Restorasi Hutan dan Lahan Kritis Sumsel Masih Terbuka

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin meninjau pameran The 1st Asia Bonn Challenge High Level Roundtable Meeting di halaman Griya Agung. Foto: Kris Samiadji/Sumeks

Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin menyebut Bonn Challenge merupakan konferensi lingkungan hidup tingkat internasional yang dihadiri para Menteri Lingkungan Hidup se-Asia. Tujuannya tak lain bersama-sama merestorasi hutan kritis di dunia.

Saat ini, kata dia, potensi merestorasi hutan dan lahan kritis di Sumsel masih terbuka lebar. Ada sekitar 736.000 hektare hutan dan lahan bekas terbakar di 2015. Alex pun mengingatkan masyarakat tidak buka lahan dengan membakar hutan dan lahan.

“Petani Desa Banyu Biru OKI, Jeni patut dicontoh. Dia berhasil menggerakkan warga desanya meninggalkan tradisi membakar dalam membuka lahan pertanian,” ungkapnya. Selain itu, Dinas Pertanian Sumsel juga telah membagikan 2.725 hand tractor dan 729 pompa air kepada petani di 17 kabupaten/kota untuk membuka lahan tanpa membakar.

Sementara itu, pameran Bonn Challenge sendiri diikuti beberapa perusahaan dan dinas, di antaranya mitra Pemprov Sumsel, WRI Indonesia, Asia Pulp dan Paper (APP), Belantara Foundation. Pameran itu menampilkan bagaimana mitra mendukung restorasi gambut dan menyajikan pameran hasil perkebunan Sumsel seperti kopi Semendo dan kerajinan khas Bumi Sriwijaya songket.

Peresmian ini dihadiri Direktur Usaha Jasa Lingkungan dan Hasil Hutan Bukan Kayu Hutan Produksi, Ir Djohan Utama Perbatasari MM, Kapolda Provinsi Sumatera Selatan Irjen Pol Agung Budi Maryoto, Kasdam II Sriwijaya Brigjen TNI Marga Taufiq SH MH, Ketua Pengadilan Tinggi Sumsel H Chaidil, Bupati Muara Enim H Muzakir Sai Sohar, IUCN Ms. Sandra Caya (Switzerland), Inspector General of Forest, Pakistan Mr Syed Mahmod Nasir. (yun/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!