Seribu Pengungsi BAB di Sekitar Tenda

Para pengungsi di Dusun Papak Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara tinggal di tenda pengungsian, Jumat (10/8). Setelah beberapa hari di pengungsian warga mulai diserang penyakit. Foto: JPG

MATARAM – Bau menyengat bercampur pesing tercium beberapa meter dari tenda pengungsian Dusun Papak, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, NTB. Lokasi pengungsian itu dikelilingi sawah hijau yang ditanami kacang tanah, tambakau dan jagung. Tapi semakin mendekati area sawah, bau menyengat makin menyiksa penciuman.
Warga yang tidur di bawah tenda pengungsian kini semakin akrab dengan bau itu. Meski cukup mengganggu, tapi mereka sudah sama-sama maklum. Itu adalah bau tinja yang mereka buang sendiri. Di pengungsian itu, tidak kurang 1.500 jiwa hidup berdesak-desakan di bawah terpal.
Jika ingin buang air besar (BAB) mereka terpaksa lari ke sawah atau semak-semak di sekitar pengungsian. ”Kalau perut sudah sakit (kebelet) kami lari ke kebun seberang sawah sambil bawa air, tapi kadang lupa bawa air,” tutur Inaq Marisah (45), sambil tertawa karena merasa malu.
Para pengungsi mengaku tidak ada pilihan lain. Mereka terpaksa BAB sembarangan karena tidak tersedia MCK. Karena itu, para pengungsi sangat takut bila sedang sakit perut, terutama pengungsi perempuan sangat malu bila diketahui sedang BAB. ”Mau kemana lagi (buang air) hanya di situ,” katanya sambil menunjuk hamparan sawah yang dipenuhi tembakau.
Perlilaku itu pun kadang menjadi bahan guyonan mereka untuk menghilangkan rasa stres. Tembakau-tembakau yang ditanam saat ini nanti rasanya akan lebih enak dengan aroma khas.
Kondisi itu semakin lama membuat warga tidak betah tinggal di pengungsian. Tapi apa daya, rumah mereka sudah hancur diguncang gempa 7,0 SR, hari Minggu (5/8) lalu. Tidak mungkin mereka balik saat ini karena gempa masih terus terjadi, warga pun masih trauma.
Di bagian lain, gempa susulan di Lombok masih terus berlangsung. Hingga kemarin (10/8) pukul 17.00 WITA, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 469 gempa susulan.
Sementara itu, jumlah korban terus meningkat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 321 orang meninggal dunia. Pertambahan jumlah korban ini adalah yang berhasil dievakuasi dan tambahan data dari Pemprov NTB.
Jumlah korban meninggal terbanyak dari Kabupaten Lombok Utara, yakni 273 orang. Lalu Lombok Barat 26 orang, Lombok Timur 11, Kota Mataram 7, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang.
Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan hingga saat ini verifikasi jumlah korban masih terus dilakukan. “Jadi jumlah korban meninggal dunia sebenarnya lebih dari 321 orang,” katanya kemarin.
Pengungsi dilaporkan telah mencapai 270.168 jiwa yang tersebar di ribuan titik. Jumlah pengungsi kata Sutopo juga diperkirakan bertambah mengingat belum semua terdata dengan baik.
Di beberapa tempat dilaporkan masih terdapat pengungsi yang belum menerima bantuan terutama di Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Pemenang yang berada di bukit-bukit dan desa terpencil.
Data sementara, kerusakan rumah telah mencapai 67.875 unit. Sutopo mengatakan, pendataan masih dilakukan. Dari hasil analisis citra satelit terlihat kerusakan bangunan masif terjadi di Kabupaten Lombok Utara. ”Hampir 75 persen permukiman hancur dan rusak,” jelasnya.
Sutopo memperkirakan, kerusakan ini disebabkan karena Lombok Utara berada paling dekat dengan pusat gempa dan menerima guncangan gempa dengan intensitas VII MMI (Modified Mercalli Intensity). ”Rumah dengan konstruksi yang kurang memenuhi standar rumah tahan gempa tidak akan mampu menahan guncangan keras sehingga roboh,” kata Sutopo.
