Social Hacking Berlangsung 10 Tahun

PRAKTIK tipu sana sini via handphone oleh warga Tulung Selapan ternyata sudah berlangsung hampir sepuluh tahun terakhir. Bahkan penipuan ini sudah jadi rahasia umum antar warga. Hanya saja dalam menjalankan aksi-nya, oknum atau kelompok pelaku tetap sembunyi-sembunyi. Penelusuran Sumatera Ekspres, Minggu (30/3), desa-desa di Kecamatan Tulung Selapan berlangsung seperti desa pada umumnya.
Demikian juga Desa Lebung Gajah, Kecamatan Tulung Selapan, tempat AZ, pelaku pembobol rekening anggota Bawaslu ditangkap Penyidik Sub Direktorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro. Saat Sumatera Ekspres melakukan penelusuran ke desa tersebut, akses jalan desa cukup sulit. Jalan berlubang dan jalan tanah sempat menyulitkan mobil koran ini untuk melintas.
Tapi sebelum sampai ke Desa Lebung Gajah, pengendara akan melewati Desa Tulung Seluang terlebih dahulu. Untuk menuju ke desa itu, jaraknya sekitar 4 km. Desa ini dikelilingi kebun dan hutan, dan Lebung Gajah adalah desa paling ujung. Setelah masuk kedua desa, koran ini melihat sejumlah aktivitas warga di rumahnya. Tidak ada yang aneh. Tidak ada warga desa yang memain-mainkan HP-nya.
Camat Tulung Selapan, Djamil Djauhari menjelaskan secara keseluruhan 90 persen warga Tulung Selapan itu petani karet. “Dulu banyak ‘main’ kayu, sekarang kayu sudah habis jadi mereka nanam karet. Banyak juga warga Tulung Selapan yang merantau ke luar kota, seperti Jakarta, Medan, Batam, bahkan sampai Papua,” ujarnya.
Meski bermata pencaharian karet, Djamil tak menampik, beberapa oknum warga juga melakukan praktik tipu sana sini. “Ini sudah bergulir sejak lama, mungkin hampir sepuluh tahun sejak HP ini berkembang, dari HP jadul hingga smartphone seperti sekarang ini,” jelasnya. Dia sendiri tak tahu persis, ilmu menipu itu awalnya didapat darimana.
“Mungkin belajar otodidak. Kemudian saling ajari,” imbuhnya. Tapi Djamil memastikan, individu atau kelompok pelaku penipuan ini hanya ada di desa tertentu saja. “Kalau tiap desa (ada pelaku, red) tidak juga,” jelasnya. Djamil sendiri tak bisa menyebut rinci dimana saja desa terindikasi yang menyebar oknum pelaku.
Saat ini Kecamatan Tulung Selapan, memiliki 22 desa dan 1 kelurahan dengan penduduk hampir 20 ribu jiwa. “Kalau penduduk Desa Lebung Gajah itu tidak sampai 3 ribu. Di sana juga rata-rata petani karet dan pedagang,” imbuhnya. Kalau daerah Pantai Timur banyak warga jadi nelayan dan bikin terasi. Pendapatan perkapita warga cukup tinggi bisa mencapai Rp1 juta sebulan.
Menurut Djamil, memang rata-rata oknum pelaku itu remaja atau pemuda, ada juga orang dewasa dan kebanyakan tidak tamat sekolah. “Tapi praktik ini terselubung, kita juga sulit menuduh mereka, apa pelaku penipuan atau bukan. Ya kadang ada saja remaja putra putri duduk-duduk di bawah pohon sambil main-mainkan HP,” tuturnya. Djamil memastikan pelaku tipusani ini bukan sindikat, tapi masing-masing orang atau kelompok.
Sebenarnya, pihaknya sendiri sudah berupaya melakukan pencegahan aksi kriminalitas tersebut. “Kita sering sosialisasi lewat forum rakor bulanan kepala desa di masjid-masjid. Kita imbau supaya masyarakat jangan melakukan praktik penipuan atau kriminal lain,” imbuhnya. Tapi kalau sudah jadi ‘bisnis’ dan gaya hidup, kerjanya juga enak daripada nyadap karet, ini yang susah.
“Kita berupaya berdayakan pemuda lewat Karang Taruna. Tetapi tentu butuh kerja ekstra dan dana yang besar,” lanjutnya. Pihaknya sendiri tak bisa melakukan pendidikan karena itu wewenang Kepolisian. Kecamatan hanya mengarahkan dan membina saja, tapi polisi yang melakukan penindakan.
