Risiko Makan Ikan Mentah

Oleh : Ida Ayu NS Utami, SSt.Pi, MSi

Makanan “sashimi” khas Jepang sudah begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia termasuk masyarakat Palembang. Kekhasan sashimi adalah suatu hidangan yang terbuat dari ikan mentah. Manfaatnya pun sangat banyak diuraikan sehingga makanan dari ikan mentah ini menjadi sering dikonsumsi. Namun, bagaimana mensiasati agar makanan sashimi terjamin sehat untuk dimakan?
Di negara asalnya, sashimi termasuk hidangan sehari-hari. Hidangan ikan mentah ini menggunakan ikan-ikan segar yang kaya akan Omega 3, seperti kakap, tuna dan salmon. Alasan utama mengapa orang Jepang sangat suka makan sashimi adalah karena kadar Omega 3 pada ikan-ikan tersebut sangat tinggi jika dimakan dalam keadaan mentah, daripada dalam keadaan matang.
Itu sebabnya, sashimi tidak hanya dimakan oleh orang dewasa saja. Sejak kecil, anak-anak di Jepang sudah dibiasakan makan sashimi. Sebab, Omega 3 yang dikonsumsi dipercaya bisa membuat IQ jadi lebih tinggi, tidak mudah depresi, dan menurunkan kadar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yaitu suatu gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.
Selain alasan kadar Omega 3 yang sangat tinggi jika ikan dimakan dalam keadaan mentah, ikan mentah juga kaya akan protein namun rendah kalori. Sehingga secara keseluruhan, makan sashimi diyakini banyak memberi manfaat bagi tubuh.
Tapi, meski dipercayai mengkonsumsi ikan mentah memberikan banyak manfaat, namun bagaimana kita mengetahui apakah sashimi sehat untuk dimakan? Sebenarnya tidak ada masalah jika ingin makan sashimi selama ikan mentah yang akan dimakan memiliki kualitas yang baik dan bebas dari parasit seperti cacing yang ada di dalam daging ikan mentah.
Jadi mengenali gejala klinis ikan yang terserang parasit seperti cacing pita jepang adalah hal yang baik dilakukan. Gejala klinis ikan yang terserang parasit cacing terlihat dari kenampakannya dan bau ikan yaitu daging kering dan kurang bersih, daging ikan tidak mengkilat dan warna daging krem kecoklatan atau kekuningan, bau kurang segar, amis menyengat dan sedikit bau amoniak, bentuk tekstur potongan fillet tidak padat, lembek, dan tidak kompak.
Serangan parasit pada ikan laut meningkat selama dekade sekarang, disebabkan kebanyakan oleh berulangnya infeksi ke manusia lewat ikan mentah atau setengah matang, dalam bentuk larva dari parasit, khususnya yang terkenal berbahaya yaitu larva cacing pita Jepang dari klas cestoda Diphyllobothrium nihonkaiense, yang dapat terlihat dengan kasat mata manusia tapi sulit untuk dideteksi. Penemuan parasit cacing ini tercatat di beberapa negara seperti: Jepang, Belanda, Amerika yang menyebabkan manusia terinfeksi parasit ini.
Seperti yang terjadi di Taiwan baru-baru ini. Seperti dikutip dari laman Daily Mail, Kamis (15/6/2017), seorang bocah berusia delapan tahun, mengaku mengalami gatal-gatal pada bagian dalam perutnya. Setelah pemeriksaan dilakukan, dokter menemukan cacing pita Diphyllobothrium latum berukuran 2,6 meter di dalam perutnya. Setelah operasi, bocah perempuan yang tak disebutkan namanya itu telah dinyatakan pulih.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat, parasit Diphyllobothrium latum adalah jenis cacing pita terbesar yang menyerang manusia, atau sering dikenal dengan sebutan cacing pita lebar. Biasanya cacing pita ini akan berkembang di dalam tubuh ketika manusia mengkonsumsi daging babi, sapi, atau ikan mentah yang telah terkontaminasi.
