Rokok dalam Perekonomian Masyarakat

Sondra Megasri

PADA 31 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Pada hari tersebut merupakan momentum untuk mengingatkan dan menyebarluaskan kepada masyarakat tentang bahaya merokok serta dampaknya bagi kesehatan. Di Indonesia sendiri berbagai kegiatan dilakukan dalam mensosialisasikan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) tersebut.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta jiwa, Indonesia mempunyai peluang besar menjadi negara dengan jumlah perokok terbanyak di Dunia. Bahkan pada 2017 yang lalu Indonesia menjadi negara nomor tiga tebanyak jumlah perokoknya di dunia setelah Tiongkok dan India.
Setiap tahun terjadi peningkatan persentase perokok di Indonesia. Peningkatan tersebut setidaknya disebabkan oleh tiga faktor. Yakni: Pertama, merokok sudah dianggap sebagai gaya hidup. Ada anggapan bila tidak merokok dianggap tidak macho atau keren sering kali menjadi alasan menjadi perokok terutama bagi anak muda. Kedua, adanya kemudahan dalam mendapatkan rokok. Siapa saja bisa membeli rokok. Bahkan anak sekolah pun bisa dengan bebas membelinya. Ketiga, murahnya harga rokok di Indonesia. Dengan uang jajan Rp5.000 saja, pelajar sudah dapat membeli beberapa batang rokok.
Bila dibandingkan negara lain, Indonesia merupakan negara yang memasang harga paling murah untuk sebungkus rokok. Sebungkus rokok di Indonesia dibandrol dengan harga kurang dari Rp20 ribu. Di negara lain seperti Inggris dan Amerika Serikat sebungkus rokok dijual dengan harga sekitar Rp170 ribu. Bahkan di Australia mencapai Rp245 ribu untuk sebungkus rokok.
Aktivitas merokok biasanya dilakukan oleh laki-laki, namun ada juga perempuan yang merokok tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2017, sekitar 23,48 persen dari penduduk berusia 5 tahun ke atas merupakan pekokok yang terdiri dari 21,37 persen mengkonsumsi rokok setiap hari dan 2,11 persen mengonsumsi rokok namun tidak setiap hari. Dengan kata lain setidaknya satu dari lima orang penduduk usia 5 tahun ke atas merupakan perokok.

Rokok dan Pengeluaran Rumah Tangga
Pada 2017 berdasarkan hasil Susenas tercatat bahwa rata-rata jumlah rokok yang dihisap setiap minggunya sebanyak 81 batang rokok di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Selatan rata-rata jumlah rokok yang dihisap setiap minggunya sebanyak 87 batang rokok lebih banyak dibandingkan rata-rata nasional. Bila dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, perokok daerah pedesaan cenderung lebih banyak menghisap rokok dibandingkan daerah perkotaan, yaitu 84 batang dan 78 batang rokok.
Besarnya jumlah rokok yang dikonsumsi akan memberikan pengaruh pada perekonomian masyarakat. Di Indonesia, pada 2017 sebanyak 12,42 persen dari pengeluaran makanan per kapita yang digunakan untuk konsumsi rokok lebih besar dari pengeluaran yang digunakan untuk konsumsi padi-padian yang hanya 11,64 persen saja. Bila dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, persentase pengeluaran makanan per kapita yang digunakan untuk konsumsi rokok di daerah perkotaan lebih kecil dibandingkan dengan daerah perdesaan. Di daerah perkotaan sebesar 10,84 persen sedangkan di perdesaan mencapai 14,72 persen.
Untuk Sumatera Selatan, pengeluaran makanan untuk konsumsi rokok sebesar 14,43 persen sedangkan untuk konsumsi padi-padian hanya 12,23 persen. Sejalan yang terjadi di Indonesia, di Sumatera Selatan pun pengeluaran makanan untuk konsumsi rokok di daerah perkotaan lebih kecil dibanding daerah perdesaan. Yaitu sebesar 10,97 persen dan 16,93 persen. Kesejahteraan bisa diukur dari besaran pengeluaran rumah tangga per kapita. Terdapat kecenderunggan semakin sejahtera/kaya maka pengeluaran untuk konsumsi rokok semakin besar. Rumah tangga dengan golongan pengeluaran per kapita sebulan Rp150 ribu sampai Rp199.999 rata-rata menghabiskan 11,84 persen dari total pengeluaran makanan untuk konsumsi rokok. Semakin tinggi pengeluaran rumah tangga maka kecenderungan konsumsi rokok juga semakin meningkat. Persentase pengeluaran makanan untuk konsumsi rokok tertinggi terdapat pada rumah tangga dengan golongan pengeluaran per kapita sebulan Rp750 ribu sampai Rp999.999 yaitu sebesar 18,44 persen. Dengan kata lain konsumsi rokok terbanyak terdapat pada masyarakat kelas menengah.

