Realita Pendidikan Inklusi

Dian Eka Sari

Oleh Dian Eka Sari, S.Pd.

Apakah ada seorang anak yang mau dilahirkan dalam keadaan cacat atau mempunyai kekurangan khusus? Jawabnya pasti tidak ada. Andaikan bisa memesan kepada Tuhan sebelum menciptakan, kita pasti meminta diciptakan dalam keadaan sempurna, pintar, cantik, dilahirkan dari keluarga baik-baik, dan dari keluarga kaya. Namun, hal yang kita lihat dan temukan adalah setiap manusia diciptakan bersama kelebihan dan kekurangannya.
Lalu, jika ada anak yang dilahirkan mempunyai kekurangan khusus, bahkan cacat secara fisik apakah mereka bisa mempunyai kesempatan dan perlakuan sama dari semua orang, terutama mengenai pendidikan? Jawabnya beragam. Namun, sudah sepantasnya hak untuk memperoleh kesempatan belajar yang sama merupakan hak semua orang tanpa membedakan fisik atau pun kekurangan. Dalam UUD 1945 pasal 31 disebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang sama.
Sebagai upaya pemerintah mengatasi kesenjangan pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus ini adalah dengan mengadakan pendidikan inklusi. Dengan cara ini, diharapkan anak-anak ini bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengeyam pendidikan.
Pendidikan inklusi adalah proses pembelajaran yang memberikan kesempatan yang sama kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama anak-anak normal lainnya. Menurut Omrod (dalam Elisa, 2008:3), pendidikan inklusi adalah sebuah cara atau upaya untuk mendidikan semua siswa termasuk anak-anak yang mengalami hambatan yang parah atau pun majemuk di sekolah regular yang pada umumnya untuk anak-anak non berkebutuhan khusus. Program pendidikan inklusi ini bertujuan membantu mempercepat program wajib belajar bagi anak-anak pendidikan dasar sekaligus upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah bagi seluruh warga negara (Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi, 2007).
Penyebutan anak berkebutuhan khusus ini adalah bentuk halus dari anak cacat. Termasuk anak-anak berkebutuhan khusus, antara lain anak yang mengalami gangguan penglihatan, anak yang mengalami gangguan pendengaran, anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, anak yang memiliki kelainan anggota tubuh, anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, anak lamban belajar, anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik, dan anak yang mengalami gangguan komunikasi (Hermanto, 2010: 69).
Pendidikan inklusi, merupakan solusi dalam mengatasi kesenjangan pendidikan di tanah air. Sehingga, anak-anak berkebutuhan khusus ini tidak harus belajar di sekolah luar biasa untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama dengan anak-anak normal lainnya.
Sayangnya, sekolah regular yang mengadakan pendidikan inklusi saat ini belum begitu banyak dan merata di semua wilayah. Sehingga, pada aplikasi di lapangan, ketika anak-anak berkebutuhan khusus ini belajar di sekolah reguler, mereka menjadi langganan siswa yang tinggal kelas.
Seperti yang pernah penulis alami. Selama hampir tujuh tahun mengajar kelas regular di daerah terpencil, hampir setiap tahun penerimaan siswa baru, ada satu hingga tiga orang yang ikut menjadi bagian proses pembelajaran. Kebetulan, dalam penerimaan siswa baru memang tidak dilakukan seleksi. Lulusan SD di sekitar sekolah yang mendaftar langsung diterima sebagai peserta didik. Sehingga, anak berkebutuhan khusus, seperti mengalami gangguan khusus, lamban belajar, memiliki kemampuan di bawah rata-rata, bahkan pernah ada anak yang mengalami gangguan mental pun ikut belajar dalam kelas regular. Akibatnya, ketika proses pembelajaran berlangsung, anak-anak ini menjadi keluhan para guru dan orang tua mereka menjadi langganan dipanggil. Bahkan tak jarang ketika akhir semester mereka tinggal kelas. Kalau pun mereka diberikan kesempatan untuk naik kelas, semata karena faktor kasihan.
Sikap para guru ini tidak bisa disalahkan karena sekolah tempat mereka mengajar memang bukan sekolah yang menerapkan pendidikan inklusi. Selain itu, tenaga pengajar ini memang tidak dibekali tentang penanganan bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini.