Banyak ikan air tawar dan laut merupakan hospes (inang) parasit pada aves, mammalia, pisces dan manusia. Zoonosis (infeksi penyakit hewan ke manusia) yang ditularkan melalui ikan seringkali terdapat di negara dimana penduduknya suka makan ikan mentah atau kurang matang, misalnya di Cina, Jepang, Korea, Thailand dll. Dulu masyarakat Indonesia tidak terbiasa makan ikan mentah, sehingga penyakit yang ditularkan melalui ikan jarang ditemukan, namun seiring dengan pengaruh globalisasi kegemaran masyarakat Indonesia mengkonsumsi makanan dari ikan mentah cenderung meningkat. Dengan demikian sebelum terjadi kasus serangan parasit cacing pita di dalam tubuh, perlu waspada dalam hal memakan makanan berbahan daging mentah karena infeksi serangan parasit pada ikan mentah atau kurang matang ini cukup tinggi.
Infeksi parasit cacing pita jepang khususnya yang disebabkan oleh parasit dari klas Cestoda Diphyllobothrium nihonkaiense ditemukan 70% sampai 80% dari ikan laut yang diteliti, yang diimpor dari Filiphina, Srilanka, Hawaii, Karibia, Australia dan Laut Merah serta ikan yang berasal dari perairan Indonesia. Dalam kebanyakan kasus disebutkan bahwa cacing menyebabkan kerusakan ringan pada ikan, situasi menjadi buruk bila cacing berbiak cepat atau bila ikan menjadi lemah karena kondisi – kondisi buruk seperti saat pengangkutan ikan, kurang makan, adanya penyakit dll. Pada kasus seperti ini ikan dapat menjadi lemah dan bahkan mati.
Siklus hidup parasit Diphyllobothrium nihonkaiense dapat digambarkan, bahwa parasit cacing pita jepang ini memiliki empat scolex (alat penghisap), dimana dalam stadia telur atau larva yang menetas dari cestoda ditelan oleh ikan di dalam rongga tubuh organ pencernaan ikan, dan benih – benih cacing tumbuh mencapai tahap dewasa dalam usus manusia dan dapat menyebabkan penyakit serius dan bisa berakibat fatal.
Ikan mentah bisa mengandung cacing kecil, yang bisa masuk secara langsung dalam usus manusia yang memakannya. Dalam kasus yang lebih parah, masuknya cacing ke dalam tubuh dapat menyebabkan reaksi anafilaksis, yang mana parasit memicu detak jantung yang tidak menentu dan gagal napas pada penderitanya, yang bisa berakibat fatal. Kebanyakan orang percaya bahwa sushi adalah makanan bergizi rendah kalori, namun sebuah studi mengungkapkan bahwa selain terkena parasit cacing makan banyak sushi membuat orang terancam terkena kadar merkuri yang berbahaya dari ikan mentah, yang dapat menyebabkan penyakit jantung, masalah dengan perkembangan system otak dan syaraf.
Jadi langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari Infeksi parasit cacing pita ini pada saat memakan ikan mentah yaitu pengamatan yang baik dan jeli terhadap ikan dengan cara memilih ikan segar dalam bentuk fillet diantara nya: (1) Bentuk potongan fillet padat, (2) Daging ikan mengkilat, (3) Daging kenyal, bila ditekan kembali kebentuk asal, (4) Tidak bau amis apalagi busuk, (5) Daging melekat kuat pada tulang, (6) Tidak menampakkan warna kecoklatan atau kekuningan, (7) Daging tidak kering.
Selain itu, langkah pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan membekukan ikan pada suhu -20° C selama tujuh hari atau dibekukan pada -35° C selama 15 jam. Pembekuan ini bertujuan untuk membunuh parasit yang ada di ikan. Oleh karena itu, bila ingin makan ikan mentah sebaiknya disiapkan dengan benar ikan mentah yang akan dikonsumsi sesuai peraturan keamanan pangan yang berlaku.
Risiko untuk bisa menimbulkan penyakit mungkin sangat kecil, sehingga aman untuk dikonsumsi. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan terkena infeksi parasit jika masih terdapat organisme berbahaya meskipun jumlahnya sangat sedikit pada ikan mentah, walaupun sudah melalui proses pembekuan. Oleh karena itu, kita tetap harus memperhatikan kesegaran ikan, kebersihan, pengolahan, dan penyajian makanan berbahan dasar ikan mentah untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Baca Juga :  Harta Milik Tuhan

* Tenaga Fungsional di Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Palembang.

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!