Sebelum Bertanding, Atlet Harus Lewati Fase Klasifikasi

Obor Asian Para Games. foto: kumaidi sumeks.co.id

SOLO – Pelaksanaan Asian Para Games (APG) ternyata lebih ribet dari pelaksanaan Asian Games. Ini karena sebelum bertanding, setiap atlet harus melewati fase klasifikasi. Tahap ini untuk mengecek kondisi tubuhnya sesuai dengan klasifikasi nomor yang digeluti atau tidak. Dari sini, para atlet baru bisa turun ke medan laga membela negara jika qualified. Tahapan ini dilakukan dua hari sebelum APG dilaksanakan pada 6-13 Oktober mendatang.

“Bisa dikatakan, pertarungan di APG dimulai sejak klasifikasi, bukan saat pertandingan. Di fase klasifikasi, atlet bisa saja tidak turun di nomor yang telah dipersiapkan dalam latihan karena impairment-nya atau bahkan gagal bertanding, hanya jalan-jalan saja,” ungkap Christofer Muliadi Siagian, direktur Klasifikasi INAPGOC dalam Media Gathering APG di Solo Rabu (5/9).

INAPGOC mendatangkan clasifier dari federasi internsional masing-masing cabang olahraga untuk mengecek klasifikasi setiap atlet. Di AGP III/2018, sebanyak 18 cabang olahraga dipertandingkan dengan total emas 568. Dari 2.888 atlet para games Indonesia, 1.000 di antaranya akan menjalani klasifikasi yang 30 persen di antaranya atlet penyandang tuna netra. Berbagai cara pun dilakukan agar para atlet yang sudah dibina lolos klasifikasi. Salah satunya adalah mendatangkan internasional clasifier dengan kualifikasi sudah mengenal atlet tersebut. Karena itu sangat penting try out agar atlet bersangkutan sudah pernah melewati masa kualifikasi di single event.

Baca Juga :  Obor Asian Games Lintasi KBA

“Jika ada yang protes, boleh banding dengan bayar USD 200,” ujarnya.

Dikatakan Binpres NPC Indonesia Waluyo, atlet Indonesia pernah merasakan tidak lolos klasifikasi saat di APG 2014 Incheon, Korea Selatan. Saat itu dua atlet tuna grahita
yang mengalami. Imbasnya mereka tidak bisa main. Situasi itu harus dihadapi Indonesia karena sistem melakukan klasifikasi membolehkan atlet masuk duku baru dokumen pelengkap menyusul. Sementara di APG III/2018, semua administrasi harus lengkap di depan.

“Tapi kalau di APG III ini kan kualifikasi untuk Olimpiade. Jadi kecil kemungkinan terjadi karena data klasifikasi menyesuaikan data sebelumnya di single event yang diapproved IPC (Dean Paralimpiade Dunia),” terangnya.

Untuk gairahkan APG III, INAPGOC melakukan pawai obor di Solo. Ada 10 titik yang akan dilewati pawai obor Asian Para Games. Api APG yang diambil dari Merapen, Grobogan, Jawa Tengah, diarak keliling Solo. Ada 10 orang yang dipercaya menjadi pembawa obor. Mereka adalah Nanda Mei Solikhah (atlet para atletik), Brigjen Pol Ahmad Lutfi (Wakapolda Jateng), Brigjen TNI Bakti Agus Fadjari (Kasdam IV Diponegoro), Jaenal Aripin (atlet para atletik), Bertrand Antholin (Duta obor), Amandra Syah Arwan (Wakajati Jateng), Rizal Bagus (atlet para atletik), Gusti Raden Ayu Moertiyah (pemangku Budaya), Puan Maharani (Menko PMK), dan FX Hadi Rudyatmo (Wali Kota Surakarta).(kmd)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!