Sabu Rp25 Miliar Gagal Masuk PALI

EKSPOSE: Kepala BNNP Sumsel Brigjen Pol Jhon Turman Panjaitan dan jajaran menunjukkan barangbukti 17 kg sabu asal Medan. Foto: Kris/Sumatera Ekspres

SUMSEL – Peredaran 17 kg sabu-sabu asal Medan tujuan Sumsel, khususnya Palembang dan sekitarnya berhasil digagalkan. Yang mengejutkan, dua dari lima pelaku yang terlibat merupakan warga Desa Tanah Abang Utara, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI.
Mereka Ginas (23), ditembak mati anggota BNNP Sumsel dan Hilario (21). Keduanya tertangkap Kamis (9/8) malam. Kabar adanya yang ditembak mati sempat membuat heboh warga Tanah Abang Utara, Kecamatan Tanah Abang. Awalnya, perangkat desa setempat dan keluarga yang bersangkutan sempat ragu dengan kebenaran berita tersebut.
Namun, kemarin (10/8) sore didapat kepastian. Ginas, yang meregang nyawa dalam penangkapan benar warga PALI. Kepala Desa Tanah Abang Utara, Korian, menyatakan, Ginas dan Hilario memang warganya. “Kami sudah dapat kepastian, benar Ginas yang dimaksud merupakan Ginas warga kami,” ujarnya.
Menurut Korian, keluarga almarhum sudah mengecek langsung jenazah yang ada di RS Bhayangkara Palembang. “Kemungkinan, malam ini (tadi malam) akan langsung dimakamkan oleh pihak keluarganya,” tambah dia. Pemakaman direncanakan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat.
Pantauan koran ini, tampak tenda sudah terpasang di halaman rumah duka. Tumpukan kursi pelayat pun sudah disiapkan. Sebelumnya, informasi adanya warga Tanah Abang Utara yang ditembak mati memang sudah beredar di desa tersebut. Namun, dari pihak keluarga dan warga setempat belum mendapatkan informasi pasti.
Baik secara lisan maupun tertulis. Karena itu, Korian mengungkapkan pihaknya akan mengecek kepastian kabar tersebut. “Status mereka berdua bukan pelajar, tapi sudah tamat alias tidak sekolah lagi saat ini. Tapi memang ada yang namanya Ginas dan Hilario,” ungkap Korian.
Darinya diketahui juga kalau Ginas dan Hilario bukan kakak beradik. Keduanya teman, tapi memang masih punya pertalian keluarga meskipun bukan kerabat dekat. Almarhum Ginas sepengetahuan dirinya tidak punya pekerjaan tetap.
“Tapi memang dua bulan terakhir sering bolak-balik ke Palembang,” imbuhnya. Korian menambahkan, Ginas tidak punya kakak yang sedang menjalani hukuman di Lapas atau Rutan.
“Tapi kalau mamang (paman) memang ada. Sedang ditahan di Lampung, kabarnya karena terlibat kasus narkoba,” jelas dia. Sementara itu, Ris, teman sekampung Ginas mengungkapkan, sobatnya itu bersama Hilario dua hari terakhir pergi dari desa menuju Palembang.
“Tapi tidak tahu ada kerjaan apa. Memang sudah biasa begitu,” tambahnya. Kapolsek Tanah Abang AKP Sofyan Ardeni mengatakan, pihaknya belum mengetahui adanya penangkapan terhadap dua warga Desa Tanah Abang Utara oleh BNNP Sumsel. “Mungkin saja pergerakan BNN bersifat silent. Jadi tidak ada pengamanan,” katanya.
Dari ekspose kasus oleh BNNP Sumsel di RS Bhayangkara Palembang, kemarin, diketahui ada dua tersangka yang ditembak mati. Keduanya, Erdianto (38), warga Dusun Bukit Tua, Kecamatan Padang Tualang Kabuaten Langkat, Sumatera Utara dan Ginas.”Dari hasil penangkapan, kami amankan 17 kg sabu-sabu,” kata Kepala BNNP Sumsel Brigjen Pol Jhon Turman Panjaitan didampingi Kabid Pemberantasan AKBP Agung Sugiono.
Menurutnya, kedua tersangka yang diduga bandar narkoba ini terpaksa ditindak tegs lantaran berusaha melawan dan melarikan diri. Sedang tiga lainnya berhasil dibekuk. Mereka, Siso (38) warga Dusun Telok Berahol Desa Besilam, Kecamatan Padang Tualang Kecamatan Langkat, Sumatera Utara dan Mino (48), warga Desa Rambai Jaya, Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
Satu lagi, Hilario (21), warga yang sama dengan Ginas. Penggagalan peredaran 17 kg sabu ini diawali dengan penggerebekan di salah satu hotel pada kawasan Puncak Sekuning, Kamis (9/8) pukul 18.20 WIB.
Di sana, anggota BNNP Sumsel meringkus Erdianto bersama Siso dan Mino. Keduanya dari Medan, Minggu (5/8), naik mobil Avanza hitam. Siso yang mengendarai mobil milik Erdianto itu. Sabu 17 kg disimpan kawanan ini dalam jok tengah mobil.
Mereka tiba di Palembang, Selasa lalu. Kemudian menginap di hotel sembari menunggu kedatangan Ginas dan Hilario. Kamis siang, ketiganya check in pakai nama Erdianto di sebuah hotel di kawasan Puncak Sekuning.
Rupanya, pergerakan komplotan ini sudah diintai jajaran BNNP Sumsel. Sekitar pukul 18.20 WIB, petugas melakukan penggerebekan dan menangkap mereka. Dari dalam jok bagian tengah, ditemukan 17 paket teh yang isinya sabu-sabu. Total 17 kg.
Dalam pengambangan mencari Ginas dan Hilario, tersangka Erdianto berusaha kabur sehingga terpaksa diberi tindakan tegas hingga meregang nyawa. Petugas BNNP Sumsel berhasil meringkus Ginas dan Hilario. Namun, karena berusaha melawan, Ginas juga dilumpuhkan. Peluru petugas mengenai punggung hingga tembus ke dadanya.
Sedangkan Siso, Mino dan Hilario diamankan, Dari hasil penggeledahan, didapatkan narkoba sebanyak 17 kilogram sabu-sabu yang disimpan di dalam jok bagian tengah mobil Avanza.
Rencananya, sabu-sabu sebanyak itu akan diserahkan Erdianto kepada Ginas. Pergerakan narkoba serbuk putih itu diduga diatur seorang napi yang sedang menjalani hukuman di Lampung. “ER (Erdianto) ini memang bandar besarnya, sedangkan Gi (Ginas) penerima pasokan narkoba,” tutur Jhon.