Rokok dan Kesehatan
“Permasalahan rokok di Indonesia sampai saat ini masih menjadi masalah nasional yang terus menerus perlu diupayakan penanggulangannya karena menyangkut berbagai aspek permasalahan dalam kehidupan seperti kesehatan, ekonomi, sosial, dan politik” (Kemenkes RI, 2006). Dari segi kesehatan sudah jelas bahwa rokok akan mempengaruhi kesehatan. Karena dalam rokok terdapat kurang lebih 4.000 zat kimia berbahaya antara lain nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik, yang dapat mengakibatkan berbagai penyakit. Peringatan akan bahaya merokok bagi kesehatan tersebut sudah dicantumkan pada setiap bungkus rokok. Tak tanggung-tanggung, bahkan ilustrasi gambar gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh merokok pun sudah disertakan. Namun kenyataannya hal tersebut tak menyurutkan keinginan untuk merokok.
Masalah kesehatan akibat merokok tidak hanya akan dirasakan oleh para perokok saja, tetapi juga oleh orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya yang berperan menjadi perokok pasif. Bila aktivitas merokok dilakukan di dalam rumah, maka secara otomatis asap rokok tersebut akan menyebar di seluruh ruang tersebut dan akan menempel pada barang-barang yang ada di ruangan tersebut.
Perokok bisa diibaratkan dengan orang yang kecanduan, karena sulit untuk berhenti. Sudah banyak perokok yang mencoba untuk berhenti namun tidak kesemuanya berhasil. Pada umumnya mereka tidak kuat menahan untuk tidak merokok. Banyak alasan bagi perokok untuk tidak berhenti merokok. Seperti bila tidak merokok mulut terasa asam atau jika tidak merokok maka tidak dapat berpikir atau mencari ide. Diperlukan tekad yang kuat dan dukungan lingkungan sekitar untuk benar-benar berhenti merokok.

Peran Pemerintah
Pemerintah telah memberikan perhatiannya dengan terus berupaya mengurangi jumlah perokok pemula melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 tahun 2012. PP tersebut sebagai awal bagaimana pemerintah Indonesia mengendalikan tembakau, terutama pada perokok pemula. Sebagai salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam menurunkan jumlah perokok di Indonesia, yaitu program Kawasan Tanpa Asap Rokok.
Pada awal 2018 pemerintah telah melakukan kenaikan cukai rokok. Diharapkan dengan adanya kenaikan cukai tersebut maka konsumsi rokok dapat berkurang. Memang akan menjadi suatu dilema tersendiri disaat konsumsi rokok menurun karena secara tidak langsung akan berdampak pada kesempatan kerja, yaitu para petani tembakau dan buruh rokok. Namun, untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera, maka konsumsi rokok harus dikurangi atau bahkan dihentikan. Seperti pepatah yang mengatakan “Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati”. Semoga kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera dengan mengurangi konsumsi rokok. (**)

Oleh: Sondra Megasari, S.ST
Statistisi Pertama di BPS Provinsi Sumsel.

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!