Kerugian dan kerusakan akibat gempa 6,4 SR dan 7 SR di NTB dan Bali diperkirakan lebih dari Rp2 triliun. Kerugian dan kerusakan ini meliputi sektor permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial budaya dan lintas sektor. ”BNPB masih melakukan hitung cepat untuk menghitung kerugian ekonomi,” pungkas Sutopo.
Di Jakarta, pemerintah akhirnya menyepakati besaran bantuan rehabilitasi rumah yang dialami korban gempa Lombok dalam Rapat Terbatas (Ratas) di Istana Kepresidenan Jakarta, kemarin (10/8). Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan, nantinya besaran bantuan akan ditetapkan menjadi tiga kategori.
Untuk rumah dengan kerusakan berat, lanjut basuki, pemerintah akan memberikan bantuan masing-masing Rp50 juta. Sementara untuk sedang Rp20 juta dan ringan sebesar Rp10 juta.
Berdasarkan hasil inventarisir pemerintah setempat, jumlah kerusakan rumah mencapai 22.721 unit. Di mana kerusakan ringan sebanyak 12.278 rumah, sedang 723 rumah, dan berat 9.220 rumah. “Berat berarti sudah ambrol semua, kalau ringan mungkin masih berani orang tinggal. Tapi kalau sedang sudah tidak berani tinggal di rumah,” ujarnya.
Basuki menuturkan, bagi rumah yang akan diperbaiki, konstruksinya harus sesuai yang ditetapkan Kementerian PUPR. Di mana desainnya harus tahan gempa. “Itu harus, kalau enggak itu mengulangi kesalahan yang lalu dengan konstruksi yang tidak tahan gempa,” imbuhnya.
Terkait ketersediaan dana, Sekretaris Utama BNPB Dody Ruswandi memastikan cukup. Tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran mencapai Rp4 triliun. Meskipun tidak semuanya untuk Lombok, namun penggunaan bisa menyesuaikan. “Anytime ada, menteri keuangan siap,” ujarnya.
Sementara itu, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, hingga saat ini, dana tanggap bencana yang sudah digunakan untuk Lombok mencapai Rp35 Miliar. Jumlah itu masih kecil karena baru dikeluarkan untuk support makanan, minuman, pengobatan, hingga hal-hal yang sifatnya emergency. Jika sudah digunakan untuk infrastruktur, maka dipastikan akan jauh lebih besar. “Jadi tinggal nunggu BNPB saja,” tuturnya.
Sementara itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menggulirkan bantuan sebesar Rp226.426.359.000. Total dana tersebut dikumpulkan dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2018 dan bantuan solidaritas pegawai Kemendikbud.
”Bantuan ini kita harapkan dapat segera digunakan untuk rehabilitasi fasilitas pendidikan dan situs cagar budaya yang terdampak gempa. Juga untuk penanganan psikososial para siswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan pemelihara cagar budaya yang menjadi korban,” kata Sekretaris Jenderal, Didik Suhardi.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 9 Agustus, total satuan pendidikan yang rusak mencapai 539 sekolah. Kerusakan tersebar di wilayah Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, Mataram, dan Sumbawa. Dengan kerusakan ruang kelas terparah berada di wilayah Lombok Utara sebanyak 654 ruang kelas.
”Sampai saat ini terdapat 61 tenda yang disiapkan untuk menjadi tempat belajar sementara para siswa. Dan 18 tenda sudah siap didirikan,” tambah Minhajul Ngabidin, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) NTB .
Pria yang ditunjuk sebagai Pos Pendidikan Gempa Lombok Kemendikbud melaporkan bahwa saat ini fokus pos pendidikan pada penanganan psikososial anak, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan.
Pos Pendidikan juga melakukan pendirian ruang kelas sementara serta kampanye kembali belajar di sekolah. ”Sampai saat ini pos pendidikan telah menyalurkan 63 paket sekolah, 60 paket rekreasi, 10 paket alat permainan edukatif (APE) untuk PAUD, paket buku cerita dan Alquran, serta 1.000 paket seragam sekolah,” ujarnya. (tau/far/lyn/air)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!