Sumsel Siaga Ledakan Lansia

Oleh: Rika Yurista

SAAT ini beberapa provinsi di Indonesia termasuk Sumatera Selatan (Sumsel) telah menikmati fenomena Bonus Demografi, lebih tepat puncaknya di tahun 2020-2035. Bonus Demografi yang dimaksud yaitu Sumsel memiliki jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) dengan jumlah yang besar, yaitu sekitar 2/3 dari jumlah penduduk keseluruhan. Berdasarkan data proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penduduk usia produktif di tahun 2017 mencapai 67,10% akan meningkat di tahun 2020 sebesar 67,39%.
Sumsel sebenarnya sejak 2014 sampai dengan sekarang sudah menikmati Bonus Demografi dimana rasio ketergantungan penduduk (Dependency Ratio) dibawah 50% per 100 penduduk usia produktif. Dependency Ratio Sumsel yang semula 49,87 di tahun 2014 diproyeksikan akan menjadi 48,40 di tahun 2020 bahkan mencapai 45,30 ditahun 2035. Dengan memanfaatkan jumlah tenaga kerja produktif yang besar ini, Sumsel seharusnya mampu terus meningkatkan perekonomiannya.
Mengapa Ledakan Lansia Terjadi ?
Permasalahan baru kependudukan akan timbul pada saat Sumsel memasuki puncak tahun Bonus Demografi (2020-2035), usia penduduk muda akan semakin mengecil dan penduduk lansia akan semakin meningkat. Persentase penduduk lansia di tahun 2017 sebesar 7,47% dan akan meningkat menjadi 8,35% di tahun 2020 bahkan sampai 13,72% ditahun 2035.
Lansia menurut Undang-undang (UU) Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia adalah orang yang telah berusia 60 tahun ke atas. Lansia merupakan penduduk yang tidak berproduksi lagi namun masih tetap mengonsumsi. Kalau dilihat dari pola konsumsi makanan, lansia mungkin jauh lebih sedikit namun disaat mereka sudah menderita sakit maka biaya untuk mengurusi mereka jauh lebih mahal daripada mengurusi anak-anak atau penduduk muda. Selain itu, tanggungan penduduk usia produktif terhadap penduduk lansi akan menjadi lebih besar. Efek panjangnya adalah terjadi penurunan tingkat kesejahteraan penduduk.
Di era pemerintahan Presiden Jokowi, Program Keluarga Berencana saat ini mendapat perhatian kembali. Pencanangan Program Kampung KB diikuti 33 provinsi dan seluruh kabupaten/kota di Indonesia termasuk Sumsel. Di banyak daerah program KB telah berhasil menurunkan angka kelahiran. Ini berarti jika angka kelahiran bertahan di below replacement level, maka diperkirakan jumlah penduduk akan berkurang.
Selain angka kelahiran yang rendah, angka kematian pun menurun seiring modern dan meningkatnya fasilitas kesehatan. Angka harapan hidup di Sumsel tiap tahunnya semakin tinggi yaitu 68,34 tahun 2010 menjadi 69,16 tahun 2016 dan diperkirakan akan terus tinggi kedepannya (BPS). Ini menarik kesimpulan “penduduk yang lahir makin sedikit dan penduduk yang hidup pun akan bertahan hidup lebih lama”. Akibatnya, jumlah penduduk lansia di Sumsel meningkat dengan cepat dan akan meledak.
Permasalahan Population Ageing menjadi fenomena yang cukup besar diberbagai daerah bukan hanya di Sumsel saja. Disaat Sumsel mencapai puncak tahun Bonus Demografi 2020-2035, satu dari empat penduduk Sumsel merupakan penduduk lansia dan lebih mudah menemukan penduduk lansia dibandingkan penduduk usia muda (bayi/balita/anak-anak).
Sejauh ini pemerintah belum mampu memberi jaminan kesejahteraan bagi lansia. Sumsel pun sampai saat ini belum memenuhi kriteria kota ramah lansia. Sebuah kota didefinisikan ramah lansia jika memiliki banyak ruang publik yang dapat digunakan penduduk lansia untuk bersosialisasi serta tersedianya sistem transportasi dan pelayanan umum yang memperhatikan keterbatasan lansia.
Berkaca dari negara-negara maju, negara menjamin penduduk lansia memiliki tabungan di hari tua. Kondisi tersebut berbeda dengan negara berkembang seperti Indonesia terlebih lagi untuk Sumsel sendiri. Para pensiunan PNS masih memiliki pendapatan dari uang pensiun, namun hal ini tidak berlaku bagi lansia yang bekerja di sektor swasta atau sektor non-formal. Mereka tidak memiliki pendapatan tetap dan tidak ada yang menjamin finansial untuk hari tua mereka. Oleh karena itu sebagian lansia di Indonesia termasuk Sumsel masih tetap bekerja di usia tua untuk terus memperoleh pendapatan.
Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional 2016 menunjukkan persentase pekerja lansia yang bekerja kurang dari 15 jam seminggu adalah sebesar 6,27 persen. Sementara itu, lansia yang bekerja dengan jumlah jam kerja antara 15-34 jam seminggu sebesar 36,88 persen dan yang bekerja dengan jam kerja 35 jam dan lebih selama seminggu sebesar 56,86 persen. Hal ini dapat menjelaskan bahwa lansia di Sumsel masih bekerja penuh dan tidak sepenuhnya dikatakan benar jika lansia di Sumsel tidak produktif karena kenyataannya sebagian besar lansia tetap bekerja dan berjuang mencari kehidupan yang lebih baik dengan jam kerja normal.
Sudahkah pemerintah daerah di Sumsel menyusun strategi untuk mengelola penduduk usia tua dimasa mendatang? Diharapkan pemerintah “siaga” untuk memanfaatkan ledakan para lansia di tahun 2020-2035 agar kesejahteraan penduduk Sumsel terjamin. Sehingga, kedepannya tidak menjadi kekhawatiran bagi generasi muda sekarang untuk merasakan dampaknya pada masa yang akan datang, ketika mereka menjadi lansia. Generasi yang baru lahir pun tidak akan menderita dimasa akan datang karena mereka tidak harus menanggung beban berat karena meledaknya jumlah penduduk lansia. (*)

*Kasi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik Lahat

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!