Punya Lab Komputer, Diajak Berenang hingga Syuting di TV

186
ASAH PENGETAHUAN : Anak-anak binaan di LPKA Palembang saat belajar di laboratorium komputer. Foto:Martha/Sumatera Ekspres

Bicara lembaga pemasyarakatan (lapas), image tak bersahabat dan kurang baik langsung terlintas di benak sebagian besar publik. Tapi tidak dengan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Palembang. Tahun ini, lapas tersebut terbaik se-Indonesia.
—————–

Suasana lengang menyambut kedatangan wartawan koran ini yang mampir ke sana, siang kemarin. Pintu utama depan terlihat tertutup. Di halaman parkir hanya terlihat puluhan sepeda motor dan beberapa mobil.
Begitu mendorong pintu kayu berukiran Palembang, seorang petugas jaga menyambut dengan ramah. “Ada yang bisa dibantu, Mas,” ucapnya. Begitu tahu maksud kedatangan koran ini, dia langsung mengarahkan ke dalam, untuk bertemu Fahri Yuddin Jusep SAg. Dia Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan.
Berjalan menuju ke ruang dalam, halaman kosong di belakang ruang lapor dan ruang kerja Kepala LPKA telah disulap jadi tempat bersantai yang asri. Kanan kiri ada kolam ikan dengan air terjun mini. Sepetak jalan dengan lebar sekitar setengah di bagian tengah antara kedua kolam diganti dengan kaca tebal sehingga terihat jelas air dan ikan mengalir di bawahnya.
Nyaman sekali suasananya. “Ini dulunya tanah lapang, tempat anak-anak berlatih pramuka,” jelas Jusep didampingi Hendri SH, kasubsi pembinaan kemasyarakatan dan pengentasan. Bertiga, kami ngobrol di ruang yang biasa digunakan untuk anak binaan dengan orang tuanya bertemu.
Seperti di tempat hangout, ada tiga meja bundar, masing-masing dengan enam kursi. Di bagiar luar, dekat kolam, ada tiga meja, juga masing-masing dengan enam kursi. Setelah dihitung seksama, total ada 15 meja bundar dengan taplak meja warna merah cerah.
Di sanalah, setiap hari Minggu dan hari libur, anak-anak binaan bertemu orang tua mereka yang datang menjenguk. “Kami sengaja ubah waktu jenguk agar anak-anak di sini bisa fokus belajar, berlatih beragam keterampilan untuk bekal mereka,” tutur Jusep. Majunya pendidikan di sana yang salah satunya menjadikan LPKA satu-satunya di Sumsel ini meraih penghargaan terbaik, khususnya inspiratif dan inovatif tingkat nasional pada 27 April lalu.
Award itu diberikan dalam peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan di Jakarta. Tidak hanya terbaik di antara LPKA lain, tapi juga dari seluruh lapas dewasa. Penghargaan itu diterima langsung Endang Lintang Hardiman, yang hampir dua tahun membawa perubahan besar di tempat anak-anak bermasalah itu menjalani hukuman mereka.
Di tengah keterbatasan anggaran, LPKA Kelas I Palembang melalui kemitraannya mampu meraih predikat Lapas Terinovatif dari Menteri PMK. Juga Lapas Terinovatif Program Pendidikan Inklusi dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) nasional. Sebelumnya, pada 2007, LPKA yang ketika itu masih bernama Lapas Anak Kelas I Palembang juga pernah meraih predikat Lapas Terbaik Nasional.
Saat ini, di sana ada sembilan ruang kelas untuk para anak binaan belajar. Tiga kelas untuk SD, tiga lagi untuk SMP dan tiga untuk SMA. Jumlah anak binaan yang melanjutkan sekolahnya ada 83 orang atau lebih dari 50 persen dari total anak binaan. Saat ini ada 175 orang anak.
Sekolah formal kelas jauh di dalam LPKA itu telah dirintis sejak 2014. Kerja samanya dengan Dinas Pendidikan. Untuk SD menginduk ke SDN 25 Palembang. Untuk yang SMP menginduk ke SMP 22 Palembang dan yang SMA ke SMAN 11 Palembang. “Untuk SMP dan SMA, ada kelas 1, 2, dan 3 ada semua muridnya. Sedang SD hanya ada yang kelas 3, 4, dan 5 saja,” ungkap Jusep.
