Rumah Retak, Atap Rontok

BATURAJA – Gempa berkekuatan 5.0 skala Richter (SR) terjadi 33 kilometer (km) barat daya Kabupaten OKU, Minggu pagi (20/8), pukul 08.06.20 WIB. Tepatnya pada titik 4.25 LS (lintang selatan),103.80 BT (bujur timur). Lokasinya di kaki Bukit Nanti 1.619 mdpl Desa Mendingin, Ulu Ogan, perbatasan dengan wilayah Gunung Megang, Muara Enim.
Menurut informasi BMKG yang beredar luas, pusat gempa pada kedalaman 10 km dan tidak berpotensi tsunami. Tipenya gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Meski begitu, cukup dirasakan masyarakat Kecamatan Ulu Ogan. Mereka sampai berhamburan menyelamatkan diri keluar rumah.
“Saya masih tidur saat getaran pertama terasa. Tiba-tiba getaran sangat kuat, kami sekeluarga lari keluar,” kata Dadang, warga Desa Kelumpang. Awalnya, dia mengira rumahnya ditabrak kendaraan.
“Ternyata, waktu di luar, banyak tetangga yang juga keluar rumah mereka. Rupanya terjadi gempa,” imbuhnya. Getaran yang kuat ia rasakan dua kali, disusul tiga kali gempa kecil. Akibat gempa tersebut, dinding rumahnya memgalami retak di bagian dapur dan beberapa bagian lain.
“Tadi saya keliling dan ke rumah mertua di Desa Gunung Tiga. Di sana, ada atap genteng rumah warga yang rontok,” bebernya, Camat Ulu Ogan, Amrin mengakui adanya gempa tersebut. Bahkan dia sempat berlari keluar rumah.
“Saat gempa itu, sedang ada acara ulang tahun pengajian anak-anak di Desa Mendingin. Jadi mereka semua ketakutan dan keluar tenda,” ujarnya. Meski terasa cukup kuat, tapi belum ada laporan rumah rusak atau korban dari gempa tersebut.
Pihaknya melalui Kades Mendingin sudah melakukan koordinasi dengan wilayah Talang Beringin, Desa Mendingin yang posisinya di atas bukit, dekat dengan Kisam Tinggi, OKU Selatan.
“Kepala dusun (kadus)-nya bilang memang ada gempa yang mereka rasakan. Alhamdulillah tidak ada rumah yang rusak,” tambahnya. Kepanikan gempa juga terjadi di Kota Baturaja, OKU. Warga berlarian mencari penyebab getaran tersebut. Ibu-ibu yang berada di dalam rumah berhamburan keluar. ”Awalnya kami tak tahu kalau itu gempa,” kata warga Baturaja, Agus.
Pinta belakang rumahnya sampai bergetar keras. “Awalnya kami kira ledakan bom latihan tempur. Ternyata getaran keras itu karena gempa. Tapi hanya beberapa detik,” pungkasnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKU, Hemni Rusdi menyebutkan, pusat gempa berada di Muara Enim. “Semua kecamatan merasakan getarannya,” ucapnya.
Katanya, gempa diakibatkan pergesaran lempeng Gunung Megang, Muara Enim. Karena jaraknya tak terlalu jauh dengan Kabupaten OKU, sehingga dampaknya terasa hingga wilayah OKU.
Meski tidak berdampak tsunami, dia mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati. Termasuk jika terjadi gempa susulan. Relawan BPBD OKU telah disiagakan. Informasinya, gempa ini yang kedua kalinya. Pada 2015, pernah terjadi gempa juga di wilayah OKU, di sekitar Pengandonan.
Gempa tektonik bisa jadi tanda aktivitas sejumlah bukit di sekitar Kabupaten OKU. Sebut saja ada Bukit Ringgit 2.129 mdpl (perbatasan TanjungTiga), Bukit Balai 2.100 mdpl (perbatasan Semendo) dan Bukit Nanti 1.619 mdpl (Lengkiti Muarajaya dan Ulu Ogan). Informasi lain, di Ulu Ogan ada sumber air panas bumi purba. Jika itu benar, artinya di wilayah itu pernah ada gunung aktif.
Kepala BPBD Muara Enim, M Thasman, membenarkan terjadinya gempa jenis tektonik itu. “Terjadinya di perbatasan Gunung Megang dengan OKU,” jelasnya. Dia sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Gunung Megang. “Dari kepala BPBD Sumsel juga sudah menanyakan itu,” ucapnya. Sementara, belum ada laporan warga terkait kerusakan yang dialami pascagempa.
Getaran gempa di barat daya OKU dirasakan warga OKU Selatan. Misalnya, masyarakat di Kota Muara Dua. “Cukup kuat, rumah sampai bergetar. Untuk model panggung lama yang pakai tapakan,” ucap Irfan, warga Simpang Empat, Kecamatan Kisam Tinggi.
Dampak gempa itu juga dirasakan warga di sekitar Ranau, Fatien. Dia sempat menebak kalau gempa itu terjadi di daerah Liwa yang memang rawan. “Ternyata dari daerah OKU,” ucapnya.
Kepala Pelaksana BPBD OKU Selatan, Dony Agusta SKM, menegaskan, gempa yang terjadi tidak berdampak parah. Mungkin karena jarak dengan pusat gempa cukup jauh, sekitar 80 km. “Belum ada laporan warga yang rusaknya rusak atau dampak lain,” katanya.
Warga Kecamatan Martapura, OKU Timur ternyata merasakan juga getaran gempa kemarin pagi. “Kalau tidak salah tadi itu sekitar jam 8 pagi, terasa sekitar 3 detik. Lampu di rumah bergoyang,” ungkap Dian, warga di sana.
Syafii, warga Terukis, juga merasakan getaran gempa itu. Tapi tidak terlalu kuat dan tidak ada warga yang sampai keluar rumah. Camat Martapura, H Faisal mengatakan banyak mendapat laporan terkait gempa itu. “Kebetulan saya dalam mobil jadi tidak terasa. Tapi kata warga memang ada,”terangnya.
Sementara Kepala BPBD OKU Timur, Rusman, mengatakan, selain di Martapura, getaran gempa di perbatasan OKU juga dirasakan di wilayah Belitang. “Para pedagang di pasar Martapura mengaku semua merasakan getaran, tapi cuma sedikit. Di Belitang juga,” tukasnya.
Staf Seksi Data dan Informasi BMKG Palembang Stasiun Klomatologi Kelas 1 Kenten, Darakasih Hairani, membenarkan adanya gempa itu. “Memang jenisnya gempa tektonik kerak dangkal, akibat aktivitas sesar lokal dengan mekanisme sumber berupa sesar mendatar (strike-slip fault),” jelasnya.
Tergambar dalam peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG, dampa, gempa tersebut berpotensi dirasakan di Kota Pagaralam, Muara Enim dan Liwa dalam skala intensitas I SIG-BMKG (II MMI). Tap dari laporan sementara, guncangan yang dirasakan di Liwa skala intensitas I SIG BMKG (II MMI)
Diakuinya, beberapa wilayah Sumsel, khususnya di wilayah barat memang rawan karena menjadi wilayah pertemuan lempengan. Seperti Lubuklinggau, Lahat, Pagaralam hingga OKU Selatan. (gsm/dwa/sal/roz/uni/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!