Sosok Penjaga Masjid

Sebagai tempat ibadah, masjid menjadi tempat yang harus dijaga. Generasi Z pernah dengar istilah marbot masjid sebelumnya? Yup, itu adalah sebuah profesi dimana seseorang bertanggung jawab untuk menjaga dan membersihkan masjid serta menjadi penanggungjawab atas segala ritual ibadah seperti adzan, menjadi imam cadangan, khatib cadangan dan segala tugas yang berkaitan dengan masjid lainnya. Tentunya, marbot masjid ini adalah profesi yang mulia, ya. Nah, untuk tahu lebih dalam keseruan menjadi marbot masjid, yuk intip pengalaman mahasiswa yang menjadi marbot masjid di bawah ini. Check it out! (edp)

//Dandi Wahyu Pratama
//Marbot Masjid Ar-Rahman
//Pekerjaan yang Produktif dan Mulia

Saat awal kuliah, Dandi yang berasal dari Batu Gajah, Muratara ini harus tinggal di Asrama Universitas Raden Fatah Palembang. Namun sejak 2017, Dandi memutuskan untuk mencari suasana baru, yakni dengan menjadi marbot di masjid Ar-Rahman yang berlokasi di Jalan Rimba Kemuning, RT 15A No 400 Lorong Serasen Sekate, Kelurahan Aryo Kemuning. Menjadi marbot masjid berarti mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah ini juga harus menjalankan kehidupan sehari-harinya di masjid. Berbagai macam tugas dia enyam. Termasuk diantaranya yaitu membersihkan masjid, adzan, menjadi imam ketika ustad nggak datang ke masjid, dan juga menjadi khatib dan bilal saat sholat jum’at.
Dandi menganggap, profesi marbot yang diambilnya ini sungguh berkesan buatnya. “Pengalaman sangat berkesan ketika menjadi marbot dimana saya merasa menemukan teman-teman dan keluarga baru. Masyarakat di sekitar masjid sudah seperti keluarga sendiri. Contohnya ketika momentum ramadan kemarin, saya banyak dikasih takjil, makanan, dan pas lebaran malah dikasih THR,” ucap cowok yang pernah menjuarai Debat Ekonomi, Sharia Economic Expo 2017 ini.
Menurut Dandi, menjadi seorang Marbot juga memberi keuntungan untuk dirinya sendiri dalam masalah finansial karena pihak masjid menyediakannya tempat tinggal sehingga dia nggak perlu mengeluarkan biaya kos yang cukup menguras isi kantong.Nggak hanya itu, kedisiplinannya pun terlatih karena menjadi seorang marbot. “Menjadi marbot itu juga melatih kedisplinan kita karena kita nggak mungkin oversleep atau kesiangan karena paginya harus sholat subuh,” lanjutnya.
Tapi, bekerja selagi menjadi mahasiswa tentu ada tantangannya. Dandi mengaku, padatnya tugas kuliah pernah membuatnya absen sholat di masjid. Terkadang juga dia merasa dilema. Contohnya seperti ketika temannya mengajaknya buka bersama di luar saat Ramadan kemarin. Salah satu Top 25 Duta Genre Sumsel 2018 ini merasa bingung karena sebetulnya dia ingin ikut buka bersama dengan teman-temannya, tapi di sisi lain, menjaga masjid sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang marbot.
Namun, apapun suka duka yang dihadapinya, cowok kelahiran tahun 1998 ini menganggap pekerjaan marbot adalah perkejaan yang sangat produktif dan sangat mulia. “Pemuda harus terpaku dengan masjid karena masjid adalah pusat untuk semua sumber kehidupan kita, misal kalau kita ingin tenang, kembali ke masjid. Kalau masa muda kita menghabiskan waktu di masjid maka ketika masa tua nanti kita akan menjadi orang-orang yang beruntung,” tutupnya.

//Aleng
//Marbot Masjid Jami’atul Islamiyah
//Dapat Pengalaman Baru
Pengalaman seru jadi marbot masjid kali ini datangnya dari Aleng, seorang mahasiswa di Universitas Raden Fatah Palembang. Sejak masuk kuliah tahun 2017, dia udah menjadi marbot di masjid Jami’atul Islamiyah yang bertempat di Jalan Letnan Hadin No.2050 Kecamatan Ilir Timur 1 Palembang.
“Awalnya bisa jadi marbot di masjid Jami’atul Islamiyah karena ada teman sedaerah saya yang lebih dulu menjadi marbot disini, tapi dia sudah lulus kuliah sekarang. Oleh sebab itu, untuk menggantikan posisinya, pengurus masjid meminta teman saya merekomendasikan satu nama. Lalu, terpilihlah saya,” tutur Mahasiswa Semester 3 Jurusan Hukum Ekonomi Syariah atau Muamalaah tersebut.
Tugas-tugas yang dijalankan Aleng sebagai marbot nggak berbeda dari tugas marbot pada umumnya. Dia mengurus segala tugas sederhana masjid bahkan seperti menghidupkan lampu dan mengontrol air ledeng. Berhubung di masjid Jami’atul Islamiyah terdapat tenda, Aleng juga membantu pemasangan tenda bila ada yang meninggal dunia dan acara lainnya.
Menurutnya pekerjaan yang dia lakukan ini sangat menguntungkan karena dia bisa meminimalisir keluarnya dana yang telah diberikan oleh orang tuanya. Lalu, dengan menjadi marbot, dia juga mempunyai pengalaman-pengalaman baru. “Pengalaman yang didapatkan selama menjadi marbot contohnya saja, saya yang sebelumnya nggak pernah menjadi MC, karena menjadi marbot di masjid ini, jadi dilatih untuk membawakan acara. Jadi, saya juga bisa mendapatkan ilmu disini,” ucapnya.

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!