Diupah
Tugas mengantarkan narkoba dari Medan ke Palembang yang dilakukan Siso dan Mino untuk pertama kalinya, Ada 17 kg sabu dalam 17 kemasan teh yang disimpan rapi di bawah jok tengah mobil milik Erdianto yang disopiri Siso.
“Supaya tidak mencurigakan, disimpan rapi di bawah jok tengah. Dari Medan, kami tidak pernah kena razia,” tuturnya. Agar tidak mencurigakan, Siso mengaku berusaha terus bersikap santai dan tenang. Begitu juga dengan Mino. Walaupun sebenarnya dia sangat gugup.
Kata Siso, dia dan Mino dijanjikan dapat upah Rp30 juta untuk menemani Erdianto mengantarkan sabu-sabu dari Medan ke Palembang. Namun keduanya baru menerima Rp20 juta dan sisanya baru dibayarkan setelah paket narkoba sudah sampai tujuan ke tangan pemesan.
“Sumpah saya baru sekali ini ikut antar dan baru ini juga ke Palembang. Jadi saya tidak tahu wilayah Palembang. Saya ini cuma diajak saja dan tidak ikut menjual narkoba,” ujar Siso dan Mino. Sementara pengakuan Hilario (21), dia dan Ginas datang dari PALI.” Saya hanya menemani, tidak tahu sama sekali (ambil narkoba),” katanya.
Dijelaskan Jhon, keberhasilan pengungkapan kasus peredaran narkoba 17 kg ini bermula dari informasi masyarakat. Beredar kabar kalau akan ada transaksi narkoba di hotel itu. Setelah itulah, anggota BNNP Sumsel melakukan penggerebekan.
Sementara itu, pengakuan ketiga tersangka sama-sama menegaskan tidak mengetahui jika BB yang diambil tersebut merupakan sabu, namun petugas tak percaya begitu saja dengan pengakuan para tersangka ini. (wly/kms/ebi/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!