Sedekah Obat, Warga Tidak Boleh Mencari Nafkah

Salah satu ritual sekedah obat di Desa Jermun. foto: agustriawan sumeks.co.id

KAYUAGUNG Sore itu sebelum Maghrib, warga Desa Jermun, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir berduyun-duyun menuju tanah lapang. Tua, muda, bahkan anak-anak diajak orang tua untuk mengikuti ritual sedekah obat.

Sekelompok pemuda tampak mengelilingi warga dengan memali, sejenis kayu gaharu yang telah dikupas bersih. Kayu tersebut disusun rapi mengurung warga peserta ritual sedekah obat. Jika telah masuk waktu ritual, tidak seorang pun diperbolehkan keluar masuk dari lingkaran tersebut.

Berselang beberapa menit ketua adat desa pun keluar dengan membawa teko besar berisi air yang sudah dicampur rempah daun paya. Di belakangnya berbaris anak-anak muda yang membawa teko dengan ukuran yang sama.

Air dalam teko tersebut lalu dipercikkan satu persatu kepada tiap warga. Setelah mengikuti ritual, warga lalu menikmati hidangan yang terdiri dari makanan tradisional seperti gula kelapa, sagon, dan lemang. Tidak ketinggalan pisang emas.

Ritual sedekah obat berlangsung selama empat hari berturut-turut sejak 11-14 November. Di hari pertama hingga ketiga, warga harus berpantang, yaitu dilarang pergi ke sawah ataupun ke kebun. Bahkan dilarang keras memegang senjata tajam.

Warga percaya, bila dilanggar akan mendatangkan mara bahaya, apalagi di hari ketiga yang disebut dengan pantang perit (pantang ketat). Warga dilarang melakukan aktivitas berat.

Baca Juga :  Gotong Royong Bangun Jembatan

Di sore hari menjelang maghrib, setiap rumah memasang bambu kuning yang diselipkan di atap plafon rumah. Bambu kuning itu melambangkan keberanian dan kesejahteraan. Banyaknya bambu kuning yang melekat di atap rumah, melambangkan sudah berapa kali penghuni rumah tersebut mengikuti sedekah obat.

Lalu di bawah tangga, kepala rumah tangga menyalakan api dengan sabut kelapa sebagai simbol mengusir setiap mara bahaya. Dimalam harinya, tidak ada seorang warga pun yang berani keluar rumah. Ritual ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut.

Di hari keempat selepas berpantang, digelar sedekah dawet. Yakni warga yang mampu membuat kolak dawet di rumah masing-masing lalu dawet tersebut dibagikan ke warga yang kurang mampu serta jiron tetangga. Usai sedekah dawet, tuntaslah ritual sedekah obat.

Kepala Desa Jermun, Abus Roni, sedekah obat dilakukan agar keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat menyertai seluruh warga desanya.

“Tujuan lainnya adalah untuk menyedekahi desa, agar hasil pertanian melimpah dan terhindar dari segala macam mara bahaya,” kata Abus Roni, Sabtu, (11/11). (gti)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!