Sejatinya Wong Kito Galo

Oleh : Siti Rahma Dona, SIkom

INLANDER, diterjemahkan dalam Bahasa Melayu (Indonesia) menjadi  Pribumi, Bumi Putra atau Anak Negeri. Awalnya, Inlander adalah istilah, untuk penduduk yang sejak awal bermukim di pedalaman suatu daerah. Lawan katanya Outlander-Nonpribumi, pendatang baru dari luar daerah .
Presiden BJ Habibi tahun 1998, menginstruksikan pengantian istilah Pribumi dan Nonpribumi menjadi WNI dan WNI keturunan. Entah memang tidak tahu atau iseng saja, masih ada pejabat dan publik figur yang menggunakan istilah pri dan non-pri dalam forum resmi. Dan belum ada yang pernah dilaporkan ke polisi, karena menyebut nyebut pribumi dan non-pribumi.
Kebiasaan kaum imprealis menyebut bermental inlander, pada orang yang dianggap bodoh, tidak ada inisiatif, tidak percaya diri, malas, dan cuma bekerja kalau ada mandor. Satu istilah yang benar-benar merendahkan harkat dan martabat bumi putra. Anak bangsa ini, dianggap ibarat kerbau yang dicocok hidung. Menurut saja kemana, gembala imprealis membawanya.
Tahun 1848-1854, kolonial Belanda menerbitkan Staadblads, yang mengatur kedudukan hukum masyarakat Hindia Belanda. Pengaturan yang merupakan kelanjutan dari Wijkenstelsel -Undang-undang wilayah. Peraturan mengenai pemukiman dan mobilitas masyarakat menurut etnis. Produk hukum yang merupakan kombinasi  mematikan dari strategi, Politik, Militer, dan Ekonomi.
Dengan dibagi-bagi menurut etnis, akan mudah di awasi dan dikendalikan. Mencegah interaksi, pribumi dan non-pribumi. Tujuannya, mencegah etnis-etnis tersebut beraliansi dengan kaum pribumi. Singkat kata,  ini adalah bagian dari kampanye devide et impera – pecah belah dan kuasai.
Kampung China, Kampung Arab, dan Kampung India menjadi bukti bahwa produk hukum kolonial itu pernah eksis di Palembang. Masyarakat Palembang, WNI asli dan  keturunan, punya kata ganti sendiri untuk subjek orang. Dirasa tidak sopan dan berkesan mengejek, bila langsung menyebut nama etnis. Di perkampungan Palembang yang hetrogen, masyarakat menggunakan istilah wong kamu dan wong kami.
Wong kami, mewakili diri sendiri dan kelompok etnisnya.Wong kamu, mewakili kelompok lawan bicara dan  kelompok etnisnya. Idiom wong kamu – wong kami, sebenarnya berkesan opensif-menyerang. Seperti, dua kubu yang saling berhadapan. Saling tunjuk muka, kami dan kamu. Situasi yang sangat mudah untuk di manipulasi pihak ketiga. Tragedi ’98, menjadi pelajaran pahit dalam sejarah asimilasi etnis di Kota Palembang. Semula hanya kisruh urusan politik dan ekonomi, di Ibu Kota. Tau – tau, jadi isu rasial dan penjarahan harta benda etnis Tionghoa di Kota Palembang.
Pembauran dan nasionalisme, tidak cukup hanya dalam wacana. Perlu aksi, untuk mewujudkanya. Kita tak mau, kembali ke titik nol. Masa di mana, kata pribumi dan non-pribumi di jadikan “genderang perang “ bagi kepentingan sekelompok orang  untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya.
Masa kolonial, Orde Lama ke Orde Baru sampai zaman reformasi. Istilah pribumi dan non-pribumi masih saja menjadi isu yang “enak” disajikan sebagai ‘pemanas suasana’. Kalau mau jujur, secara naluriah, manusia cendrung untuk berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang banyak persamaan dengannya. Persamaan itu, bisa dari agama, bahasa, budaya dan atau status sosial ekonomi. Dalam konteks kebangsaan, beragam etnis yang ada di Indonesia menjadi lahan subur tumbuhnya isu SARA.
Pemuda-pemudi, sekarang populer disebut generasi milenial masa depan Indonesia. Mereka, semakin jauh dari masa di mana sejarah Bangsa Indonesia bermula. Mengkondisikan, agar mereka merasa berakar di nusantara adalah penting. Membuat mereka merasa menjadi bagian “organik” dari Bangsa Indonesia adalah  krusial .
Kontribusi WNI keturunan, bagi kota Palembang sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Sejak awal Palembang berdiri, mereka sudah menjadi bagian penting. Berbagai ragam budi dan daya etnis pendatang, akhirnya menjadi khasnya Palembang. Empek–empek,yang menjadi Ikon Palembang adalah hasil kreatifitas WNI keturunan. Pakaian pengantin, tradisi makan bersama dalam dulang dan sederetan tradisi turuntemurun warga Palembang berasal dari alkuturasi  berbagai etnis.
Etnis-etnis di Palembang, ibarat kata benang warna-warni yang di tenun menjadi kain.Tetap dalam warna masing-masing, tetapi menyatu dalam harmoni pada selembar kain. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu jua adanya.
Merekatkan rasa persatuan dan kesatuan, tidak bisa pakai sim sala bim dan selesai dalam satu malam. Kerja besar ini, adalah tugas semua elemen bangsa. Pemuda-pemudi dari semua etnis, sama-sama harus menyadari kita dalam perahu yang sama. Bila perahu kebangsaan ini bocor, semua tenggelam .
Kalau saja tulisan saya ini dibaca oleh instansi-instansi penyelengara pemilihan putra-putria-an. Akan menjadi preseden baik bagi anak muda. Seandainya pemuda-pemudi WNI keturunan, diundang berpatisipasi dalam event tersebut. Membangun kesadaran, mereka bagian dari seluruh puta-putri Indonesia.
Mereka juga harus tahu, ragam budaya Sumatera Selatan. Selama ini banyak, yang menjadi  pemenang kontes putra-putri tidak asli etnis daerah tersebut. Lalu apa bedanya dengan pemuda-pemudi WNI keturunan? Mereka juga, warga Sumsel meski tidak asli etnis sini. Buatlah mereka bangga, menjadi Wong Palembang. Bangkitkan kesadaran, bahwa wong kamu dan wong kami sejatinya adalah wong kito galo. (*)

Baca Juga :  Terpasung dalam Terungku Kaum Penjarah

* Pemerhati masalah sosial, tinggal di Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!