Sebulan Naik Empat Kali

SUMSEL – Belakangan harga makanan pokok beras terus naik. Kondisi tersebut mulai dikeluhkan. Tak hanya di kalangan pembeli, tapi juga para pedagang hingga agen beras. “Sebulan ini sudah empat kali, harganya naik terus,” ujar Jhony, seorang agen beras di Prabumulih, kemarin (12/1).
Sebelumnya, beras karung 20 kg dijual Rp210 ribu. Naik menjadi Rp215 ribu dan naik lagi hingga Rp225 ribu. Bahkan, beras Lampung mencapai Rp335 ribu per 20 kg.
“Harganya ini terus naik sejak Desember 2017 lalu,” ungkapnya. Masyarakat mau tidak mau tetap beli. “Jadi, mau tidak mau juga kita harus stok terus barangnya,” kata dia. Jhony memprediksi, harga beras baru akan stabil Februari nanti, seiring musim panen tiba.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Prabumulih, Pribadi Roso Sarosa menyatakan, stok beras untuk Kota Nanas aman. Tahun ini, pihaknya menambah cadangan 4 ton beras sesuai anggaran. “Sisa dari pengadaan selama lima tahun terakhir (2013-2017) masih ada 9,36 ton. Jadi, total cadangan sekitar 13 ton,” bebernya.
Kapolres Prabumulih, AKBP Andes Purwanti menyebutkan, pihaknya punya tim khusus yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Pangan. “Tim rutin pantau harga dan koordinasi dengan pihak terkait,” ujarnya.
Di OKU Timur, beras kualitas sedang Rp10.500 per kg. Sedang kualitas bagus Rp12.000. Kenaikan harga dipicu belum masuknya masa panen sehingga sudah mendapatkan stok beras. “Kalau di OKU Timur sudah panen raya, harga beras tidak seperti ini,” kata Imam, pedagang beras di pasar tradisional Martapura.
Bupati OKU Timur HM Kholid MD mengatakan, sudah mengimbau perangkat desa maupun petani untuk membuat gudang. Dengan begitu, beras hasil panen raya jangan dijual semua, tapi sebagian disimpan.
“Petani kita ini, saat panen dijual sama ke tengkulak, tidak ada yang disimpan. Padahal, kalau disimpan, saat seperti ini petani bisa untung,” bebernya. Naiknya harga jual beras berimbas positif bagi petani di Kecamatan Sungai Lilin. Menurut Turino, ketua kelompok tani Prima Asih, beras mereka bisa dijual dengan harga tinggi.
“Di penggilingan bisa Rp9 ribu, belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya cuma Rp8.500,” katanya. Ia membantah kalau panen terganggu. “Kita panen terakhir bisa dapet 4,3 ton per hektare. Masih standar, tidak terlalu drastis turunnya. Jadi tidak tahu alasan harga beras bisa naik terus,” ucap Turino.
Saat di tempat lain naik, harga beras di pasar tradisional Kayuagung justru stabil. Per kg tetap Rp9.500. Itu untuk beras lokal yang datang dari Air Sugihan. “Sembako lain yang naik,” kata Ani, pemilik toko sederhana. Kepala Dinas Perdagangan OKI, Sudiyanto Djakfar mengungkapkan, harga jual beras lokal di pasaran tidak lebih dari Rp10 ribu.
Sementara beras premium, berkisar Rp10-11 ribu per kg. “OKI lumbung beras, jadi harga tidak pernah jadi masalah,” bebernya. Dia menegaskan, jika ada oknum yang curang dengan menimbun beras, dipastikan akan ditindak tegas.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura OKI, Zaini, menambahkan, stok beras OKl cukup hingga akhir tahun karena di OKI panen sepanjang tahun. “Saat ini daerah Air Sugihan yang panen. Setelah itu giliran Sungai Menang,” ujarnya.
Total luas sawah di OKI 135 ribu hektare, terdiri dari sawah lebak, tadah hujan, pasang surut dan pengairan teknis. “Untuk yang pengairan teknis, baru 10 persen yang bisa panen tiga kali setahun,” jelasnya.
Di Empat Lawang, harga beras tergolong normal. “Masih Rp9 ribu per kg,” kata Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Empat Lawang, Rudianto. Pedagang sembako di Pasar Tebing Tinggi, Dedi, mengatakan, harga beras mengalami sedikit kenaikan. “Sekarang, satu karung isi 20 kg Rp190 ribu atau Rp9.500 per kg,” katanya.
Masrup, pedagang di Kecamatan Rupit, Muratara, menyatakan, rata-rata harga beras Rp9-12 ribu per kg. Tergantung jenis, merek dan kualitas. “Sejak awal tahun baru sampai sekarang harga beras stabil, tidak naik,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Muratara, Samsu Anwar menuturkan, pihaknya terus monitoring harga. Di wilayah Muratara harga beras memang sedikit lebih mahal dibanding Lubuklinggau dan Musi Rawas. “Naiknya masih cukup wajar, karena ada pengaruh cost transportasi,” ungkapnya.
Kenaikan harga beras juga terjadi di Sekayu, Muba. “Tapi masih normal,” ungkap Ir Thamrin, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Muba. Harga beras premium naik dari Rp217.000 per karung jadi Rp223.000 per karung. Artinya, 1 kg beras sekitar Rp11.150,” cetusnya. Satu karung ini, memiliki berat 20 kg,” ungkapnya. Artinya satu kilogram beras hanya Rp11.150/kg. “Harga beras inikan, masih terbilang normal,” cetusnya.
