Tabung Gas Suntikan Rentan Meledak

TERUNGKAP: Gudang pengoplosan gas yang diungkap Bareskrim Polri, kemarin (12/1). Foto: Muhammad Ali/Jawa Pos

JAKARTA— Pengungkapan mafia penyalahguna tabung gas tiga kilogram memberikan ancaman lain pada masyarakat. Yakni, potensi kebocoran pada tabung gas yang disuntik lebih tinggi. Dengan begitu juga lebih rentan untuk meledak saat digunakan.
Kasatgas Pangan Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan, teknik suntik sindikat Prenki ini manual, sebuah selang menghubungkan antara tabung gas tiga kilogram dengan tabung gas 12 kilogram dan 50 kilogram. ”Selang ini dipasangkan di katup tabung gas,” jelasnya.
Tabung gas 12 kilogram dan 50 kilogram ini lalu diletakkan di sebuah lubang yang berisi air. Tabung gas yang akan diisi diletakkan berjejer dengan setiap sisinya diberikan es batu. ”Air dan es ini berfungsi mendinginkan tabung gas 12 kg dan 50 kg,” ujarnya.
Karena sifat gas akan beralih dari ruang panas ke dingin, sindikat ini berharap gas mengalir ke tabung yang kosong. Butuh waktu sekitar 15 menit hingga 20 menit untuk memindahkan tiap gas di tabung tiga kilogram. ”Teknik semacam ini sangat tidak aman,” paparnya.
Menurutnya, dengan teknik semacam itu membuat karet sil tabung gas menjadi lebih longgar. Karena itu juga mudah membuat kebocoran. ”Apalagi sindikat ini memang tidak peduli dengan keamanan dari tabung gas suntikannya,” terangnya.
Untuk menghindari masyarakat membeli gas suntikan. Sebaiknya masyarakat membeli gas di agen yang resmi. Sehingga, benar-benar berasal dari PT Pertamina. ”Ini langkah awal,” tuturnya.
Selanjutnya, bila ada orang yang menawari tabung gas yang lebih murah dari pasaran, tentunya perlu dicurigai. Sebaiknya menghindari membeli gas 12 kilogram dan 50 kilogram yang lebih murah dari pasaran. ”Kalau sampai selisihnya lumayan bisa jadi itu suntikan,” paparnya.
Dia berharap bila masyarakat menemukan adanya gas 12 kilogram dan 50 kilogram yang jauh lebih murah, bisa melaporkan pada pihak berwajib. Dengan begitu petugas bisa melakukan pengecekan kemungkinan adanya sindikat yang lainnya.
”Kami ingin melindungi hak masyarakat untuk mendapatkan gas subsidi. Tentunya, masyarakat juga diharapkan bisa membantu,” terang Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Polri tersebut.
Sementara, Manager Region Communication & Relations Pertamina MOR II Sumbagsel, Hermansyah Y Nasroen mengatakan, sejauh ini Pertamina belum menerima laporan dari pengguna terkait tabung gas berbahaya tersebut. ‘Belum ada,” katanya semalam (12/1).
Meski begitu, dia mengingatkan agar masyarakat untuk menghindarinya. Caranya dengan melakukan pembelian di pangkalan resmi. “Pertamina sendiri melakukan pengawasan sampai ke pangkalan,” ungkp Hermansyah.
Dia juga meminta masyarakat yang mengetahuin praktek-praktek yang dicurigai atau ada penyimpangan terhadap distribusi dapat melaporkan ke kepolisian, pemerintah daerah, atau ke Pertamina,” pungkasnya. (idr/rip)

Baca Juga :  Mafia Sikat 150 Ribu Gas Subsidi

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!