Skill Abad 21 dan Peran Guru

Didiklah anakmu karena dia akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman,” (Al-Hadits). Demikianlah ungkapan Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) tentang pentingnya pendidikan antisipatif bagi anak-anak generasi penerus kita. Sabda Nabi ini sampai kini masih relevan. Karena faktanya setiap generasi memiliki zamannya sendiri dengan situasi dan tantangan berbeda. Karena itu, desain pendidikan sedikit-banyak harus menyesuaikan diri dengan zamannya.
Pada abad ke-21 ini telah terjadi berbagai perubahan signifikan sangat akseleratif. Munculnya revolusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), misalnya, telah menghasilkan inovasi yang inovatif maupun disruptif. Inovasi disruptif adalah inovasi yang secara evolutif maupun revolutif menggantikan kebiasaan lama dan bahkan menghancurkan lembaga yang sudah mapan. Di bidang ekonomi, misalnya, perusahaan atau industri yang berbasis teknologi lama yang sudah out of date digilas oleh inovasi baru yang sangat revolusioner. Perubahan yang revolusioner ini memaksa dunia pendidikan untuk beradaptasi dan mengantisipasinya. Lembaga pendidikan “zaman now” dituntut tidak hanya menghasilkan peserta didik dan alumni pendidikan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis tapi juga berbagai keahlian lain termasuk literasi dalam bidang TIK, soft skill, dan apa yang disebut dengan “skill abad ke-21”.

Skill Abad Ke-21
Untuk dapat survive dan sukses, seorang alumni pendidikan di era milenial ini juga perlu dibekali sejumlah skill yang relevan dengan kebutuhan manusia di abad ke-21. Keahlian atau skill dimaksud yaitu: pertama, keterampilan cara berpikir (way of thinking) yang baru, yaitu kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan membuat keputusan, dan kemampuan belajar. Kedua, keterampilan cara bekerja (way of working). Yakni kemampuan berkomunikasi dengan baik dan kemampuan berkolaborasi.
Ketiga, keterampilan menggunakan sarana untuk bekerja. Yaitu penguasaan terhadap TIK dan literasi informasi. Keterampilan ini bersifat teknis. Tapi sangat penting dikuasai karena ia adalah alat (tools) dalam meningkatkan kinerja dan produktifitas. Keempat, keterampilan untuk hidup di dunia. Yakni kemampuan untuk menjadi warga negara yang baik atau warga dunia yang baik, kemampuan dalam kehidupan dan karir, dan kemampuan menjadi pribadi yang bertanggung jawab secara personal maupun sosial.
Tulisan ini akan mengeksplorasi keterampilan abad ke-21 pada empat aspek saja dari empat kategori di atas, disingkat 4K: keterampilan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, keterampilan berpikir kreatif dan inovatif, keterampilan komunikasi, dan keterampilan kolaborasi.
Keterampilan berpikir kritis penting dimiliki oleh peserta didik. Selama ini pendidikan hanya mendorong siswa untuk terampil dalam berpikir logis, yaitu membuat kesimpulan yang benar secara induktif maupun deduktif (kemampuan berpikir ilmiah). Tapi kemampuan berpikir kritis juga harus disertai kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving). Peserta didik perlu dilatih memahami secara kritis akar permasalahan dari suatu fenomena. Kemudian, memberikan berbagai alternatif solusi untuk mengatasinya. Jika ia terlatih menyelesaikan masalah, dalam kehidupan nyata kelak ia akan lebih survive, bermental tangguh, dan tidak cepat menyerah.
Selanjutnya, perlu dilatih untuk terampil berpikir kreatif dan inovatif. Yakni kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru, cara-cara baru, temuan-temuan baru yang lebih baik dari sebelumnya. Keterampilan selanjutnya yang juga penting adalah kemampuan berkomunikasi dengan baik. Keterampilan berkomunikasi adalah salah satu kunci kesuksesan karir dan kehidupan soaial seseorang. Sebaliknya, seseorang yang tidak terampil berkomunikasi seringkali gagal dalam karir maupun kehidupan sosialnya.
Kemampuan berkolaborasi yaitu memerlukan kerjasama dengan orang lain. Dalam bisnis misalnya pengembangan sayap bisnis dapat dilakukan dengan cepat justru setelah pemilik bisnis berkolaborasi dengan banyak pihak.

Peran Guru Abad Ke-21
Jika kita menginginkan peserta didik kita mampu berkompetisi di abad ke-21 maka sudah saatnya pendidik di berbagai jenjang pendidikan khususnya di perguruan tinggi membekali peserta didik dengan berbagai skill Abad ke-21 tersebut. Untuk itu para pendidik perlu mengubah paradigma pembelajaran yang ada selama ini. dari pembelajaran yang terarah kepada guru menjadi pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik; dari pembelajaran langsung menjadi pembelajaran kolaboratif yang mendorong peserta didik bekerja sama sebagai sebuah tim; dari pembelajaran yang hanya mengetahui menjadi pembelajaran yang berorientasi kepada skill atau keterampilan; dari pembelajaran yang berorientasi kepada isi menjadi pembelajaran yang mementingkan proses; dari pembelajaran teoritis kepada pembelajaran yang praktis; dari pembelajaran berbasis kurikulum menjadi life skill; dari pembelajaran bersifat individual menjadi pembelajaran yang bersifat kelompok; dari pembelajaran yang berpusat di ruang kelas menjadi pembelajaran yang berpusat kepada masyarakat; dari pembelajaran untuk sekolah menjadi pembelajaran untuk kehidupan; dari penilaian sumatif menjadi evaluasitif-formatif; dan dari penguasaan keterampilan dasar menjadi keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Dengan perubahan paradigma semacam ini maka seorang guru dituntut untuk membuat konten atau kurikulum yang match dengan kehidupan siswa; membawa isi dunia ke dalam ruang-ruang kelas dan sebaliknya mengajak siswa keluar kelas menuju dunia kehidupan; menciptakan peluang-peluang bagi siswa untuk berinteraksi satu sama lain bersama para guru dan orang dewasa yang berpengetahuan dalam suatu situasi belajar yang otentik.
Pada sisi lain guru juga dituntut untuk melek teknologi khususnya teknologi informasi komunikasi. Sudah saatnya para guru kenal dan mampu menggunakan whiteboard interaktif, kamera, tablet, dan internet dalam pembelajaran. Guru juga perlu memperkenalkan siswanya kepada sumber belajar yang berbasis internet dan pembelajaran secara virtual dan daring (online). Ini tentu bukan sekedar mengikuti trend tetapi karena memang sudah menjadi kebutuhan di era abad ke-21 saat ini. Sepintas seolah-olah guru menjadi lebih banyak tugas tambahan, tetapi sesungguhnya kemampuan ini bisa dipelajari dengan cara yang cukup mudah. Ketika kompetensi sudah dikuasai tools ini akan sangat memudahkan guru dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang pendidik. Semoga para guru Indonesia memiliki motivasi yang kuat untuk maju dan memajukan pendidikan Indonesia, sebab pendidikan yang maju adalah pilar penting kemajuan bangsa. (**)

Oleh: Ismail Sukardi
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!