Kasi Standarisasi Pengendalian Mutu, Tata Tertib, Niaga Pengawasan Barang dan Jasa Banyuasin, Irma Suryani, mengatakan, harga beras memang naik, tapi tidak tinggi. “Kita data di beberpa pasar, termasuk pasar Pangkalan Balai yang terbesar, harga memang naik,” katanya. Namun, pihaknya merasa belum perlu OP. Karena, stok beras di Banyuasin sudah terpenuhi dan cukup untuk masyarakat.
Pantauan di Pasar Baturaja, beras medium juga naik. Kabid Perdagangan Disperindag OKU Husnizar SE harga beras medium diharapkan tetap sesuai HET. Kenaikan terjadi pada beras jenis IR 64 (Belitang). Dari beberapa hari lalu masih Rp9.000 per kg, kini sudah Rp11.000.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan PALI bakal inspeksi mendadak. “Kita akan gelar sidak di pasar. Kalau harganya sudah kelewatan, akan OP. Sejauh ini, masih wajar,” ujar Plt Kepala Disprindag PALI, Irawan Sulaiman SSos MSi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, beras berkontribusi besar dalam perhitungan inflasi. “Gejolak harga beras akan sangat berpengaruh terhadap inflasi,” bebernya.
Kebijakan impor yang dilakukan pemerintah pusat merupakan cara untuk menekan harga. Dengan catatan, impor terkendali. Diakuinya, ada kenaikan harga untuk segmen beras kualitas medium-low. “Kemungkinan ada pergeseran dari medium ke premium, sehingga stok beras medium berkurang, harganya naik,” kata Yos.
Data BPS, kenaikan harga ini memicu inflasi di Sumsel. Pemerintah telah menetapkan HET (harga eceran tertinggi) beras, untuk menjaga stabilitas harga. HET di Sumsel untuk beras premium Rp12.800 dan medium Rp9.450 per kg.
Pantauan koran ini di jaringan ritel modern Alfamart, beras standar medium/premium berbagai merk dijual sesuai HET. “Harga beras di pasaran memang naik. Tapi kami tidak karena stok kami aman,” jeas Marketing Communication PT Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) Palembang, Rendra Satria. Bahkan, untuk merek Beras Raja, dijual pihaknya di bawah HET.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumsel, Astra Gunawan mengakui, adanya kenaikan harga beras di pasaran. Ketahuannya setelah pantauan dan pengawasan di empat pasar dalam Kota Palembang. Yakni Pasar 16 Ilir, Cinde, Lemabang dan Palimo.
Hasil pantauan di Pasar Induk Jakabaring, beras IR 64 yang telah dikemas dalam karung dengan takaran dan merek tertentu dijual dengan seharga Rp12.500-Rp13.000 per kg. Sedang beras curah dijual pada kisaran Rp9.800-Rp11.000.
Untuk beras operasi pasar (OP), diakui Astra kalau kualitasnya kurang bagus. Banyak patahan sehingga kurang diminati sehingga tujuan OP tidak tercapai. “Kalau saja beras OP kualitasnya bagus, sama dengan medium, tentu akan diminati,” imbuhnya.
Selain itu, tambah Astra, di wilayah Belitang OKUT gagal panen. Tanaman padi diserang virus dan mati tanpa sempat mengeluarkan bulir. Kepala Badan Urusan Logistsik (Bulog) Divre Sumsel Babel, Bakhtiar AS mengakui, saat ini harga beras mengalami kenaikan, namun tidak signifiknan. “Masih batas normal. Kami sudah antisipasi dengan gelar OP di hampir setiap pasar tradisional secara bergantian,” ungkapnya.
Menurut Bakhtiar, kenaikan dipicu pasokan beras yang tidak begitu banyak karena memang tidak musim panen. Dengan begitu, stok jadi terbatas. Sebab lain, kondisi cuaca yang tidak baik, sikluas tahunan Desember dan Januari. “Lalu ada peningkatan permintaan sehingga memicu harga naik,” paparnya. Untuk mendapat beras kualitas baik, pihaknya telah berkoordinasi dengan mitra penyalur.
Kepala Dinas Perdagagan Provinsi Sumsel, Agus Yudiantoro menyatakan, kenaikan harga beras masih wajar. “Sejak ada HET baru, petani banyak langsung jual ke pedagang. Mereka pilih yang mau beli dengan harga lebih tinggi,” jelas Bakhtiar. Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara menegaskan, Satgas Pangan memang memantau pergerakan harga sembako, termasuk beras.
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara menegaskan, Satgas Pangan terus memantau perkembangan harga 11 bahan pokok, termasuk beras. Tidak hanya saat hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Natal saja, tapi setiap hari.
Tim turun ke pasar-pasar tradisional, juga saat OP di daerah. “Ini untuk mengurangi tindakan nakal para pengusaha, serta memastikan stok tetap aman,” jelasnya. Laporan tim Satgas Pangan langsung di upload ke aplikasi khusus Laksan (Layanan Aplikasi Satgas Pangan).
Cara kerja aplikasi ini real time. “Setiap hari diupdate oleh petugas di setiap Polres di Sumsel. Harga beras di setiap daerah juga terpantau,” lanjutnya. Personel Satgas Pangan tak hanya polisi, tapi juga dari Bulog, Dinas Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, Kanwil Bea Cukai, YLKI, BPOM, dan MUI. (chy/kur/sal/uni/eno/cj13cj10/yun/yud/ebi/rip/bis/vis/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!