Selamat dari Bom Bunuh Diri Ortu, Begini Kondisi Aisyah

AKBP Roni Faisal Saiful Faton saat menyelamatkan Aisyah dari ledakan bom di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5). foto: jawa pos

SURABAYA – Bom bunuh diri yang dilakukan keluarga Tri Murtiono (50) dan Tri Ernawati di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5), ternyata tidak ikut menewaskan anaknya, Aisyah Azzahra (8). Bocah tak berdosa itu selamat dan dalam perawatan meski sempat terpental tiga meter akibat ledakan bom.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menyatakan sudah melakukan serangkaian observasi kejiwaan terhadap Aisyah dan dia sudah mulai bisa menggambar.

Tim ahli dari RS Bhayangkara Polda Jatim meminta Aisyah menggambar sejumlah benda. Gambar-gambar tersebut rupanya merupakan rangkaian tes psikologi untuk Aisyah. “Dia sudah bisa menggambar, ini rangkaian tes juga,” ucapnya.

Hasil kreasi bocah yang akrab disapa Ais itu bakal langsung dianalisis oleh tim dokter yang berisi para psikolog dan psikiater. Dia menyebut kondisi Ais sudah mengalami kemajuan.

Bocah berusia 8 tahun itu sudah mulai bisa menerima kunjungan dari para dokter yang menanganinya. Hanya saja dia masih memilih orang yang dianggapnya nyaman untuk berkomunikasi.

Orang yang dipilih Ais untuk berkomunikasi, lanjut Susanto, adalah seorang perawat perempuan. Oleh karena itu, dia tidak memaksakan diri untuk mengajak Ais berbicara.

Susanto lantas mencoba berkomunikasi dengan anak terduga teroris lainnya. Seperti Ainur Rahman dan Garida Huda Akbar. Mereka merupakan anak dari terduga pelaku Anton Febrianto yang tewas di Rusun Wonocolo, Taman.

Baca Juga :  Tangan Kanan Baghdadi Tewas Dihajar Bom Udara

Ternyata, ada pola tertentu yang digunakan untuk berkomunikasi dengan para anak terduga pelaku itu. Anak laki-laki merasa nyaman berkomunikasi dengan perawat atau tim ahli laki-laki. Begitu juga dengan yang perempuan. Mereka lebih memilih orang bergender sejenis yang dianggap nyaman.

Susanto mengecam tindakan pengasuhan yang salah oleh para orang tua anak tersebut. “Ini kejahatan yang serius,” cetusnya. Dia meminta penanganan terhadap ketujuh anak terduga pelaku itu bisa komprehensif dan berkelanjutan. “Ujungnya, jangan sampai dia jatuh ke tangan yang salah,” tandasnya. (mir/dom)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!