seperti Jakarta, Batam, Riau, Surabaya, sampai Papua. “Boleh jadi pelaku mendapatkan nomor cantik atau nomor luar negeri dari koneksinya di luar kota. Demikian juga mendapatkan buku rekening bank kosong atau ATM orang lain. Kadang ini juga diperjualbelikan oleh oknum tertentu. Bisa juga kerja sama rekening penampung uang nasabah,” lanjut mantan anggota DPRD Kabupaten OKI periode 2009-2014 ini.
Tapi mereka ini sulit ditebak. Di kampung juga seperti pemuda kebanyakan. Tetap melakukan pekerjaan rutin mereka seperti menyadap karet. “Saya menduga penarikan via ATM di Tulung Selapan tertinggi di salah satu bank daerah. Ya, diduga karena aksi tersebut. Bahkan ada pelaku nekad menarik uang lewat buku tabungan,” bebernya.
Meski banyak kasus penipuan, Tulung Selapan tergolong aman dari kasus kriminal seperti begal, perampokan, dan lainnya. “Kalau kerja menipu lebih gampang, mengapa harus sampai membunuh,” bebernya. Sebenarnya, pelaku ini juga memanfaatkan situasi. Kasus penipuan itu pidana maksimal 4 tahun. Selain itu korban juga orang luar, dan kerugian kecil sehingga jarang melapor.
“Kalau pun mereka melapor, polisi belum tentu mau menyidik karena kasusnya di luar kota. Banyak kasus lain yang lebih besar. Apalagi keselamatan petugas itu diutamakan,” imbuhnya.
Tak hanya itu, pelaku ini berdiam di desa. Sulit terlacak. Kecuali nomor handphone-nya terdaftar di Disdukcapil. Sebenarnya, kalau target korban tidak tergoda rayuan, tidak membuka users ID, password, PIN, atau OTP, maka rekening nasabah tidak akan bisa dibobol.
Kepala Desa Lebung Gajah, H Tamin, menjelaskan, untuk membuktikan pelaku tipusani itu sulit. Lantaran mereka juga ada yang bekerja menyadap karet. “Sepengetahuan saya, modus kejahatannya hanya penipuan saja. Lain saya tidak tahu,” sebutnya.
Selain itu, sebenarnya perekonomian di desa ini cukup mapan dari karet. Kalaupun ada oknum warga yang melakukan praktik penipuan, katanya, itu hanya sampingan. “Mungkin karena menipu itu paling mudah dan tak harus berpendidikan tinggi,” pungkasnya. (tim)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!