Terkait penyalahgunaan narkotika, kondisi saat ini darurat dan harus ada tindakan khusus. “Tak hanya di Tulung Selapan, tapi sabu ini mengancam banyak desa dan kecamatan,” bebernya. Desa jadi sasaran empuk pengedar, mungkin karena pengawasannya tidak terlalu ketat dibanding di kota.
Plt Bupati OKI, HM Rifai SE mengklaim tak mengetahui jika ada kelompok pelaku tipu sana sini di Tulung Selapan. “Saya tidak mendapat informasi seperti itu. Ya kalau memang ada kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait supaya bisa memberikan pembinaan keterampilan kepada para remaja atau pemuda Kecamatan Tulung Selapan,” ujarnya. Dengan harapan bisa berdampak positif dan oknum pelaku bisa berhenti melakukan penipuan via handphone.
Kapolres OKI, Ade Harianto MH, melalui Kabag Humas, Ipda Ilham Parlindungan mengklaim sampai saat ini belum ada tindakan kejahatan penipuan apapun oleh oknum warga Tulung Selapan. “Hingga saat ini kami belum pernah menerima laporan satu pun dari warga terkait kasus penipuan itu. Ya kalau ada warga melapor pasti langsung kami tindak,” tegasnya.
Hanya saja, Ilham tak menampik peredaran sabu-sabu di Tulung Selapan cukup rawan, sering sering kali disalahgunakan oleh oknum warga mengonsumsi barang terlarang itu karena motif tertentu. “Terbukti sudah beberapa kali kita melakukan penggerebekan penyelundupan dan pengedaran sabu-sabu di wilayah tersebut,” cetusnya.
Diakuinya, masing-masing Polsek sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menekan peredaran narkotika. “Berbagai cara kami lakukan untuk menangkap pelaku. Kami mengimbau masyarakat setempat, jika mendapatkan informasi peredaran narkotika, segera lapor. Identitas pelapor akan kami jaga kerahasiaannya,” pungkasnya.
Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Slamet Widodo mengklaim sejauh ini pihaknya belum mendapat laporan adanya oknum atau kelompok pelaku penipuan berkedok undian berhadiah di Tulung Selapan. “Kalau ada informasi dan laporan pasti kami akan melakukan penindakan, berkoordinasi dengan Polres setempat,” cetusnya.
Pengamat IT dari STMIK MDP, Eka Puji Widiyanto menjelaskan penipuan via SMS atau handphone itu modus lama, hanya teknik social hacking-nya saja yang berbeda. “Umumnya hacker itu ada teknis dan non teknis. Yang teknis itu biasanya menyerang sistem bank, sementara non teknis itu ya social hacking lebih tepatnya,” ujarnya. Jadi oknum pelaku bisa menelpon atau SMS untuk mendapatkan informasi data nasabah.
“Kalau data sudah dapat, nge-hack kartu kredit atau akun bank nasabah bersangkutan juga bisa,” sebutnya. Dia pun memastikan tidak ada hipnotis apapun, murni memperdayai nasabah. Eka pun tak menampik tak sulit mendapatkan informasi seseorang seperti NIK, dari data itu juga seringkali dimanfaatkan pelaku.
“Di-googling aja bisa dapat data NIK seabrek. Sistem informasi pemerintah yang umumnya tidak aman,” imbuhnya. Dari NIK bahkan bisa cek nomor HP juga dan beberapa provider memberikan link untuk itu.Selain itu, informasi nasabah juga bisa didapat dari akun personal nasabah itu sendiri seperti facebook, IG, twitter. “Ya kadang kalau pamer, ada nasabah yang segala print struk ATM atau kartu kredit dia foto. Jadi pelaku bisa tahu dengan mudahnya,” imbuhnya.
Dalam teknik social hacking, modus penipuan via phone itu umumnya mencatut nama bank lalu iming-iming nasabah hadiah dan memanfaatkan kepanikan baik menelpon langsung atau lewat SMS. “Umumnya yang pelaku meminta transfer rekening untuk biaya pajak hadiah, administrasi, biaya RS, dan lain-lain. Kalau tidak minta uang, pelaku minta nomor rekening, CVC/CVV, atau OTP. Ini tergolong modus baru kuras rekening nasabah,” bebernya. Tapi sebenarnya, OTP ini pengaman transaksi online nasabah via rekening, karena setiap transaksi OTP-nya berbeda-beda. Hanya saja, transaksi rekening nasabah itu ada saja yang tanpa limit (batas). (tim)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!