Saya tak Kelola Jawa Pos Lagi, Fokus Kelola Badan Saja….

Dahlan Iskan bersama Tatang Istiawan. foto: istimewa

Surat Terbuka untuk Wartawan Senior, Muda, Yunior dan Calon wartawan, bisa Bercermin dari Perjalanan Hidup Mantan Raja koran Indonesia, Dahlan Iskan (1)

Minggu,11 Februari 2018 | 22:58 WIB

Hari Pers Nasional (HPN) 2018 dan HUT PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) ke 72 Tahun, usai diperingati di ibu kota Sumatera Barat, kota Padang, Jumat 9 Februari 2018. Saya yang hadir tanpa janjian dengan Dahlan Iskan, bisa pulang ke Surabaya, satu pesawat Lion Air. Bersamanya saya naik dari Bandara Internasional Minangkabau, pukul 20.00, atau delay 2 jam lebih dari jadwal keberangkatan pukul 16.35 wib. Praktis, kami berdua kleleran di Executive Lounge. Dahlan di lounge lebih mewah dan saya lounge sederhana. Kami bersua justru di dalam pesawat. Sebagai yang lebih muda, saya yang duduk di seat 5 D menyapa Dahlan lebih dulu. Dahlan duduk di Seat 1F, berpenampilan bak coboi (memakai topi laken coklat, berkacamata, berjas dan sepatu sport abu-abu ada slip merah serta bersal warna gelap). Terjadilah pembicaraan gayeng selama dua setengah jam dalam perjalanan malam hari dari kota Padang ke Surabaya. Materi pembicaraan saya dengannya mulai soal saham Dahlan di Jawa Pos, pasca RUPS tahun 2017, kondisi kesehatannya yang terus ngedrop sampai relevansi memimpin organisasi profesi wartawan, dan perusahaan pers era kapitalisme. Bahkan Secara tak saya duga, bicara ceplas ceplos kesiapannya mati kapan pun, termasuk meninggal dunia sekarang. Maklum, kini memasuki usia yang ke 66 tahun, ia diserang penyakit baru yaitu Aortic Dissection (pembuluh darah yang besar yang keluar dari jantung dan membawa darah ke seluruh tubuh). Penderitaan penyakit yang dideritanya saat Umroh ini berbeda dengan penyakit kanker hati sebelumnya. Bahkan raja koran ini tak mau disebut dengan predikat raja koran lagi. Why?, karena realitanya sejak bulan lalu, semua sahamnya di Jawa Pos grup diambil alih oleh pemegang saham lainnya. Praktis, kini ia dan Azrul Ananda, anaknya tak lagi diberi peluang kelola Jawa Pos grup lagi, apalagi memiliki saham. Ketiadaannya memiliki saham di Jawa Pos Group, termasuk radar-radar di Jatim dan Memorandum. Dahlan kini tinggal mengantongi saham di harian Rakyat Merdeka, Jakarta. Konsep bercermin dari pengalaman orang lain menurut saya, bermanfaat agar kita jangan terantuk seperti dia atau bisa maju melebihi orang yang kita jadikan cermin, kini dan esok. Bagi saya wartawan yang sudah berpraktik sejak tahun 1977, belajar dari orang lain itu ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengakselerasi diri saya, sepanjang tidak menyakiti teman seprofesi. Apalagi sampai mematikan seperti sumpah serapah owner Memorandum Agil H Ali, pada Dahlan Iskan, yang adalah teman seprofesi dan sebaya.  Dibawah ini, catatan saya mengenal Dahlan Iskan secara pribadi sejak sama-sama wartawan ketika masih bujang (1978-an), saat sama-sama menjadi pengurus SPS-PWI Jatim (1989-an) hingga wawancara eksklusif dadakan menggunakan model wawancara asesmen, casual interview, personality interview dan news interview, di atas pesawat, Sabtu (10/2/2018) malam.

Baca Juga :  Tak Bisa Dilego Pemda

Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada,

Jujur, saya ketemu Dahlan Iskan, malam itu, bukan sekedar berbincang santai antar teman, meski dia lebih senior 4 tahun dibanding saya. Bincang yang saya lakukan bukan sekedar wawancara menggunakan telinga dan mulut seperti layaknya wartawan muda umumnya. Malam itu saya wawancara dadakan menggunakan model asesmen (konseling). Maklum, sama-sama wartawan dan Dahlan dalam keadaan sakit. Barangkali saya bisa memberi masukan bersifat konseling secara psikologis.

Tentu wawancara saya ini menggunakan mata hati, mata, hidung, indera dan otak serta tidak hanya mulut dan tangan mencatat atau pikiran menyerap. Mengapa? Malam itu, Dahlan, secara fisik sudah berubah banyak, meski masih menunjukkan gaya aktif (dia mengaku sudah dua bulan tak olah raga pagi senam Dahlan).