Sementara itu, bagi orang tua siswa, menyekolahkan anak mereka di kelas regular adalah pilihan terbaik karena jarak tempuh dan alasan ekonomi. Sedangkan SLB lokasinya sangat jauh dari lokasi. Jangankan memasukkan anak-anak mereka ke SLB, terkadang beberapa anak tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat SLTA ketika lulus dengan alasan jauh dan tidak adanya angkutan serta tidak mempunyai cukup biaya.
Walhasil, pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini berjalan apa adanya dari tahun ke tahun dan hanya mengandalkan guru bimbingan khusus (BK)—itu pun kalau ada.
Lalu, ketika penulis pindah tugas ke kota, hal yang hampir sama juga terjadi. Namun, ada satu SD swasta dekat penulis mengajar menerima anak-anak berkebutuhan khusus ini, mulai dari lamban belajar, autis, bahkan ada anak yang disabilitas menggunakan kursi roda. Di tempat ini, orang tua yang menyekolahkan anaknya harus mengeluarkan biaya ekstra. Lantaran, anak-anak mereka mempunyai satu guru pembimbing khusus yang mengurus dan mengawasi mereka. Sehingga, proses pembelajaran bisa tetap berjalan lancar. Sementara itu, bagi orang tua yang tidak mampu, mereka mau tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah negeri dan belajar di kelas reguler apa adanya.
Berdasarkan pengamatan, di tempat penulis mengajar saat ini ada juga beberapa anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak-anak normal lainnya. Seperti halnya di sekolah yang lama, di tempat ini juga belum menyelenggarakan pendidikan inklusi. Akibatnya, beberapa anak-anak berkebutuhan khusus ini menjadi topik pembicaraan setiap guru yang mengajar di kelas itu karena mereka lamban dalam mengikuti proses pembelajaran.
Keluhan para guru ini di satu sisi tidak disalahkan. Tak bisa dipungkiri, saat ini pendidikan kita masih menekankan kepada kognitif untuk melabeli anak-anak yang pintar. Sedangkan anak-anak berkebutuhan khusus ini di setiap kelas menjadi juru kunci dalam rangking kelas. Lalu, jika tidak ada progres yang ditunjukkan anak-anak ini, ada kemungkinan mereka akan dipulangkan dan diminta pindah ke sekolah lain.
Jika anak-anak berkebutuhan khusus ini belajar di sekolah yang bukan menerapkan pendidikan inklusi, ada ancaman lain bagi mereka. Jika yang masuk adalah anak berkebutuhan khusus yang memiliki kecerdasaran luar biasa, mereka tetap bisa mengikuti proses pembelajaran. Bahkan menjadi asset bagi sekolah. Namun, sebaliknya jika yang masuk adalah anak berkebutuhan khusus yang disabilitas, lamban mengikuti proses pembelajaran, memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, mereka ini bisa menjadi objek bully bagi anak-anak normal lain. Hal ini yang penulis lihat sendiri ketika salah satu anak berkebutuhan khusus ini menjadi bulan-bulanan temannya, mulai dari diejek, didorong, bahkan mereka kurung. Sehingga, dikhawatirkan, mereka bukan mendapat kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak lainnnya, tapi mereka mengalami gangguan psikologi lantaran sering ditertawakan atau objek mainan anak-anak normal lainnya. Dengan kata lain, bukannya tercipta sekolah ramah anak, tapi sekolah menjadi neraka bagi anak.
Ketika hal ini saya ceritakan kepada teman yang mengajar di sekolah yang mengadakan pendidikan inklusi, dia menyarankan anak-anak itu pindah agar proses pembelajaran lebih optimal. Di sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusi, guru-gurunya sudah mendapatkan pelatihan terlebih dulu atau memang mereka mendatangkan guru-guru khusus dari sekolah luar biasa yang bisa mengerti dan memahami anak-anak berkebutuhan khusus ini.
Dari temuan-temuan ini, memang sudah sewajarnya para orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus memasukkan anak-anak mereka ke sekolah yang menyelanggarakan pendidikan inklusi. Hanya saja, kendala yang ditemui adalah tidak semua kecamatan mengadakan pendidikan inklusi, sedangkan anak-anak ini tersebar hampir di semua wilayah. Masalah lain juga, yaitu terkadang orang tua tidak memahami bahwa anak mereka masuk kategori anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka ‘memaksakan’ anak-anak mereka belajar di sekolah regular biasa.

Baca Juga :  Dampak Pendidikan di Era Globalisasi

Penulis adalah Guru SMP Negeri 54 Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!