Suhu Terendah di Ngadas Malang Sentuh 6° Celcius

INDAH: Landscape Ngadas, desa tertinggi di Kabupaten Malang yang mayoritas dihuni Suku Tengger. (Dok. Kades Ngadas for JawaPos.com)

Hawa dingin di Malang, Jawa Timur (Jatim), masih berlangsung. Di desa tertinggi di Kabupaten Malang, suhu terendah sampai 6 derajat celsius. Desa yang dimaksud adalah Ngadas, Kecamatan Poncokusumo.

Bahkan berdasarkan pengukuran suhu melalui aplikasi accu weather pada Sabtu (7/7) dini hari, suhu terendah di desa yang berada pada ketinggian 2.200 mdpl itu menyentuh angka 7° celsius.

Kepala Desa Ngadas Mujianto menjelaskan, suhu berkisar antara 6° celcius hingga 10° celcius jika malam hari. Pada siang hari, suhu maksimalnya hanya 19° celcius. “Lebih dingin dari biasanya,” kata Mujianto kepada JawaPos.com, Sabtu (7/7).

Ngadas memang selalu bersuhu dingin. Namun beberapa hari belakangan cuaca lebih dingin. Warga menghadapinya dengan beragam cara. Ada yang memakai jaket dan selimut berlapis, serta penutup kepala lengkap. Tujuannya untuk mengurangi rasa dingin.

Supaati, 48, warga asli Ngadas mengatakan, mereka sudah biasa dengan cuaca dingin. Sehingga tidak menghalangi aktifitas harian. Warga tetap menjalankan aktifitas seperti biasa. Misalnya, bertani atau menjadi local guide bagi wisatawan.

“Ya biasa saja, mbak. Juli hingga Agustus cuaca memang lebih dingin. Siang berangin dan dingin itu biasa. Kalau Januari hujan angin, kami sudah biasa. Ini saja saya sedang cuci piring,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Mul ini sambil tetap mencuci piring.

Bu Mul tidak mengenakan masker atau penutup telinga. Aktivitasnya dijalankan secara biasa. Hanya saja, tradisi berapi di dapur untuk menghangatkan badan tidak bisa dilepaskan. “Kalau api-api di dapur itu sudah tradisi. Setiap hari kami melakukannya,” tegas petani sayuran itu.

Wisatawan asal Malang, Aris Kus merasa beberapa hari cuaca dingin. Saat mengantarkan saudaranya hendak ke Gunung Semeru melalui Ngadas, dia merasa cuaca lebih dingin.

Untuk menangkal hawa dingin, dia mengenakan sarung tangan lengkap dengan penutup kepala dan telinga serta jaket tebal. Khusus untuk jaket, dia kenakan jaket dari bulu angsa.

“Hangat, kalau pakai lainnya kurang hangat. Penting, jangan pakai jeans biar nggak makin dingin. Ngobrol saja keluar asap, saking dinginnya. Hidung jadi berair dan napas lewat mulut lebih dingin memang,” tandas pegawai Pemkab Malang yang beberapa kali mengantarkan tamu untuk eksplore keindahan Kabupaten Malang itu. (tik/JPC)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!