Sepuluh Layanan Baru untuk Jemaah Haji

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto: JPG

JAKARTA – Selalu ada yang baru soal layanan haji. Tahun ini, ada sepuluh layanan baru yang bisa dinikmati para jemaah haji Indonesia.
Sepuluh layanan baru itu menjadi salah satu tema yang dibahas dalam rapat evaluasi Kementerian Agama (Kemenag) di Kantor Daerah Kerja (Daker) Mekah, Selasa (12/6). Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.
Menag memaparkan, inovasi pertama, rekam biometriks jemaah bisa dilakukan di semua embarkasi haji di Indonesia. “Inovasi itu akan memotong antrean dan masa tunggu saat pemeriksaan imigrasi jemaah di Bandara Medinah maupun Jeddah,” jelas Menag.
Antrean yang semula bisa 4-5 jam bakal terpangkas menjadi hanya sekitar satu jam. Inovasi kedua, QR Code pada gelang jemaah. QR Code tersebut berisi rekam data identitas jemaah yang dapat diakses melalui aplikasi Haji Pintar. Ini akan memudahkan petugas haji dalam mengidentifikasi dan membantu jemaah yang membutuhkan pertolongan.
Ketiga, sistem sewa akomodasi satu musim penuh di Medinah. Selama ini, sistem sewa seperti itu hanya diterapkan di Mekah. Di Medinah, sewa akomodasi dilakukan secara blocking time. Mulai tahun ini, sebanyak 52,02 persen jemaah akan ditempatkan di 32 hotel yang disewa satu musim penuh. Artinya, hotel menjadi hak jemaah Indonesia secara penuh, tidak dibagi dengan negara lain. Dengan begitu, pemindahan jemaah dari Medinah ke Mekah atau sebaliknya dapat dilakukan dengan nyaman. “Tidak perlu lagi khawatir dengan masalah batas waktu tinggal di hotel seperti pada sistem blocking time,” tutur Menag.
Keempat, penggunaan bumbu masakan dan juru masak (chef) asal Indonesia. Kemenag meminta seluruh perusahaan katering untuk menggunakan bumbu asli dari Indonesia. Selain untuk menjaga cita rasa khas kuliner Indonesia, hal itu juga untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke luar negeri. Selama ini, bumbu masak di Saudi didominasi dari negara lain. “Kami juga wajibkan penyedia katering untuk memperkerjakan juru masak asli Indonesia,” tegasnya.
Kelima, layanan katering selama di Mekah ditambah. Sebelumnya hanya 25 kali, tahun ini menjadi 40 kali. Ada juga penambahan kelengkapan minuman dan makanan berupa teh, gula, kopi, saos sambel, kecap, dan satu potong roti untuk setiap jemaah. Meski ada tambahan konsumsi, dana living cost sebesar SAR 1.500 tetap diberikan penuh seperti biasa. “Jemaah haji yang diberangkatkan pagi dari hotel di Mekah pada 8 Zulhijah atau fase puncak haji, akan mendapat tambahan makan siang di Arafah,” jelas Menag.
Inovasi keenam, penandaan khusus pada paspor dan koper serta penggunaan tas kabin. Untuk memudahkan pengelompokkan, paspor dan koper jemaah tahun ini diberi tanda warna khusus per rombongan di setiap kloter. Tanda warna ini juga sekaligus menunjukkan sektor atau wilayah hotel dan nomor hotel tempat tinggal jemaah. Inovasi ini untuk mempermudah identifikasi paspor dan menghindari tertukarnya koper jemaah. Apalagi, tahun ini layanan hotel juga ditambah dengan jasa angkut sehingga jemaah tidak perlu lagi membawa koper hingga sampai pintu kamar.
Sebelumnya, koper jemaah sering bercampur karena sulit diidentifikasi. Apalagi, banyak jemaah yang membawa kopernya sendiri ke kamar. Tahun ini, tas kabin jemaah juga diubah dari sebelumnya berbentuk tas jinjing menjadi tas beroda.
Inovasi ketujuh, pengalihan porsi bagi jemaah wafat kepada ahli waris. Tahun ini kemenag telah mengeluarkan regulasi baru bahwa jemaah wafat boleh digantikan ahli waris. Syaratnya, jemaah tersebut wafat setelah ditetapkan sebagai jemaah berhak lunas pada tahun berjalan. Untuk tahun ini, mereka adalah jemaah yang wafat setelah 16 Maret 2018.
Pencetakan visa yang saat ini bisa dilakukan oleh Kemenag menjadi inovasi kedelapan. Inovasi ini sangat signifikan untuk mempercepat penyiapan dokumen keberangkatan. Kesembilan, tahun ini kemenag menempatkan satu konsultan di tiap sektor. Selama ini, konsultan ibadah hanya ada di kantor Daker Mekah. Konsultan ini diharapkan bisa bersinergi dengan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) yang ada di tiap kloter.
Terakhir atau inovasi kesepuluh, Kemenag membentuk Tim Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH). Tim ini terdiri atas petugas layanan umum yang memiliki kemampuan medis. Tim ini disiapkan untuk mendukung layanan kesehatan pada puncak haji, utamanya pada hari pertama lontar jumrah. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, banyak jemaah yang membutuhkan pertolongan kesehatan di areal Jamarat menuju Mina. “Sepuluh inovasi ini merupakan upaya pemerintah untuk terus meningkatkan pelayanan. Harapannya, jemaah bisa beribadah dengan tenang, memperoleh kemabruran, serta kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat,” ucap Menag. (oni/ttg/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!