Saat itu, menurut saya, Dahlan Iskan, bukan seperti pria energik 10-15 tahun yang lalu, saat menjadi Dirut PLN dan Menteri BUMN. Tahun-tahun 2002-2012, sebagai penyelanggara Negara yang raja koran Indonesia, Dahlan Iskan, dikenal suka bikin terobosan aneh-aneh. Bahkan bicaranya  ceplas ceplos, suka cuek, pamer ke publik mengaku pejabat yang tak mau digaji negara, sehingga menimbulkan antipati dari publik sebagai pejabat yang punya sifat arogan.

Maklum, 10 tahun lalu, ia penyelenggara negara yang memiliki 125 koran. Tak salah dimana-mana ia dijuluki raja koran di Indonesia, menyamai Rupert Murdoch, raja koran di dunia. Bahkan di grupnya, ia dipanggil Pak Bos. Panggilan ini di telinga orang yang masih menggunakan akal sehat, terasa ada suatu misteri. Artinya, dalam organisasi manajemen modern yang menggunakan sebuah sistem manajemen, panggilan bos, kurang lazim, apalagi di depan kata “bos” ada tambahan “pak”.

Boss, umumnya sosok ‘’kepala’’ yang gampang memerintahkan anak buahnya untuk bekerja keras tanpa mengarahkan atau mengajarkan serta membimbing bawahannya, jika terjadi kesalahan. Justru yang ada di pikiran seorang Boss, jika bawahan bersalah harus dimarahi bahkan di maki-maki, tanpa diberi pengarahan, bagaimana cara melaksanakan apa yang diinginkannya. Pada umumnya, seorang Boss merasa bangga dan senang, jika bawahannya takut terhadap dia, bahkan seorang Boss akan merasa benar-benar menjadi seorang ‘’pemimpin’’ dengan cara seperti itu, namun sebenarnya hal ini adalah tidak lazim.

Mengingat, dalam ilmu manajemen, pemimpin atau Leader adalah seseorang yang memerintahkan atau mendelegasikan suatu tugas pekerjaan kepada bawahan, tanpa dengan kemarahan. Malahan seorang pemimpin, bahkan kadang memberi contoh kepada karyawan, bagaimana melakukan hal dengan baik ( to do the right ).

Dahlan Iskan, saat masih berfisik sehat (periode 1983-2016, sebelum ditahan dengan dugaan korupsi di PT PWU Jatim), adalah wartawan penerbit koran yang sering menjadi cemoan wartawan dan penerbit koran. Urusan penjualan koran dan distribusi koran, tahun 1986-1994, pernah menjadi pembicaraan formal dan informal antara owner Surabaya Post, almarhum Ibu Toety Azis, Pemimpin Umum Kompas Jacob Hendrawan, Pemimpin Umum Harian Surya Herman Darmo, dan beberapa penerbit luar jawa, termasuk dengan Lampung Pos dan Bali Pos. Saya sering diajak Ibu Toety Azis, membahas praktik curang yang diduga dilakukan Dahlan Iskan. Bahkan Owner Memorandum almarhum Agil H. Ali, menyumpahi Dahlan Iskan, tatkala saham Memorandum diambil dengan cara tak pantas. ‘’Kini Memo pun, milik Jawa Pos Grup, saya tak lagi punya saham disana,’’ ungkap Dahlan Iskan, yang malam itu berpenampilan nyentrik yaitu tasbih dijadikan gelang di tangan kanannya. Sepanjang perjalanan, tasbih itu tidak diutik (fungsikan) untuk berzikir, kecuali hiasan tangan.

Baca Juga :  Interogasi Semua Petugas, Dugaan Pungli ”Uang Kopi” Imigrasi

Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada,

Sepanjang wawancara menggunakan model asesmen, saya mengamati jelas fisik dahlan yang makin menghitam, terutama di wajahnya. Tinggi badannya seperti menyusut. Badannya kurus, menurut pengakuan Dahlan tinggal 60 kg. Rambutnya menipis putih, makanya ditutup dengan topi laken warna gelap, sehingga wajahnya semakin gelap. (periksa foto bersama sama yang dipotret pramugari. Posisi duduknya seperti orang kedinginan). Apakah ini tanda-tanda ujian dari Allah atas berbagai peristiwa yang pernah menyakiti sesama wartawan senior yang juga penerbit koran di Indonesia? Wallahu A’lam Bishawab.

Saat itu, saya membuka Iphone saya dan membaca surat Al-anbiya: ‘’Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Saya teringat Istirja ; Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no.918)

Kalimat istirja’ adalah obat termanjur bagi mereka yang tertimpa musibah dan paling berguna bagi seorang hamba di dunia. Apalagi malam itu, Dahlan Iskan bercerita dengan runtun tentang penyakit yang kini dideritanya, sehingga harus berobat di 3 negara yaitu Madinah, Surabaya dan Singapura.

Setiba di rumah, saya menghubungi Ustadz saya. Dia bilang manfaat Istirjayang pertama untuk balasan orang yang suka menyakiti hati orang lain yaitu dia akan menanggung dosa. Orang yang paling rugi adalah menyakiti perasaan orang lain tapi dia tidak sadar sedang melakukannya. “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS Al Ahzab : 58)

Benarkah balasan orang yang suka menyakiti hati selanjutnya yaitu dia akan dibebankan dengan dosa fitnah dan dosa dari perbuatannya itu sendiri. Wallahu A’lam Bishawab.

Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada,

Dahlan Iskan saya tanya, apakah benar saham Abang sudah dijual ke pemegang saham lain dan Apakah abang masih terus mengelola Jawa Pos Grup? Pertanyaan ini saya tanyakan pertama kali sambil melirik wajah dan bodinya. Ia yang semula duduk santai, mencoba memperbaiki posisi duduknya dan menjawab dengan gaya ceplas-ceplosnya ‘’Praktis sudah satu bulan ini saya keluar dari Jawa Pos Group bersama Azrul. Saya sudah tak ada saham disana” jawabnya.

‘’Apakah termasuk Radar-radar di beberapa daerah di Jatim?” tanya saya lagi.

‘’Ya. Termasuk koran di luar jawa, seperti Riau dsbnya.’’ tegas Dahlan.

Baca Juga :  Akhirnya... Pembangunan Terminal Bandara ini Berlanjut

‘’Jadi, abang sudah tak punya saham di anak perusahaan Jawa Pos Grup lagi?’’

‘’Oh masih ada, meski tidak banyak. di Rakyat Merdeka, Jakarta, saya masih ada saham, termasuk beberapa harian lokal di Jawa Barat.’’ tambahnya.

‘’Kalau begitu, sejak bulan lalu, abang sudah tidak menjadi Raja Koran Indonesia lagi?’’ pancing saya lagi.

‘’Gak apa-apa!’’

‘’Itu kan reputasi seorang wartawan yang pekerja keras seperti abang?’’

‘’Orang mencatat saya pernah menjadi raja koran Indonesia. boleh, tidak, ya gak apa-apa. Berapa banyak sih orang yang tahu saya ini raja koran di Indonesia?’’ jawabnya dengan sedikit bertanya.

‘’Lalu siapa yang menjadi pemegang saham mayoritas Jawa Pos Grup sekarang?’’

‘’Orang-orang di Tempo!’’

‘’Berapa saham Pak Ciputra, setelah saham abang dijual?’’

‘’Oh itu,bukan Pak Ciputra pribadi, tetapi mewakili PT Pembangunan Jaya!’’

‘’Siapa nahkoda Jawa Pos Grup sekarang. Apakah benar, anaknya Gunawan Muhammad Tempo?’’

‘’Ya dalam RUPS diputuskan seperti itu!’’

‘’Lalu posisi Leak Kustiyo?’’

‘’Oh dia hanya di Jawa Pos koran saja.’’

‘’Banyak yang bilang, penempatan Leak Kustiyo dalam RUPS, bargaining Abang?’’

‘’Tidak. Saya tak ada urusan dengan Leak. Dia itu teman Azrul.’’ tegas Dahlan Iskan.

‘’Sebenarnya saya tidak ikut-ikutan kelola Jawa Pos Grup sudah sepuluh tahun terakhir. Pengelolaannya ditangani sepenuhnya oleh Azrul. Baru satu bulan terakhir ini, saya dan Azrul keluar dari Jawa Pos Grup.’’

‘’Posisi Nany Wijaya dimana dalam manajemen Jawa Pos Grup?,’’

‘’Oh, dia sudah keluar dari Jawa Pos, sudah lama,’’

‘’Apakah ada di holding Jawa Pos, urus property?’’

‘’Oh tidak, ia urus tabloid Nyata!’’ Dahlan Iskan menegaskan.

‘’Bagaimana dengan Imawan Mashuri, yang pernah abang percaya kelola JTV?”

‘’Imawan juga sudah lama pensiun dari Jawa Pos grup’’

‘’Setelah tidak kelola Jawa Pos, apa kegiatan abang sekarang?’’ saya bertanya lagi.

‘’Saya focus kelola badan saya yang sakit-sakitan saja. Urusan sakit terakhir ini benar-benar menyita keluarga. Anak perempuan yang paling care dengan saya. Kadang ikut mengantar saya berobat ke Singapura. Berbeda dengan Azrul yang kurang care kayak adiknya.’’

‘’Kenapa Abang berobat ke Singapura. Padahal saat Abang sakit kanker hati, abang secara besar-besaran memuji kemampuan medik tenaga kedokteran RRC?”

‘’Sekarang di RRC, musim dingin disertai angin kencang. Saya tak berani berobat dalam iklim cuaca yang buruk. Di Singapura saja, saya pernah pulang-pergi ke Surabaya. Ke depannya, saya akan stay di Singapura. Saya sudah tak kuat lagi menghadapi angin di perjalanan. Apalagi kini di Indonesia juga musin hujan.’’ jawab Dahlan Iskan.

Mantan konglomerat media Jawa Pos Group ini praktis berobat serius, sebab  penyakit baru yang dideritanya, aorta dissection, mematikan. Makanya, olahraga senam Dahlan yang dirintisnya sudah dua bulan tidak dipraktikan lagi, baik di halaman Graha Pena maupun Gedung Koni, Manyar Kertoarjo. Penyakit yang dialami Dahlan ini umumnya mudah menyerang penderita hipertensi. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!