Biasanya, di tahun ajaran baru murid yang melanjutkan sekolah bertambah cukup banyak. Tapi di tengah jalan, ada saja yang setop karena bebas murni. Pihak LPKA sudah menganjurkan kepada anak binaan yang telah menyelesaikan vonisnya untuk tetap sekolah. Namun, siswa bersangkutan memilih untuk tidak kembali.
Hal ini sangat disayangkan karena dengan begitu mereka putus sekolah. “Tapi kami tidak bisa menahan karena mereka bebas murni, telah selesai masa pembinaannya,” tutur dia. Beroperasional tiga tahun ini, sudah banyak lulusan dari sekolah filial itu. Di 2016 saja, ada 14 lulusan dan tahun ini, ada 10 siswa. Itu yang dari SMA saja. Belum dari yang SD dan SMP.
Beberapa anak binaan yang sudah bebas dan juga lulus sekolahnya di dalam LPKA kini telah bekerja. Kata Jusep, ada yang diterima bekerja di perusahaan Korea di Bogor. Ada pula yang bekerja pada perusahaan Malaysia di Muba. Beberapa dari mereka bahkan melanjutkan kuliah di sejumlah perguruan tinggi.
“Senang sekali kami mendengarnya,” ucap dia. Tak hanya itu yang jadi kelebihan LPKA dibandingkan LPKA dan lapas lain di Indonesia. Di sana, ada ruang laboratorium (lab) komputer. Ada 15 unit PC di dalamnya, bantuan dari BRI. Di sana, anak-anak binaan bisa mendalami tentang komputer dan mengenal dunia melalui berbagai informasi serta kemajuan teknologi.
Untuk pelatihannya dibiayai pemerintah Australia. Program bantuan itu telah berakhir. Tahun ini, anak-anak di LPKA akan dibantu SMKN 5 Palembang untuk belajar tentang audio visual. Rencananya dari Palcomtech juga akan mengajari anak-anak binaan.
Ada ruang khusus di dekat kelas-kelas itu yang disulap jadi perpustakaan. Posisinya persis di depan taman. Saat ini ada sekitar 300 judul buku di sana. Dibantu Perpustakaan Daerah (Pusda), tiap bulan ada 100 judul buku yang akan diganti dengan buku-buku lain. Masih ada beberapa rak yang kosong, yang bisa diisi dengan buku-buku dari dermawan lain.
“Anggaran kami terbatas. Untuk pendidikan tahun ini turun 50 persen. Semua yang ada ini berkat bantuan dari dinas/instansi maupun lembaga serta pribadi-pribadi yang peduli,” tutur Jusep sembari menyatakan kalau pihaknya membuka pintu untuk semua bentuk bantuan dan kepedulian dari warga Sumsel. Dia menegaskan bahwa anak-anak binaan yang berada di LPKA notabene anak-anak Sumsel dan Indonesia juga.
Sudah seharusnya mereka mendapatkan perlakuan dan hak yang sama. Kebetulan saja, karena tersandung “kasus”, mereka pun terpaksa berada di tempat itu, dibina untuk sementara waktu. Kepala LPKA Endang Lintang dan jajarannya sadar betul kalau anak-anak itu masih punya masa depan.
Karenanya mereka memberusaha bersama membuat anak-anak binaan di sana betah dan nyaman. Mereka diberikan kebebasan untuk berekspresi. Bagi yang tidak mau membaca di perpustakaan, bisa sambil nongkrong di taman. Begitu pula untuk konseling. Tidak di dalam ruangan, tapi di taman itu.
“Kalau mereka mau berenang, akan ngomong kepada kami. Lalu, kami dampingi mereka ke kolam renang yang ada di luar untuk menyalurkan hobinya,” kata Jusep. Pada 17 Agustus 2016, anak-anak binaan LPKA ikut lomba gerak jalan. Beberapa waktu lalu dia mengajak dua anak binaan ke Jakarta, terbang naik pesawat untuk menghadiri suatu acara.
Bahkan, dia dan pegawai lain mengajak 15 anak binaan untuk tampil mengisi acara di TVRI Palembang. Kemudian, tampil dalam pementasan drama musikal di Griya Agung dalam acara penyuluhan antinarkoba. Semua itu dilakukan dengan modal kepercayaan. “Kami yakin, mereka tidak akan lari dan anak-anak tahu kalau mereka tidak boleh menyalahgunakan kepercayaan itu,” tandasnya.(tha/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!